Hal yang Tak Kau Pesan Lewat DOA #6
“Saat kita ingin memulai sesuatu, berdoalah kepada Sang Maha Kuasa agar diberi kemudahan dan keberkahan. Jika tak bertumpu pada pertolonganNYA, akan terasa berat untuk dijalani”
Arisan keluarga di rumah Re tampak Riuh. Hampir seluruh keluarga besar dari Mama Re berkumpul di ruang tengah. Keluarga dari Mama Re sering bertemu, entah untuk arisan keluarga ataupun jalan-jalan. Arisan kali ini, bukan sekedar acara kumpul keluarga semata tapi ada arisan uang yang jumlahnya disepakati bersama. Tampak dua orang tante Re yang bercengkrama membahas topik tentang fashion terbaru, suami dari salah satu teman tantenya yang tertangkap tangan oleh KPK hingga membicarakan kebanyakan artis yang melakukan sedot lemak untuk mempercantik diri.
Aku masih tertidur malas diatas sofa sambil mencuri dengar yang dibicarakan oleh orang-orang sekitar. Jika diperhatikan keluarga ini memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Jika ditilik dengan lebih jeli, kecenderungan keluarga ini suka mengusik kehidupan orang lain sekalipun keluarganya sendiri. Tante maya sering menjadi bulan-bulanan di keluarga ini. Penampilan Tante Maya yang sederhana dan jauh dari definisi cantik keluarga ini membuat Ia menerima judgment dan dibandingkan hidupnya dengan orang lain.
Aku belum melihat tante Maya, Istri dari adik Mamanya Re. Ia memang sering datang terlambat jika ada di acara kumpul begini, mungkin alasannya karena tidak mau berlama-lama di tempat yang membuatnya tidak nyaman. Aku sering menangkap raut wajah gelisah dan ingin kabur setiap tante maya berinteraksi dengan keluarga besar Mama Re.
Saat menikmati suasana nyaman di sofa dan hiruk pikuk arisan ini, seseorang memegang kakiku. Aku menggeram dan langsung melihat siapa pelakunya karena merasa diriku akan dijebak atau disakiti. Buluku berdiri dan menggerakkan telinga untuk memberi sinyal agar pelaku yang mengganguku mundur. Stevi bocah 5 tahun yang sering mengganguku itu cengengesan dengan wajah polosnya. “ Hey Bidu” sapanya menyebalkan. Dia anak tante Rina salah satu tante Re yang sedang asyik membicarakan aib saudaranya sendiri. Ku lirik Stevi males dan langsung ngacir tanpa menghiraukannya.
Beberapa saat setelah itu tante Maya datang bersama suaminya, adik mama Re. Hampir semua orang menatap kurang hormat terhadap keluarga itu. Tapi yang menarik perhatian, bocah yang menggangguku tadi sangat bersemangat minta dipangku oleh Tante Maya. Stevi seperti sangat di sayang tante maya, apalagi tante maya dengan ringannya membersihkan ingus Stevi.
Saking asyiknya memperhatikan interaksi keluarga ini, aku melupakan dimana keberadaan Re. Aku berjalan mencarinya. “Aduh” aku kaget saat stevi menarik ekorku, kutatap dia dengan tatapan marah, bocah itu tersenyum sambil memberikan pudding kepadaku. Aku melengos, mana ada kucing memakan pudding mangga.
“Hallo Stevi” Sapa Re yang baru muncul dari taman belakang. Sepertinya Re habis me-recharge dirinya karena merasa capek ketika bertemu banyak orang.
“Kakak Re” jawab Stevi bersemangat “Kak, kenapa Bidu ga pernah mau main denggan Tepi sih kak?” ucapnya sambil menunjukku. “Ayo kenalan lagi dari awal dengan Bidu” Ucap Re tersenyum lalu kemudian memangkuku ketika aku berkeliling di sekitar area kaki Re. “Bidu akan mau diajak main kalau Stevi jadi anak baik dan menunjukkan rasa sayang sama Bidu” Re membelaiku di punggung dengan baik “Rasa sayang seperti ini” lanjutnya. “Dulu Bidu juga awalnya gamau main sama kakak, tapi kakak coba dekati Bidu terus dan akhirnya bisa dekat seperti sekarang” Stevi menganguk-angguk seperti paham apa yang disampaikan oleh Re.
