Halo sayangku, Haditya Zhulkarnain (:
Bagaimana kabarmu saat ini? Kuharap, kau baik-baik saja. Tidak. Aku yakin, kamu selalu baik-baik saja. Dalam setiap doaku seusai shalat, bahkan ketika aku mulai merindukanmu yang teramat sangat, aku selalu meminta kepada Allah agar kuburmu dilapangkan serta dijauhkan dari siksa kubur yang katanya sangat mengerikan itu. Jikalau kedua malaikat dalam kubur itu bertanya kepadamu, insyaAllah, dirimu akan bisa menjawabnya tanpa keraguan sedikitpun. Sehingga dirimu pun bisa tenang dan masuk ke dalam surga-Nya, dan mungkin kita akan berjumpa dan berkumpul lagi. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.
Belum sempat rasanya aku mengucapkan terimakasih padamu, yang telah lama berdiri menemaniku. Bahkan tak hanya berdiri, juga berteriak lantang untukku. Dan menurutku terimakasih memang tak akan pernah cukup, Dit.
Perih, pilu dan sakit yang kurasakan selama berada di kampus serta jurusan itu. Semua drama yang akhirnya pun belum tertebak jawabnya, masih teringat jelas dalam ingatanku. Pertemuan kita yang sepertinya memang telah digariskan itu, sering kali membuatku malu sendiri. Kita berjumpa dan berkenalan hanya karena kau diamanahi untuk mengantarku pulang ke asrama oleh teman-temanmu, lalu kau rela mengantar orang asing macam diriku. Entah apa jadinya diriku, jika tak berjumpa denganmu.
Kau selalu berpesan agar aku harus sesegera mungkin kuat dan tangguh. Apakah karena kau memang merasa tak bisa selalu menemaniku, kawan?
Kau selalu mengingatkanku untuk jangan terlalu memikirkan kata orang lain tentangku. Apakah karena kau merasa tak bisa lagi menjagaku bahkan menepis segala cibiran itu? Kau selalu memarahiku di saat aku mengulang hal yang nantinya pasti menyakiti diriku sendiri. Apakah karena kau merasa bahwa aku harus sesegera mungkin untuk mandiri?
Sejujurnya aku sempat marah kepada beberapa kawan kita, yang sengaja tak memberitahumu tentang kecelakaan yang menimpamu. Alasan mereka klise, takut aku panik yang berlebihan. Saat mendengar penjelasan dari mereka, serta detil tentang keadaan koma-mu, seluruh badan ini terasa begitu lemas. Bahkan untuk mengikuti kegiatan kerja praktik yang sedang kujalani saat itu, rasanya enggan. Air mata tak henti mengalir sederas-derasnya, saat itu yang bisa kulakukan hanya berdoa. Jika jarak tak membatasi, mungkin aku akan dengan ganasnya berusaha membangunkanmu, berteriak memanggilmu. Aku takut hingga fokusku pun mulai mengabur. Aku merasa belum siap saat itu.
Kejadian naas pun ikut menimpaku. Saat kerja praktik, aku tak bisa membawa ponsel ke dalam kilang. Sehingga berita mengenai kepergianmu kudapatkan setelah aku berada di parkiran motor. Ada puluhan sms serta LINE chat, yang isinya meminta maaf karena tak bisa menjagamu, Dit. Beberapa saat kemudian, aku menerima telpon dari mas Dono yang memang tau jadwal usainya kerja praktikku. Sekujur tubuhku kemudian merasa menggigil, aku merasa sakit yang amat sangat. Aang menyuruhku untuk istirahat sejenak, baru pulang ke rumah. Di jalan, aku malah oleng bersama motorku. Aku menangis dan semua yang melihatku pun heran. Aku tak terluka, tapi mengapa menangis sebegitunya. Sesampai di rumah dengan keadaan yang sangat terkejut itu, aku mencoba menenangkan diri. Karena diriku yang menyayangimu ini tak pernah sama sekali memilikimu. Hanya Allah SWT lah yang memilikimu, sehingga diriku pun juga tak mampu menolak hadirnya maut yang menjemputmu. Cukup lama bagiku untuk menata hati ini, berusaha untuk mengikhlaskan. Dimana kenyataannya memang sangat teramat sulit.
