Maka Bagaimana Kau Abai dan Menjelma Pengecut Karya Diva Oktavia Erwindasari Ditengah kalut dan amarah yang membuncah Kuseret berkepal keberanian dan tekad yang tercekat Tubuhku lemah berkarat Sukmaku berdebum dihunus khianat Telingaku tuntas disambar setelaga kilat Pada lunglai dan sepotong rindu kusematkan Juntai kecam dan jeruji peluh pekat kebencian Sungguh, pada setiap tetes tinta Kalamullah Kau gantungkan hidup mati pada gores larik hurufnya Pada tiap denting ayatullah Kau sandarkan rinai getir, nanar resah Maka bagaimana kau hanya diam dan acuh? Maka bagaimana kau abai dan menjelma pengecut? "Pada lisan yang pernah lantunkan sajak indahNya?" "Pada ayat yang pernah lekat di hatimu?" "PERNAH"....Pernah...Pernah... Sungguh jika segenggam gertakku senilai keping tubuh Maka aku rela menyaksikan ragaku menjadi remah-remah Sungguh jika berkepal desakanku senilai sepasang ruh Maka aku rela menyaksikan nyawaku tergenang rubuh Maka bagaimana kau abai dan menjelma pengecut? •••• Mereka bisa karena pertolongan Allah Mereka bisa karena azzamnya Enam bulan menjadi cukup bagi mereka Lantas, apalagi yang menghambat diri untuk tidak terus-menerus memohon pertolongan dariNya? "Allah yassir wa laa tu'assir" Setelah kalamnya lekat di hati, maka mengulanglah yang harus diistiqamahkan. Sungguh sebenarnya tugas abadi huffadz adalah MURAJAAH, hingga nafas dan lisan tak mampu lagi melantunkan sajak indahNya dari bibir yang mengatup kelu #yukhafalquran #yukmurajaah #hafidzahwannabe #30juz (di Rumah Qur'an Indonesia)