Saya Tahu, Saya Mencintaimu Sebelum Bertemu, Rinjani (Bagian 3)
“Mbak Widi, ini makannya,” ucap Bang Edi, porter kami, seraya membuka pintu tenda dan mengulurkan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk. “Mau minum apa, Mbak?” lanjutnya. “Susu coklat, Bang Edi. Terima kasih.” jawab saya dengan suara yang masih berat. Pagi yang dingin. Pagi yang gelap dengan angin yang berhembus kencang. Pagi yang dini. 00.00 WITA. 4 Mei 2017. Plawangan Sembalun.
***
Hanya saya dan Angga yang mendaki menuju puncak Rinjani. Bulan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan menunggu saya di Plawangan Sembalun, ditemani Drian.
Mengulur langkah di belakang Angga, saya berjalan memasuki hutan pohon cemara gunung. Tidak begitu lebat, hanya malam pekat. Saya raih apa saja untuk berpegangan, menarik tubuh dengan tangan, membantu kaki yang sejak kemarin bekerja keras. Dalam gelap. Dalam malam. Meraih apa saja.
Akar.
Rumput.
Batu.
Berjalan di hutan dalam remang malam, hanya tampak bintang-bintang di angkasa, yang kali ini, jumlahnya tak terhingga. Sepasang pendaki, lelaki dan perempuan, berjalan mendahului, ketika saya istirahat, mengatur napas. Kuat sekali mereka, ucap saya entah kepada siapa. Tapi biarlah, di sini bukan arena adu cepat dan kekuatan. Dalam derap langkah yang lebih pelan dari kemarin namun tetap konstan, saya hanya berdoa semoga selamat.
Saya menoleh ke belakang; cahaya lampu senter berkerlip-kerlip. Lampu senter pendaki yang juga berjalan menuju puncak, atau tenda-tenda yang berjajar di Plawangan Sembalun, tampak dari kejauhan. Lampu-lampu senter itu yang, kali ini, cahayanya terlihat memanjang seperti kereta malam berjalan dalam gelap. Saya menarik napas dengan dalam. Hutan yang curam.
“Lewat sini, Kak” ucap Angga sambil menunjukkan jalan yang dipilih untuk ditapaki. Melipat sedikit demi sedikit jarak menuju puncak, saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya kuat? Apakah saya bisa? Saya menarik napas dalam-dalam. Meraih akar yang menjulur keluar dari tanah, menarik tubuh dengan tangan seraya menjawab pertanyaan diri sendiri, pasti bisa.
Pasti bisa. Ucapan yang keluar berbarengan dengan napas yang dalam, setelah selesai menatap ke langit dengan jutaan bintang dan kembali berjalan. Ucapan untuk menutupi rasa takut yang, kali ini, hadir luar biasa, karena mendaki Gunung Rinjani sebetulnya hal yang berada di luar jangkauan.
“Ayo, Kak” Angga menyemangati, kemudian melanjutkan, “Sebentar lagi Puncak Bayangan, kita istirahat di situ.” sambil menunjuk sebuah bukit setelah jalur berbelok yang tampak dari kejauhan. Saya menarik akar yang menjulur keluar dari tanah, kemudian menancapkan trekking pole ke tanah lalu mengangkat badan. Saya pasti bisa, ujar saya kepada alam.
Lampu senter para pendaki semakin banyak terlihat. Ada beberapa yang berjalan mendahului. Kerlipnya semakin panjang seperti kereta yang berjalan di tengah gelap. Kami berdiri di atas bukit yang sedikit landai. Malam masih dini. Seteguk air mengalir di kerongkongan, menghilangkan sedikit dahaga. Di atas terpampang jalan menukik menuju puncak. Saya bertanya kepada Angga di mana puncaknya? “Di balik bukit yang ini, Kak” Angga menunjuk ke sebuah bukit di ujung atas dengan cahaya senter.
Dalam derap langkah yang pelan namun konstan, kami telah melewati seperempat bagian perjalanan. Kali ini berjalan di trek yang cukup landai, sudah keluar dari hutan. Bintang semakin banyak jumlahnya. Mereka berlomba saling memancarkan sinarnya, membentuk pemandangan sungai langit yang menjulur dari timur ke barat.
Saya menengadah ke atas. Sungai langit itu cantik sekali. Taburan milyaran bintang menari di angkasa. Kata orang, itu Galaksi Bima Sakti. Lihat, ada bintang jatuh, seru saya dalam hati.
Pemandangan yang biasanya hanya dilihat dari foto-foto dengan teknik tinggi, kali ini saya melihat dengan mata sendiri. Tidak terpikirkan oleh saya untuk mengambil gawai lalu mengabadikannya dalam satu sentuhan. Tidak. Saya ingin pemandangan cantik itu hanya masuk sempurna ke kornea mata, lalu terekam dalam memori. Tidak ada yang bisa menggantikannya, bahkan secanggih apapun kamera tidak berhasil mengambil rupa sesempurna mata.
Ada bintang jatuh lagi.
“Ayo, Kak,” ucap Angga memberi semangat. Saya menarik napas dalam sekali, kembali mengayuh kaki dengan berat, melipat jarak menuju puncak. Mengayuh pelan namun dalam tempo konstan. Trek hutan sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanyalah medan pasir dengan kemiringan 45°. Lima langkah menapak naik, satunya merosot turun. Begitu saja terus.
Angin dingin yang berhembus semakin kencang hanya terasa di wajah. Kali ini, lapisan pakaian yang saya kenakan sedikit berbeda dari sebelumnya; kaos pada bagian dalam, jas hujan plastik, lalu jaket tebal di bagian luar. Iya, jas hujan plastik. Jas hujan plastik itulah yang menghalangi angin masuk ke tubuh.