Aku mendengar Mama Re memanggilnya karena salah satu tante Re yang bernama Irma pamit untuk pulang lebih awal. “Ayo Stevi kita kesana dulu, tante Irma mau pamit pulang” Ucap Re sambil menggendongku dan membimbing Stevi menuju ruang tengah.
“Tante pamit ya Re, jangan lupa apa yang tante sampaikan tadi, dietnya harus lebih ketat lagi” ucap tante Irma saat kami menghampirinya. Re merespon dengan mengangguk dan tersenyum.”
“Jangan senyum-senyum aja jawabnya Re, jangan sampai calon suamimu berpaling karena takut dengan tubuhmu yang (tante Irma membuat gerakkan kedua tangan melingkar) dan tubuh tak proporsional” Ucap tante Re yang membuat Re malu berkali-kali lipat.
“Re sedang berproses tante, mohon doanya saja untuk Re lebih sehat” jawab Re akhirnya. Setelah Tante Irma pamit aku dan Re duduk di sofa di samping tante Maya dan Stevi memilih untuk duduk di pangkuan Tante Maya.
“Tante dapat info dari Om kamu akhir-akhir ini sering sakit ya Re, kamu jaga kesehatan sayang, lagi banyak yang dipikirkan ya?” Tanya tante Maya pada Re setelah beberapa menit mereka berbincang tentang berbagai hal.
“Entahlah tante, aku merasa seperti bukan pemilik tubuh ini” jawab Re lirih.
“Maafkan tante kalau lancang bertanya, apakah ini soal diet yang membuatmu sakit ?”
“Aku sudah olah raga tante, aku mati—matian berolah raga untuk menghilangkan lemak di tubuhku. Sejujurnya berat badanku turun, hanya saja orang-orang masih melihatku bertubuh besar. Tante juga melihatku merasa gendut kan?” Ucap Re karena merasa Tante Maya bisa menjadi orang yang bisa mendengar keluh kesahnya. Tante Maya hanya tersenyum meneduhkan untuk memancing Re bercerita lebih lanjut.
“Aku masih merasa bersalah dengan semua kebiasaan baru untuk menurunkan berat badanku tan, Olah raga menjadi sesuatu yang mengerikan bagiku. Aku terpaksa berolah raga. Semua tak bisa aku nikmati karena rasanya hidup ini seperti hukuman bagiku” Ucap Re lirih. Aku menggeliat di pangkuan Re yang kemudian dibalas oleh Re dengan membelaiku. “Tan, bagaimana sih cara menurunkan berat badan ?” Tanya Re putus asa.
“Tante Maya, aku mau pipis, temani aku ya?” Ucap Stevi yang memotong ucapan Tante Maya. Tante Maya tersenyum “Re, tante ke toilet dulu anter Stevi ya, nanti kita lanjut” Ucap Tante Maya sambil mengusap punggu Re. Aku dan Re memperhatikan hingga punggung Tante Maya yang menggendong Stevi hilang di balik pintu toilet.
Re merasa enggan untuk bergabung dengan keluarga lainnya yang tengah asyik membahas sesuatu. “Kita ke kolam belakang aja yuk Bidu” Ucap Re sambil menggendongku ke bagian belakang rumah ini yang ada kolam ikan. Re mengambil makanan ikan dan menebarkannya keseluruh bagian kolam. Tampak ikan mengerubungi makanan yang diberikan oleh Re. Re duduk bersila di pinggir kolam sambil memelukku.
Saat kami tengah asyik memperhatikan gerakan ikan di kolam tante Maya duduk di samping kami.
“Bidu suka makan ikan ga Re?” Tanya tante Maya sambil mengulurkan tangannya memintaku untuk digendong olehnya.
