Jepang 2016

oozey mess
todays bird
cherry valley forever
occasionally subtle
NASA
Cosmic Funnies
I'd rather be in outer space 🛸
noise dept.
Mike Driver

gracie abrams
Keni

Jar Jar Binks Fan Club
No title available
EXPECTATIONS

if i look back, i am lost
🩵 avery cochrane 🩵

shark vs the universe
official daine visual archive
YOU ARE THE REASON
ojovivo

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Poland
seen from Singapore
seen from Sweden
seen from Brazil

seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Canada
seen from Romania
seen from Netherlands
seen from Germany
@gagasan-blog
Jepang 2016
Jepang 2016
Yang memisahkan dunia bukan jarak, namun keterasingan.
Setelah sekian lama akhirnya ngelakuin digital painting lagi. berbekal mouse dan keyboard akhirnya saya kembali menemukan hobi yang sudah lama tidak saya lakukan. Jadi pingin beli Wacom.
Letupan Zaman
(Tulisan lepas bagian 1, tulisan ini hanya bertujuan untuk menangkap pikiran pikiran yang sedang seliweran di kepala.)
Saya selalu penasaran tentang bagaimana rasa orang-orang yang hidup pada momen-momen perubahan jaman. Apakah mereka menyadari signifikansi dari setiap kejadian yang ada di sekitar mereka terhadap pergeseran cara pandang, tatanan sosial, ataupun bahkan kebenaran itu sendiri. Ataukah kondisinya seperti saya saat ini, merasa semua ini biasa saja. Tidak ada signifikansinya sama sekali.
Halo Postmodernisme
Popularitas postmodernisme sudah jatuh sejak tahun 1990-an di jurnal akademik, namun terus menanjak dengan kuat hingga tahun 2000-an di artikel awam. Lalu di era 2010-an ini menurut kesepengsotoyan saya postmodernism sednag menuju titik nadir. Sebentar lagi bersembunyi di balik cakrawala. Tidak hilang, hanya bersembunyi sebentar di balik gunung menunggu pagi.
Perjalanan tentang Postmodernism di mulai dari Hegel. Hegel mengusik kita dari kesadaran kita akan realita yang ada disekitar kita. Hegel menyerang gagasan mengenai hubungan langsung antara kita dan realita. Kita tentu dalam kehidupan sehari hari tidak pernah meragukan bahwa kita sedang melihat sesuatu objek. Jika kita melihat kursi, tentu kita yakin akan keberadaan kursi, sebagai objek yang nyata. Namun Hegel menyangkal hal tersebut, Hegel mengatakan bahwa tidak ada hubungan langsung antara pikiran serta bahasa kita terhadap realia yang ada disekitar kita. Objek yang kita identifikasi sebagai kursi bukan lah data yang kita terima sebagai informasi murni. Kita dan kursi terhalang oleh suatu tabir diantara. Dan tabir itu adalah Konsep. Proses pemahaman kita terhadap kursi merupakan gabungan kumpulan rangasangan- rangasangan lain dari indra yang kita miliki. Maka dari itu kursi tidak berhubungan langsung dengan kita melainkan hasil pemikiran kita terhadap rangasangan-rangasangan yang kita terima. Rangsangan rangsangan itu pun tidak murni kita terima, karena rangasangan pun merupakan konsep yang terdiri dari rangsangan kecil . Proses kita mengidentifikasi kursi membuat jelas bahwa kita tidak benar benar terhubung secara langsung dengan realita. ‘Realita’ adalah konsep yang kita susun di dalam otak kita. Kita tidak pernah bisa terhubung dengan realita.
Lalu muncul Rene Descartes, filosof yang filosofinya sering salah digunakan oleh saya pada jaman dahulu haha (Atau mungkin masih sampai sekarang). Rene Descartes membawa pemahaman Hegel lebih jauh lagi. Rene memberikan gambaran bahwa realita itu tidak tetap, apa yang dia angap kenyataan sebenarnya dahulu bisa menjadi salah di kemudian hari. Apa yang kita terima sebagai konsep akan sesuatu bisa menjadi salah di kemudian hari. Segala ketidak pastian dari proses pengenalan realita terdistorsi karena aktifitas pengonsepan. Untuk mencari hal yang pasti,Rene menggunakan metoda ragu, Rene mencoba meragukan segala sesuatu yang ada di dunia ini dalam rangka mencari suatu hal yang tidak dapat diragukan.