Namun aku bersyukur, Dit. Allah ternyata masih sangat sayang padaku. Seandainya saja aku masih berada di pulau Jawa, bagaimana jadinya diriku yang mungkin saat itu belum terbiasa dengan jarak. Bahkan kali ini jarak ragamu sudah cukup jauh dariku. Aku harus pulang ke Balikpapan, sedikit berjarak raga denganmu, mungkin agar aku tak begitu merasa ditinggalkan secara tiba-tiba. Terlebih, agar aku tak lagi manja dan bergantung padamu....juga dengan Mario.
EGP (Edan Gembel Pesut) atau Hadit-Mario-Ghina...akan selamanya bertiga. Selalu. Begitu kata Mbel, untuk menenangkanku. Kau selalu menemani kami, kan? Tak ada lagi jarak antara Jawa-Kalimantan. Kau kini dekat sekali, di hati kami. Beruntunglah dirimu memiliki sohib, para penulis. Kau akan hidup selamanya, dalam goresan tinta di setiap tulisan kami. Mbel bilang bahwa dia selalu memaafkan dan menyayangiku, engkau juga begitu kan? Walau tak jarang kau pura-pura jengah ketika kuucapkan kalimat kerinduan, di sela sesi curhat kita 1 tahun belakangan ini. Jarak antara Balikpapan-Surabaya membuatku jadi terlalu melankolis, karena tergantungnya diriku padamu.
Hampir 4 tahun mengenalmu, 3 tahun yang sangat luar biasa. Mulai dari antar-jemput, culik-menculik, nonton bareng di bioskop, makan mewah bertiga sampai uang bulananku habis, beli buku, nulis tumblr bareng, ke Bromo berdua, belajar bareng, sesi curhat dimana-mana, ngambek-marah, dan membuat aliansi Laskar Tamring. Kalau boleh aku membenci hal itu semua, aku akan melakukannya. Tetapi aku tak bisa, dan akhirnya aku malah semakin rindu dan sayang kepadamu.
Alhamdulillah, Ghina punya kabar baik untukmu. Akhirnya Ghina menyelesaikan Tugas Akhir-nya di kampus Institut Teknologi Kalimantan. Akan ada gelar S.T. yang tersemat di namaku. Sudah Ghina lewati satu tahap perjalanan studi dan perjalanan hidup ini. InsyaAllah, tak ada lagi keluh kesah mengenai pelik dunia perkuliahan. Tanggal 11 Maret 2017 ini, Ghina akan wisuda. Mungkin aku akan banyak menangis, Dit. Harapanku saat mengerjakan TA kemarin adalah ingin mengundangmu ke Balikpapan. Namun hanya mengajak Mario saja malah akan membuat aku banyak menangis. Sehingga kuurungkan niatku untuk mengundangnya.
Dan untuk berbagi kisah mengenai kehidupan dunia kerja pun, aku masih tak tau harus berbagi dengan siapa dimana kebiasaanku adalah bercerita padamu. Mungkin ada benar dan salahnya pernyataan Mario, kami kehilangan tempat untuk berbagi kisah. Tak hanya perkuliahan maupun pekerjaan, up and down-nya hidup beserta dengan kisah cinta maupun permasalahan pribadi. Namun terus-menerus bersedih atas kepergianmu mungkin akan memberatkanmu dan aku tak ingin menyusahkanmu lagi.
Bismillah. Doakan dan temani aku ya, Edan. Agar aku bisa benar-benar jadi pribadi yang lebih baik secara bertahap.
Sejujurnya aku selalu menikmati setiap detik dalam percakapan via telepon, setiap frame dalam perbincangan via video call, bahkan setiap kata dalam obrolan di chat denganmu.
NB : Terima kasih atas goresan tintamu @wayangedan, dalam kehidupanku dan kehidupan semua orang yang menyayangimu. Kebanyakan manusia enggan untuk mati, padahal mereka sendiri berani untuk hidup.
Balikpapan, 5 Februari 2017
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu, Haditya Zhulkarnain❤
19 Oktober 1993 - 8 Juni 2016
-PESUT kesayanganmu @topenggajah
(sahabat dan saudarimu yang tak pernah berhenti menyayangimu)