“Suka Tan” Ucap Re saat aku sudah berpindah ke pangkuan Tante Maya
“Pernah menangkap ikan-ikan di kolam ini?” Tanya tante Maya penasaran
“Ga pernah tan, akses kesini tertutup untuk Bidu, kecuali ada yang mengizinkannya kesini kaya sekarang” Jawab Re. Aku mendengus sambil bersin, bisa-bisanya tante Maya berfikiri jika aku akan memakan ikan-ikan disini. Aku juga punya selera !
Tante Maya merespon dengan tersenyum “Aku hanya bercanda Bidu, pasti Re memberikanmu makanan yang lebih enak dari ikan-ikan ini kan?” Ucap tante Maya lalu mengusap kepalaku seperti paham apa yang ku pikirkan.
“Re, jangan terlalu kejam dengan dirimu” ucap tante Maya setelah beberapa saat terdiam. Ia menatap dalam ke mata Re dengan teduh. “Soal perubahan bentuk tubuh itu butuh proses, perlu dinikmati. Tak ada yang instan Re. Jika belum ada perubahan yang signifikan, tak mengapa kamu sudah berusaha dengan sangat keras, berterima kasihlah pada dirimu karena sudah berjuang. Itu hal yang harus dihargai”
“Tan…” Re tak bisa melanjutkan kalimatnya
“Kamu berharga Re, bagaimanapun dirimu. Cobalah untuk memberi tubuhmu waktu untuk berubah. Pelan-pelan nikmati prosesnya. Sayangi dirimu Re, karena hanya kamu yang bisa menyanyangi tubuhmu dengan tulus” Tante Maya memeluk Re dengan tangan sebelah yang tidak ia gunakan untuk menggendongku.
“Buka kacamata negatif yang kamu pakai sekarang Re, fokus untuk menjadi sempurna bukan untuk orang lain, melainkan bagi dirimu sendiri. Cintai dirimu Re, kamu berharga bagaimanapun adanya kamu” Tante Maya terdiam sejenak lalu berkata “Terkadang manusia memang butuh validasi dari orang lain, ya gapapa, Cuma belajarlah untuk merubah fokus. Fokus bukan lagi ingin diterima oleh orang lain, tapi diterima oleh dirimu sendiri” Re mulai meneteskan air mata di pelukan Tante Maya. Aku menggeliat karena merasa sesak diantara pelukan Re dan Tante Maya. Aku dipindahkan tante Maya ke sampingnya ketika menyadari ketidaknyamananku.
“Tante ini berat sekali bagiku” Ucap Re “Pasti berat Re” Respon tante Maya sambil mengusap punggung Re, lalu lanjut bertanya
“Apakah kamu punya cita-cita yang belum terwujud Re, cita-cita dalam artian mimpimu untuk bermanfaat bagi orang lain?”
“Aku ingin membangun sekolah untuk membantu anak-anak yang putus sekolah karena terhalang biaya. Tapi belum bisa kuwujudkan karena mama tidak menyetujui Tan”
“Kejarlah Re, jadilah apapun yang kamu mau dan impikan”
“Tapi Mama ga akan menyetujui Tan, Mama bilang itu bukan sesuatu yang harus aku kerjakan” Jawab Re. Tante Maya menghela napas panjang sebelum merespon jawaban yang diberikan oleh Re.
“Om-mu pernah melihatkan potretmu saat balita dulu Re, waktu itu kamu sedang di taman bermain dengan adik dan kakakmu. Tante mengamatimu yang paling ceria di foto itu. Gadis kecil dengan bola mata besar dan pipi yang menggemaskan sedang tertawa dengan polos seperti percaya bahwa impiannya bukan hanya sekedar penampilan fisik saja. Gadis kecil yang tak masalah menjadi dirinya sendiri. Tatapan polos gadis kecil yang percaya mimpinya akan terwujud jika Ia tak menyerah untuk mewujudkannya”
“Aku ingat foto itu tan” respon Re dalam tangisnya
“Belajarlan tertawa dari gadis kecil itu Re, setiap orang punya sisi yang fisik yang akan dikomplain dalam hidupnya. Tapi bagi orang yang fokusnya bukan hanya soal fisik itu akan lebih ringan untuk menghadapi kehidupan” Ucap tante Maya yang masih perlu diterka oleh Re kemana arah pembicaraan ini.