Di akhir pemikirannya, Rene menemukan bahwa ternyata tidak ada yang benar-benar tidak diragukan, semuannya memiliki teori-teori lain yang dapat menerangkan alternatif dari suatu realita. Tidak ada, namun satu, “ bahwa aku ragu.” Kenyataan bahwa aku ragu, yang merupakan suatu proses berpikir, menandakan bahwa hal yang paling nyata yang dapat dirasakan oleh manusia adalah dirinya sendiri. Dia yakin bahwa ketika ragu, maka ada aku yang meragukan.
“ Aku berpikir, maka aku ada.”
Lalu ketika kita setidaknya memiliki setidaknya satu gambaran mengenai apa yang benar benar nyata. Muncul para postmodernism. Mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun yang terhubung secara langsung dengan kita. Seluruh objek yang ada di dunia ini harus melalui tabir konsep sebelum dapat kita identifikasi. Bahkan diri sendiri. Misal, aku merasa sedih. Sedih benar benar kita rasakan, satu hal yang benar benar nyata yang terhubung dengan diri. Namun sebenarnya sedih pun sudah tidak murni lagi kita kenal sebagai sedih, sedih merupakan konsep yang kita kenal dari lingkungan yang ada disekitar kita. Sedih merupakan konsep yang sudah ada di masyarakat, lalu melalui konsep itulah kita mengenal bahwa kita merasa sedih. (Mungkin itu kenapa kita merasa kehidupan dimulai ketika kita TK.)
Aneh? oke, dasar pemikirannya adalah ‘meta-narrative’ . Lyotard mengatakan bahwa secara tidak sadar ataupun sadar, dunia yang kita alami adalah hasil dari intepretasi orang lain yang kita adopsi. Proses ini menurut Lyotard mengambil pengalaman langsung manusia, manusia menjadi tidak dapat mengetahui ‘master idea’.
Pandangan ini berlanjut, apabila kita tidak melihat dunia melalui narasi narasi yang kita dengar atau terima dari orang lain berarti ada kemungkinan bahwa seseorang bisa memasukan agendanya dalam pemahaman kita terhadap dunia, sehingga secara tidak sadar kita memenuhi kebutuhan orang orang tersebut. Pengetahuan menjadi hal yang tidak lagi netral, semuanya bisa direkayasa secara sosial. Sehingga pengetahuan harus selalu dicurigai, harus selalu dilihat, untuk siapa yang membuat, kenapa, dan untuk siapa.
Poulo Fereire dalam bukunya ‘Pedagogy of Oppressed’ mengatakan bahwa, pada jaman itu (mungkin sampai sekarang) pengetahuan diberikan kepada para peserta didik layaknya sapi gelongongan. Sapi menelan air gelonggongan jangankan bertanya kenapa, sapi menelan tanpa pernah mengingkannya. Kebutuhan akan critical thinking sangat penting untuk mempreteli hegemoni sekelompok komunitas tertentu, para elitis.
Jacques Derrida pun mengatakan objek yang kita kenal adalah sebuah teks. Tentu aneh memikirkan bahwa suatu benda adalah tulisan. Namun ketika kita mendefinisikan bahwa bahasa adalah perangkat untuk mengenali sesuatu maka sebatas itu lah kita mengenal suatu objek. Pemahaman kita akan sesuatu paling mentok ada pada kemampuan kita memisahkan satu objek dengan yang lain. Tapi kita tidak pernah benar benar mengenal objek tersebut sebagai satu hal yang nyata. Bahasa mengenalkan kita pada struktur suatu objek namun tidak akan pernah bisa mengenalkan kita lebih dari pada hal itu.
