Aku masih memikirkan cara yang sopan untuk membalas email pembimbing skripsiku. Di satu sisi, aku ingin bersikap hormat dan tenang. Namun, hati ini bergejolak, rasanya ingin melampiaskan kekesalan. Kenapa sulit sekali mendapatkan persetujuan untuk wisuda? Bukankah semua syarat sudah terpenuhi?
Kekhawatiran terus mengusik pikiranku. Aku takut harus menambah satu semester lagi. Semester kesembilan, terasa seperti mimpi buruk yang tak ingin kualami. Lebih dari itu, bayangan wajah Mama menghantuiku. Aku khawatir beliau akan merasa kecewa dan marah, lalu menganggap aku hanya bermain-main.
Tiba-tiba, teriakan "Kebakaran!" menggema di luar. Aku tersentak dan segera keluar rumah. Api sudah meluas, dan sebelum aku menyadari sepenuhnya, aku terjebak dalam kobaran itu. Asap pekat mengepul, menyesakkan paru-paruku. Napasku berat, dan panik mulai merayap.
Sebelumnya, aku takut tidak lulus tepat waktu. Kini, dalam keadaan darurat ini, ketakutanku beralih, aku lebih takut mati sia-sia. Bayangan Mama melintas di pikiranku, membayangkan dirinya menerima kabar buruk tentang anaknya yang terjebak dalam api. Air mata menggenang, tapi aku tidak punya waktu untuk mendramatisir situasi ini.
"Tolong!" seruku, meski suaraku hampir tak terdengar. Aku meraba-raba dalam kepulan asap dan panas yang membakar kulitku. Setiap langkah terasa seperti perjuangan. Dalam kekacauan ini, aku tersadar, semua ketakutan telat dalam menyelesaikan kuliah tidak ada artinya dibandingkan dengan hidupku yang kini terancam.
Aku harus keluar dari sini. Aku harus hidup.
Aku terbangun, napasku masih tersengal-sengal. Air mata membanjiri wajahku saat menyadari itu semua hanyalah mimpi. Tapi, saat mataku tertuju pada layar ponsel, kenyataan menghantamku lebih keras. Email dari pembimbing yang kuterima sebelum tertidur masih terpampang jelas, aku tidak bisa wisuda di semester kedelapan.
Air mataku kembali mengalir. Aku kaget dan lega karena itu hanya mimpi, namun tambahan satu semester adalah nyata.
Tujuh tahun berlalu, tetapi ingatan tentang hal itu tetap tertinggal, selalu membawaku kembali ke rasa kecewa.
Tidurku sering ditemani tentang kekhawatiran, kobaran api, dan napas yang sesak. Mungkin ini bisa menjadi pengingat bahwa hidup penuh dengan ketidakpastian sehingga mendorong diri untuk siap menghadapi situasi yang terduga serta mau untuk mencari cara dalam mengatasi tekanan hidup.