“Apakah kamu pernah meminta kepada Sang Maha Pemberi untuk dimudahkan jalanmu dalam mencapai apa yang kamu inginkan?” Re terdiam ketika ditanya tante Maya, kemudian yang dijawab dengan gelengan.
“Apakah kamu pernah berdoa untuk diberikan kekuatan dalam menghadapi apapun ujian yang datang padamu?” Tanya tante Maya
“Apakah kamu pernah meminta untuk diberi rasa syukur terhadap apapun yang diberikan kepadamu” Tanya tante Maya kembali yang dijawab oleh Re dengan gelengan.
“Berdoalah Re, mintalah pada Sang Pencipta apapun yang kamu mau dengan spesifik. Namun hal yang terpenting, berdoalah kamu diberi hati yang lapang ketika Sang Maha Pengasih menunda pintamu” Re menangis tergugu dengan kalimat yang disampaikan oleh Tante Maya. Sepertinya Re menyadari bahwa Ia tak pernah melibatkan Sang Pencipta dalam setiap apapun yang dilakukannya. Aku juga ikut tersadar bahwa ciptaan tidak akan bisa apa-apa tanpa kuasa Sang Penciptanya. Cukup lama aku dan Re merenung dan memperhatikan pergerakan ikan-ikan yang hilir mudik di dalam kolam, sampai kami tak menyadari ada sesuatu hal besar yang terjadi.
Mama Re datang dengan terburu-buru dari ruang tengah ke arah kami. Mukanya tampak panik dengan mata yang memerah. Mama Re langsung memeluk Re. “Re, kamu udah tau ya?” ucap Mama Re yang langsung menangis sejadi-jadinya. “Mama juga kaget Re, syok. Astaga, adikku yang malang” ucap Mama Re dalam tangisnya. Aku yang awalnya berasumsi mama Re khawatir dengan keadaan Re yang menangis di depan kolam langsung bingung saat menndengar kalimat “adikku yang malang”.
“Maksud mama gimana?” Tanya Re sambil mengusap air matanya
“Kita harus segera ke rumah sakit Re, kita harus jemput jenazah Om dan tantemu” lanjut mama Re
“Aku ga paham ma, jenazah siapaa?” Tanya Re bingung
“Om dan tante Maya kecelakaan dalam perjalanan kesini Re, Jenazah mereka saat ini di Rumah Sakit Pondok Indah” Jawab Mama Re sambil menarik tangan Re untuk berdiri. Aku syok, apalagi Re yang tak kalah terkejut. Aku memperhatikan ke sekeliling area di depan kolam. Kosong. Tak ada sosok tante Maya yang beberapa detik yang lalu masih berusaha menyadarkan Re betapa berhargannya dia.
“Ga mungkin ma, barusan aku ngobrol dengan Tante Maya” ucap Re
“Dari tadi kamu disini berdua dengan Bidu saja Re. Mama yakin sekali soal itu. Mama tau kamu sedih Re. Kita semua sedih. Kita lagi berduka. Tapi kita juga harus berpikir logis, sekarang ayo kita harus ke RS”
“Ma, serius tadi aku disini bareng tante Maya dan Bidu”
Mama Re memeluknya dan menggusap punggung Re dengan lembut.
“Gapapa menangislah dulu sepuasnya Re, kita ga harus ke RS, kita langsung ke rumah om dan tantemu saja nanti” ucap Mama Re yang mencoba menghibur anaknya yang teguncang.
Aku bertanya ke daun pintu memastikan bahwa aku dan Re tak salah bahwa tadi ada tante Maya disini. Daun pintu menggeleng sebagai jawaban bahwa tak pernah ada tante Maya di depan kolam.