Jika itu benar, maka bagaimana kita dapat memisahkan fiksi dan non-fiksi? Apa yang membedakan report dan dongeng? Tentu jawabanya adalah, non-fiksi harus mengada di dunia ini. Namun ketika kita mengatakan hal itu, dunia pun sebenarnnya tidak benar benar mengada. Dunia pun sebenarnya adalah teks yang kita konsep di pikiran kita. Jadi ketika kita mengambil referensi non fiksi dari keberadaannya di dunia, maka sama saja dengan menjelaskan teks di dalam teks. Kita tetap tidak dapat melihat realita yang tersembunyi di balik teks.
Oleh karena itu para pemikir Postmodernism menggalakan gerakan untuk kembali ke pengalaman subjektif. Ketika logika dan pengetahuan dapat dikotori, dicampuri dengan berbagai macam agenda, maka pengetahuan objektif telah mati. Apa yang ada bergejolak di relung dada adalah sebuah kebenaran.
Perjalanan ini setidaknya menggambarkan bagaimana Postmodernism terbentuk. Sehingga semoga mendapatkan gambaran mengenai konsep konsep besar dari Postmodernism.
1. Relatif: Tidak ada kebenaran yang hakiki, kebenaran adalah hasil rekayasa sosial, yang dipengaruhi oleh ras, gender, kelas, dan sebagainya.
2. Skeptis: Mendapatkan pengetahuan yang objektif itu mustahil.
3. Logocentrism: Logika adalah alat yang digunakan oleh suatu grup tertentu untuk menindas grup yang lain untuk mempertahankan hegemoni. Postmodern mengatakan bahwa, perasaan yang dirasakan oleh suatu grup jauh lebih penting dibandingkan argumen rasional yang berasal dari elitis.
Oke, teori ini menggila, sebab pertama, post modernism akan selalu tidak stabil karena post modernism akan selalu meragukan dirinya sendiri. Postmo mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan yang objektif, maka pemahaman akan postmo sendiri pun bukan lah pengetahuan. Gagasan akan postmodernism juga dibangun dari logika, padahal logika dikatakan sebagai alat penindasan.
Kemajuan peradaban pun akan melambat, karena ketika berbeda pendapat di dunia yang postmo ini maka tidak ada yang dapat dibicarakan.Logika tidak bisa digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah, semuanya begitu subjektif. Sehingga suatu gagasan menjadi hegemoni bukan dari pemahaman bersama namun kuasa. Gagasan yang dimiliki oleh grup yang memiliki kuasa yang lebih kuat akan selalu mengalahkan gagasan yang lain.
Dan ketika semua adalah hasil rekayasa sosial, hingga ke kepala sendiri adalah rekayasa sosial bagaimana kita benar benar bisa subjektif secara individu? Kebahagian adalah rekayasa sosial. Kami senang pedas, anda senang manis. Saya bahagia karena menjadi martyr, anda melihat martyr sebagai suatu hal yang menakutkan. Semua tergantung, ras, gender, lingkungan, dan kedudukan sosial.
Saya merasa gagasan postmodernisme ini sangat membebaskan namun juga sangat rapuh. Ide yang ditangkap luar biasa, namun secara pemikiran ini tidak utuh. Banyak bolong dan kontradiksi.
Apakah ada avant-garde lain?
Gagas, 2015.
Sebulan tidak cukur kumis, sebulan tidak pulang rumah.
Babak belur, dan sangat kangen rumah.
Saya menonton sebuah program TV swasta yang terkenal dengan kontennya yang menginspirasi serta disajikan dengan pembawaan yang santai namun tajam.
Hari itu tema yang dibawa adalah 'Miskin namun Menuai Keberhasilan'. Tema klise yang sudah ribuan kali ditayangkan di segala stasiun tv, diucapkan oleh puluhan ribu insan-insan inspiratif namun selalu menarik untuk ditonton, mungkin cercah kebahagiaan memang tidak pernah membosankan.