***
Pendaki semakin banyak, berjalan mendahului. Kami duduk di atas batu di sisi barat dari jalan menuju puncak, istirahat sebentar. Segelas air hangat diulurkan oleh Angga. Saya membuka panganan kecil yang dibawa untuk bekal. Belakang kami, Danau Segara Anak yang belum terlihat. Di depan ada satu bintang yang sangat terang nyalanya. Mungkin Mars. Atau Venus. Ah, bintang jatuh melintas lagi.
Sesaat setelah istirahat, kami lanjutkan perjalanan. Trek pasir dengan kemiringan 45° belum waktunya habis. Malah semakin berat. Tiga langkah naik, satunya merosot turun. Dua langkah naik, satu merosot. Lalu berhenti. Begitu saja terus. Batu yang dikira keras ternyata hanya kumpulan pasir yang berkumpul mengendap. Ketika diinjak, mereka pecah. Lalu merosot lagi.
Bintang jatuh lagi. Kali ini melaju panjang dengan ekor oranye.
Ada seorang pendaki perempuan, yang katanya telah berhasil mencapai puncak Everest, berhenti, menangis, ingin kembali ke bawah. Menyerah. Lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri, apakah kuat? Apakah bisa? Saya terus berjalan mendahului perempuan itu sambil bergeming, pasti bisa. Lalu di langit tampak lagi ada bintang yang melintas.
Langkah semakin berat dan lama. Trek yang tak kunjung usai. Entah pukul berapa saat itu. Mungkin empat. Atau lima. Atau bahkan masih tiga. Saya menunduk sambil memejam mata. Manahan rasa tangis yang sudah naik sampai batas tenggorokan, atau kerongkongan, atau hidung. Terserah.
Isak yang hampir keluar itu menghilang ketika saya melihat ke langit. Bintang yang, saat ini, mungkin saja sudah trilyunan, seolah memberi semangat untuk saya terus berjalan. Bintang yang, salah satunya, kembali saya lihat melintas putih di angkasa. Tidak jadi menangis. Tidak jadi menyerah.
“Ayo, Kak,” Angga terus memberi semangat. Semangat yang akhirnya membuat saya menghabiskan medan pasir yang sudah tidak terjal lagi, menggiring sampai kelokan dengan dua batu besar di kanan-kiri, membawa saya menuju 3726 meter di atas permukaan air laut. Ya, Rinjani.
***
Saya duduk di tepi jurang Dewi Anjani, menunggu Matahari terbit. Angga mengulurkan air hangat lagi. Kali ini, air hangat itu saya campurkan sedikit kopi tanpa gula. Segelas kecil kopi pahit yang kami bagi dengan dua pendaki lainnya. Menunggu Matahari terbit.
Lima menit berselang, langit yang semula hanya biru kemudian berubah menjadi semburat kuning dengan kilau keemasan. Di timur, mentari sedang beranjak. Pendaki yang sedari tadi menunggu, berdiri berjajar di tepian, berlomba mengabadikan dengan gawainya, seraya berdecak kagum akan keindahanannya.
Begitu pun dengan saya. Menyaksikan kebesaran ciptaan Tuhan di atas gunung tertinggi ketiga di negeri ini, bukan hal yang mudah. Ada langkah yang pelan, ada napas yang menderu dengan hebatnya, ada jantung yang berdegub cepat, ada tangis yang hampir tumpah.
Segelas kopi panas masih tergenggam oleh kedua tangan. Saya masih melihat sinar kuning yang terus beranjak semakin kuning dan semakin emas. Semakin tinggi. Di ujung timur, tampak Pulau Sumbawa dari kejauhan. Dalam hati bergeming, saya berada di di sini bukan untuk dianggap hebat, melainkan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya pasti bisa.
Dari jurang Dewi Anjani, saya beranjak ke tepian tebing kawah Segara Anak. Biru air danau bagai lautan itu tidak kalah mempesona. Danau dengan anak Rinjani, Gunung Barujari yang sedang mengeluarkan asap tipis ke angkasa. Cantik. Saya bergeming dalam hati, saya tahu, saya mencintaimu sebelum bertemu.
***
Angin yang semakin bertiup kencang dan kabut yang mulai naik akhirnya mengharuskan kami untuk segera turun. Menyusuri kembali jalan berpasir dengan kemiringan 45° itu. Kali ini, bunga edelweiss tak tak tertutup malam, tampak di hamparan jurang sisi timur.
Sepanjang jalan kembali menuju camp terakhir, saya tak habis berucap syukur atas apa yang baru saja dialami. Bersyukur akhirnya saya bisa sampai puncak. Langkah yang pelan, napas yang menderu, degub cepat jantung, tangis yang hampir tumpah, terbayarkan dengan pemandangan Rinjani yang cantik sekali, salah satu karya Tuhan yang diciptakan di Nusantara.
Di tengah jalan, kami sempat bertemu dengan sepasang suami istri yang baru akan mendaki puncak. Usianya tidak dikatakan muda lagi. Si Bapak berumur 59 tahun, dan si Ibu 54 tahun. Tetapi semangatnya tidak terkalahkan oleh siapa pun, mereka kuat sekali. Saya sempat berfoto bersama, memberi tanda bahwa, kami pernah bertemu dan berkenalan di Gunung Rinjani.
***
“Widiiiii!” terdengar teriakan Bulan dari kejauhan. Saya mencari sumber suara itu. Bulan, berdiri di depan tenda kami, melambai-lambaikan tangan.
Dan ketika hutan yang pertama tadi sudah tidak lebat lagi, ketika deretan tenda yang, sebelumnya, hanya terlihat lampu berkelip, akhirnya tampak warna-warninya. Saya sampai di Plawagan Sembalun dengan selamat dan hidup.
(bersambung)











