"DO makan🍔"
Berawal dari beberapa orang yang perutnya mulai gelisah ketika jam dinding di ruang tunggu menunjukkan angka 10, terbentuklah sebuah grup di WhatsApp bernama "DO makan🍔". Alasannya apalagi kalau bukan untuk mempermudah, karena nggak mungkin juga ketika bertanya, "Gak enek sing pengen pesen Mbak Imas?" harus teriak-teriak atau lewat intercom (bisa-bisa kena omel pasien).
"Ayo DO Mbak Imas~"
"Tiara: pentol korea 1, es teh 1"
"Mbak sampean lagi ndek Semen kan? Titip pentol kemecer kalau ada"
"Siapa sing nitip batagor Plesungan?"
"Chickenmu sekarang wis iso DO ges"
*drg. Angel PKM sent a photo* (Foto brosur tempat njajan baru)
Kurang lebih demikian isi chat grup selama Senin-Sabtu dan mulai meredup di tahun 2023. Beberapa member (termasuk aku) sudah bukan lagi "warga sana". Grup pun sepi.
Dalam rangka mengingat momen mabar alias makan bareng, semenjak setahun yang lalu beberapa member berencana kumpul lagi tentunya dengan agenda utama adalah makan :). Setelah sekian ajakan, puluhan pertanyaan tentang waktu luang, dan beberapa kali wacana akhirnya terealisasi di tahun ini (terima kasih kepada pencetus budaya dan istilah bernama buber).
Sembari menunggu adzan Maghrib, kami isi dengan mengulang momen-momen lama, menanyakan beberapa hal seputar makanan seperti, "Eh Geprek Sai Plesungan wis tutup yo?" atau "Mas Jaka sik dodolan gak?", tentang progres kerjaan yang lebih baik di skip aja, rencana ke depan, ngegodain Aqilla sampai isin-isin, dsb.
Obrolan nggak berhenti selepas buka dan sholat, tapi kami lanjutkan dengan bahasan yang lebih dewasa (desain rumah, harga keramik yang ternyata mahal, momen persalinan, antara ASI atau sufor, angan-angan membuka cafe, dll). Obrolan itu tetap diselingi guyonan-guyonan garing bin receh. Diselingi tangisan Rendra yang makin malam makin ngantuk tentunya. Menemani Aqilla yang sibuk dengan proyeknya sebagai toddler. Dan ditemani rintik hujan di malam Minggu. Pertemuan malam itu bagiku cukup untuk modal bisa tidur nyenyak dan bermimpi indah.