Sampai suatu ketika, seorang anak tukang sampah yang telah menyelesaikan pedidikanya di bidang kedokteran, menyampaikan wejangan pada penonton, dia mengatakan dengan sungging bahagia di wajahnya, bahwa sekolah tinggi akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Ucapan biasa, seperti memang sudah menjadi template. Tapi saya menemukan yang berbeda, pada pemahaman saya mengenai arti dari menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Pemahaman bahwa kita, manusia kebanyakan, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan untuk alasan yang remeh. Untuk makan lebih banyak dari seharusnya, dari kebanyakan. Bukan untuk pengejaran kita pada pemahaman akan arti sesungguhnya dari kehidupan, bukan untuk usaha kita untuk membahagiakan orang lain, bahkan bukan untuk pemuasan diri kita akan rasa ingin tahu, tapi hanya sebatas untuk uang, pemastian kelangsungan hidup anak istri.
Apakah memang serendah itu pemahaman kita mengenai tujuan dari menjunjung tinggi ilmu pengetahuan? Hanya untuk memenuhi perut kita yang besarnya bahkan tidak lebih besar dari bola basket.
Caping Goenawan Mohamad
Gurun
Di sebuah gurun pasir, seorang penggembala menyingkir dari kemarahan seorang Nabi. Dalam kisah terkenal Jalaluddin Rumi ini — dalam kitab Masnawi — Musa mendengar doa yang aneh dari mulut penggembala itu: “Oh, Tuhan, di manakah Kau? Bolehkah aku jadi sahaya-Mu, menjahit kasut-Mu dan menyisir rambut-Mu? Bolehkah aku mencuci baju-Mu dan membasmi kutu-Mu dan membawakan-Mu susu?…”
Bagi Musa, doa yang terlampau bergelora itu awal kekafiran: menyamakan Tuhan dengan manusia yang butuh air susu adalah sikap yang kurang ajar.
Maka Musa berteriak: “Sumbat mulutmu dengan kain!…Kalau kau tak hentikan tenggorokanmu memuntahkan kata-kata seperti itu, api akan datang dan membakar orang-orang…”
Mendengar itu si penggembala berhenti berdoa. “Ah, Musa. telah kau bakar sukmaku dengan penyesalan…”.
Ia pun merobek gamisnya dan seraya nafasnya melenguh dalam, ia menengok ke ujung gurun dan dengan seketika pergi.
Di saat itu, demikian dikisahkan Rumi, Tuhan menegur Musa: “Telah kau pisahkan hamba-Ku dari Aku. Engkau datang untuk merukunkan, atau untuk meretakkan? Jangan kau memisah-misahkan; hal yang Aku benci adalah perceraian. Telah kuberikan kepada tiap orang bentuk ekspresi yang tersendiri…Aku tak tergantung pada kemurnian maupun najis, tak tergantung pada kemalasan maupun kegairahan sembahyang”.
Mendengar teguran Tuhan, Musa bergegas lari ke tengah gurun mengejar sang penggembala. Ketika mereka bertemu lagi, sang Nabi memberitahu kabar gembira itu: “Sudah datang perkenan Tuhan: kau tak perlu mencari aturan atau cara untuk sembahyang. Ungkapkan saja apa yang dikehendaki hatimu”.
Tapi — dan ini yang tak disangka-sangka dari dongeng Rumi ini — sang penggembala menjewab: “Ah, Musa, aku telah melampaui itu: aku kini tenggelam, berendam, dalam air mata tangisku.”
Sang penggembala tak hendak kembali ke dalam acuan Musa. Nabi itu tetap bertumpu pada “perkenan”, perizinan, sabda. Dengan kata lain: rumusan hukum. Sang penggembala lebih menyukai keakraban yang total dengan Tuhan yang dicintainya. Masnawi Rumi tampaknya menunjukkan bahwa Musa — yang dalam Alkitab dikisahkan sebagai penerima 10 AturanTuhan — tak memahami sepenuhnya apa yang dikatakan Tuhan: “Mereka yang memperhatikan aturan berbicara dan berperilaku adalah satu hal; mereka yang terbakar oleh cinta [kepada Tuhan] adalah hal lain”.
Sang penggembala tak mau menyerah kepada jalan yang dianggap linear: hukum. Ia memilih tinggal di gurun. Di tengah bentangan pasir dan batu karang itu, batas-batas tak jelas. Juga tak penting. Garis lurus bisa ditarik tanpa ada Barat atau Timur. Ke arah mana menghadap Tuhan? “Di dalam Kaabah,” tulis Rumi, “perlukah kepastian kiblat”?
