Review Buku - Whispers of Hope
Bagaimana rasanya menuliskan surat untuk salah seorang pemimpin agama, pemimpin negara atau mungkin orang suci, melalui buku Whispers of Hope, banyak orang menuliskan pertanyaan, pengharapan dan kisah-kisah yang dimilikinya ke hadapan orang tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Paus Fransiskus, yang beberapa waktu yang lalu sempat berkunjung ke Indonesia. Memang surat tersebut mungkin tidak secara langsung tersampaikan ke bapak Paus, tetapi melalui kita sebagai pembacanya, mungkin pesan-pesan dari surat tersebut bahkan bisa menjangkau lebih banyak lagi orang dan bahkan mungkin bisa mengubah dunia ini, mungkin dalam skala terkecil mengubah diri kita, bagaimana tidak, puluhan, bahkan mungkin ratusan surat yang diterbitkan dalam dua jilid buku ini, benar-benar menuliskan isi hati, kepiluan, kebahagiaan dan harapan dari para penulisnya, bahkan saya pun bisa hanyut dalam setiap lembar halamannya, meskipun setiap penulisnya memiliki gaya tulisan yang berbeda-beda, tetapi mungkin karena begitu tulusnya setiap tulisan yang ada, sehingga kita sebagai pembaca, seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para penulisnya. Mungkin bapak Paus adalah tokoh agama Katolik, dan sebagian besar penulis suratnya adalah orang dengan latar belakang Katolik, tetapi buku ini sesungguhnya adalah buku tentang manusia, yang begitu rapuh dan membutuhkan bantuan, sehingga tidak jarang isi suratnya sendiri seperti serangkaian doa kepada yang mahakuasa, meskipun ditujukan untuk bapak Paus yang seorang manusia.
Membaca setiap surat yang ada di buku ini, seperti mengajak kita merenungkan kehidupan, topiknya beragam, dari masalah diri sendiri, masalah keluarga, hubungan orang tua anak, suami istri, pertemanan, masyarakat hingga ke masalah lingkungan, bagaimana ternyata banyak orang memiliki keresahan yang sama, sesederhana apakah saya bisa bahagia, meskipun pasangan hidup sudah pergi meninggalkan si penulis entah karena meninggal ataupun pergi karena berselingkuh, bagaimana membesarkan anak seorang diri, bagaimana menghadapi lingkungan yang toxic dan suka melakukan bully dan lain sebagainya. Karena saking personal-nya bahkan saya sebagai pembaca merasa sangat salut dengan mereka yang menuliskan surat-surat tersebut, karena secara tidak langsung mereka seperti mengumbar "aib" yang dimiliki, namun sebetulnya "aib" tersebut memang ada di sekitar kita, dan mungkin kita selama ini tidak acuh atau pura-pura tidak tahu. Membaca lembar demi lembar di buku ini seakan mengajak saya pribadi untuk melihat dunia sebagaimana mestinya, dunia yang kita tinggali ini sebetulnya tidak sempurna, banyak cacat di sana-sini, bahkan lingkungan yang kita anggap paling suci pun (seperti biara) juga tidak terlepas dari cacat dan dosa, ada banyak permasalahan yang sebetulnya tidak pantas juga terjadi di sana, lantas apakah semua itu membuat kehidupan ini menjadi kurang berharga? lantas apakah semua ketidaksempurnaan yang ada membuat kita putus asa begitu saja?
Buku ini semakin dibaca, semakin bisa membuat kita bertanya, apakah saya sudah cukup peduli dengan orang lain dan dunia sekitar, apakah sebetulnya kita betul-betul "melek", karena rupanya ada banyak individu yang berjuang keras untuk hidup setiap harinya dengan menderita, bukankah setiap agama mengajarkan kita untuk berderma, untuk berbuat baik, tapi jika demikian, kenapa masih banyak yang berkekurangan bahkan menderita hanya untuk bisa hidup? Atau bagaimana kita seakan dihentakkan dengan isu-isu lingkungan yang seakan tidak pernah habis dan banyak rekayasa semata-mata demi keuntungan sekelompok orang, atau karena persaingan bisnis, ada yang tega merekayasa media sehingga memojokkan suatu kelompok dengan atas nama membela lingkungan, padahal mereka juga memiliki agenda lain yang jauh lebih merusak.
Melihat buku ini, sepertinya tidak bisa kita hanya sekedar melihatnya sebagai sekumpulan surat, semakin mendalami buku ini, kita bisa melihat jeritan hati dan harapan dari banyak orang yang bisa jadi mewakili jeritan hati kita sendiri dan mengajak kita merenung. Perjumpaan saya dengan buku ini pun juga bisa dibilang tidak sengaja, berawal dari ulasan di koran Kompas (yang ternyata merupakan kata pengantar dari buku ini), kemudian juga tidak sengaja saya menemukan buku ini disalah satu toko buku yang langsung memantik rasa penasaran saya, dan ketika membaca buku ini, saya langsung begitu terhanyut dengan berbagai kisah yang ada di dalamnya, karena saya seperti membaca kumpulan kisah dalam buku semacam Chicken Soup for the Soul, namun karena ditulis oleh orang Indonesia, perasaan "relate" begitu terasa dari awal hingga akhir buku, singkat kata, buku ini sangat saya rekomendasikan kepada siapapun yang memiliki pertanyaan tentang kehidupan, sedang mengalami kegundahan batin atau masalah kehidupan, meskipun latar belakangnya bernuansa Katolik, tetapi kisah-nya bersifat universal, tidak ada yang menggurui tidak ada yang menjerumuskan, semuanya murni tulisan seorang manusia yang lemah dan rapuh. Selamat membaca!