Saya pernah membaca sebuah pembahasan yang menganggap gurun dalam bagian Masnawi ini sebagai sebuah kiasan yang penting ketika berbicara tentang iman — yang sering disederhanakan dan disebut sabagai “agama.”
Beberapa ratus tahun setelah Rumi, Derrida menampilkan lagi imaji itu. Dalam La Religion, ketika membahas pengalaman religius manusia, ia menyebut “gurun di dalam gurun”: ketika manusia mengalami secara total “ketiadaan”, ketika aku, dalam pengalaman mistis itu, seakan-akan hilang tanpa jejak, lebur dalam haribaan Yang Lain.
“Gurun di dalam gurun” itu, sebagaimana umumnya agama-agama, mengandung janji, pengharapan yang “messianik”: nun nanti di ufuk sana, di bawah kaki langit, ada yang Lain ke mana kita tabah dan tawakal akan sampai. Tapi janji itu tak bisa digambarkan lebih dulu. Ia mengisyaratkan sesuatu yang tak terhingga.
Bersama itu, “gurun di dalam gurun” itu juga khôra: “tempat” yang bukan tempat, sesuatu yang sama sekali beda dari apapun juga. Dengan kata lain, dalam iman selalu terkandung hal-hal yang tak bisa diringkas tapi memanggil kita untuk terus menerus mencari. Bersama itu pula kita mengenal dan menghargai apa yang mustahil namun bernilai — misalnya janji Keadilan yang akan datang.
Dengan demikian iman mengandung keberanian — yang umumnya pudar ketika diringkus jadi sebuah sistem dan ditertibkan dengan hukum-hukum yang menjaga jalan lurus. Dalam The Prayers and Tears of Jacques Derrida: Religion Without Religion, John D. Caputo menggambarkan “agama” dalam pemikiran Derrida sebagai “sebuah iman tanpa dogma yang maju dengan risiko di dalam malam yang gelap pekat.”
Malam di gurun….
Jauh dari padang pasir, hidup di antara pantai kepulauan dan samudra, mungkin bagi kita lebih pas metafora lain untuk menggambarkan iman yang tanpa dogma: lautan. Iman yang tak dibatasi sistem adalah samudra yang merupakan kancah gerak yang tak penah berhenti. Arah hanya dikenal di bintang-bintang. Ombak seakan-akan itu-itu juga, tapi sesungguhnya senantiasa beda, berubah. Itu sebabnya lautan, yang menampung air dari pelbagai sungai, sebenarnya tak pernah bernama, sampai datang para penakluk dan pembuat peta.
Iman memang kemudian diberi label (“Islam”, “Kristen”, “Yahudi”, “Hindu”, dan sejenisnya). Ia diletakkan dalam sebuah peta. Tapi ibarat lautan, ia tetap mengandung risiko. “Unggahlah muatan dan berangkatlah berlayar,” tulis Rumi. “Tak seorang pun bisa tahu pasti akankah kapal tenggelam atau sampai ke pelabuhan.”
Dalam ketakpastian itulah keyakinan, atau iman, menyatakan diri. Itu berarti ia lebih kuat ketimbang konsep dan ajaran. “Berapa banyak lagi kalimat-kalimat, konsep dan kiasan? Aku inginkan api yang membakar, membakar, membakar” — Masnawi 2: 1760.
Goenawan Mohamad
3 Agustus 2015
Gagas Firas Silmi
Mangga dibaca, mangga di share.
For two millennia, great artists set the standard for beauty. Now those standards are gone. Modern Art is a competition between the ugly and the twisted; the...
Breaking news on a weekly basis. Sundays at 11PM - only on HBO. Subscribe to the Last Week Tonight channel for the latest videos from John Oliver and the LWT...
Some wizard kids
Vaughn is amazing, everybody. Do yourself and follow him if you’re not already.
Part 1: Liburan Habis Tugas Akhir Gunung Rinjani.
Estetika Humanis Romo Mangun
Estetika Humanis Romo Mangun
Sebuah kritik Buku Wastucitra
Ketika kita terperangkap dalam permainan bentuk , mulai dari adisi dan reduksi saling tabrak geomteri, atau liuk lengkung yang menggoda, hanya untuk mendefinisikan imago (pancaran diri) kita pada bangunan yang kita bangun. Serta dengan angkuhnya menganggap kreasi diri adalah pancaran keindahan. Sebuah buku usang yang sudah terbit sejak tahun 1988 memberikan pencerahan, bahwa keindahan bukanlah melulu mengenai bentuk.
Buku itu berjudul Wastucitra, karya Y.B. Mangunwijaya. Buku dari seorang arsitek dan sekaligus budayawan yang dikenal sebagai Romo Mangun ini menjelaskan mengenai suatu hal yang lebih dalam, lebih berhubungan dengan mental, kejiwaan, kebudayaan arsitektur. Wastucitra mengambil nilai-nilai di dalam diri manusia sebagai analogi dalam berarsitektur.
Wastu citra menjelaskan bahwa manusia akan lebih menjadi manusia ketika tidak hanya bergumul pada hal-hal teknis saja, manusia akan menjadi manusia ketika dalam dimensi citra memiliki kualitas. Karena citra penting dalam tata pergaulan untuk menunjukan siapa kita. Sama halnya seperti makan serta berpakaian, dalam bangunan pun ada suatu usaha untuk melambangkan nilai-nilai yang lebih dalam serta melambangkan jati diri. Namun jati diri yang seperti apa? Inilah yang akan dijabarkan melalui dialektika yang cantik oleh Romo Mangun dalam buku Wastucitra.
Kritik ini akan mencoba menjabarkan latar belakang dari nilai estetika yang dipilih oleh Romo untuk mendefinisikan citra arsitektur Indonesia. Pertama tama kritik ini akan menjelaskan mengenai konten dari Wastucitra secara singkat. Penjabaran ini diharapkan dapat mengenalkan mengenai konten yang saya garis bawahi dari pemikiran Romo yang akan saya kritik. Kemudian akan diterangkan pula mengenai preferensi, atau kecondongan Romo dalam filsafat yang dipilih untuk mendefinisikan arsitektur Indonesia. Dengan mengetahui preferensi diharapkan kita dapat mengetahui nilai apa yang menurutsaya lebih ingin ditonjolkan pada tulisan ini oleh Romo. Terakhir, kritik ini akan membahas mengenai mengapa nilai tersebut menjadi preferensi dari Romo.
Selayang Pandang Wastucitra
Perjalanan mengenal citra dimulai dari penjelasan mengenai bahasa ungkapan. Manusia tidak hanya berbahasa mengenai cakap lidah, tapi juga dengan gerakan. Tubuh ini adalah sarana yang menghubungkan antara batin dengan alam semesta. Maka dari itu, tubuh adalah wadah atau ruang untuk memancarkan jiwa.
"tubuh adalah kendaraan kehadiran kita di dunia. Untuk mahluk hidup, tubuh berarti bergumul di dalam suatu lingkungan tertentu, berhadapan dengan hal-hal tertentu dan melibatkan diri dengannya tanpa henti... Tubuh dalam arti mulia dalah ruang yang mengungkapkan diri."
Namun begitu pula sebaliknya, semakin kita berinteraksi dengan alam, semakin kaya jiwa kita. Romo menjelaskan hal ini terjadi karena tubuh dan jiwa bukan merupakan dualisme, namun satu kesatuan.
Ruang berhubungan erat dengan arsitektur. Monty menjelaskan bahwa manusia berbeda dari ruang-ruang yang lain. Tubuh manusia adalah karya seni yang mencoba menampilkan sesuatu , menampilkan sesuatu yang lebih dari hanya mengenai gunanya saja. Dalam berbicara, kita tidak hanya menyampaikan melalui kata kata, namun kita meliuk-liuk dalam aksen, tinggi rendah, serta nada dalam berbicara.
Citra yang sebagai pancaran jiwa, tentunya ingin dikenal sebagai sosok yang indah. Romo Mangun percaya bahwa keindahan bukan trend mutakhir, serta material yang mahal belaka. Tapi lebih kepada kejujuran, kewajaran.
Dalam membahas keindahan, tentu satu sama lain akan saling bersilang pendapat. Dalam melihat seseorang tentu dalam lingkungan yang sempit kita dapat mengatakan bahwa mana pria dan wanita yang ganteng dan cantik. Namun dalam tataran yang lebih luas tentu kita akan melihat perbedaan yang terpampang dengan nyata, dan menyadari bahwa ternyata definisi keindahan pun ternyata berbeda dalam hal melihat manusia. Apalagi yang lain. Maka dari itu kita tidak dapat menyamakan pendapat nilai estetis satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lainnya. Maka dari itu kita perlu mempelajari budaya sebelum menilai keindahannnya.
Hal yang paling awal dalam pemahaman ke-aku-an dalam budaya manusia adalah "cita rasa dalam penghayatan kosmis dan mistis atau agama". Pertama-tama cita rasa diri manusia bukan mengedepankan keindahan mata belaka, namun wujud penghambaan terhadap hal yang lebih tinggi. Penghambaan kosmologis ini berkembang melalui pemahaman-pemahaman manusia akan wahyu tuhan yang diterapkan ke dalam bangunan. Namun bentuk penghambaan ini tidak menjadikan suatu bentuk menjadi monopolistik. Bentuk-bentuk bercampur baur menjadi satu, demi mengejar penghambaan kepada tuhan masing-masing.
Dari berbagai kebudayaan yang ada, kita dapat melihat bahwa banyak agama atau kepercayaan yang menempatkan suatu titik di muka dunia sebagai pusat dunia. Pusering jagat bagi orang Bali, Mekkah bagi orang Islam, dan Gunung Golgotha bagi orang India. Kesadaran akan suatu pusat dunia menurut Romo sangat lah wajar. Karena manusia membutuhkan orientasi, untuk menempatkan dimana diri (pengkiblatan diri).
Orang India memandangan dunia sebagai cerminan dari sang esa. Semua yang dialami adalah semu belaka, maya, oleh karena itu orang yang pintar adalah orang yang mampu mengetahui bahwa yang benar-benar nyata adalah ketunggalan itu sendiri. Pembebasan akan kehidupan yang maya ini adalah tujuan hidup bagi orang India. Proses pengekangan diri ini sangat panjang dan penuh perjuangan agar terbebas dari keadaan yang maya. Kebenaran yang dianut oleh arsitektur India adalah usaha untuk mengingatkan diri bahwa kehidupan ini hanyalah hal yang maya. Pencarian arsitektur dengan jenis ini dikenal sebagai pendekatan mitologis.
Pandangan berbeda datang dari barat, yang mempercayai bahwa realita adalah dunia ini. Estetika adalah pemuas kebutuhan duniawi untuk saat ini. Peperangan gaya yang terjadi sebenarnnya pemusatannya adalah pada keinginan untuk mencari bentuk yang dapat memuaskan kebutuhan duniawi untuk saat ini. Kebenaran yang dianut oleh Arsitektur Barat adalah bagaimana cara mencari enteleki dari suatu barang, agar mencapai titik trensendensi tertingginnya. Pencarian arsitektur dengan jenis ini dikenal sebagai pendekatan ontologis.
Romo Mangun mengatakan bahwa perhelatan antara yang mitologis dan ontologis selalu ada di dunia ini. Antara tari jawa yang kalem, dan tari bali yang gemerlap. Antara jawa yang lebih suka memperdalam diri melaui uraian uraian mendalam , ningrat, dan penuh pengekangan diri. Bali disisi lain lebih konkret, ekspresif dan merdeka. Perlambangan Arjuna dan Rahwana, Apollo dan Dynisios. Bukan masalah benar salah, namun memposisikan diri untuk memilih yang mana. Sifat Arjuna yang tenang muncul dalam fungsi fungsi yang tenang pula, seselarasan bentuk simetri muncul sebagai perlambangan Arjuna. Begitu pula bangunan dengan fungsi yang lebih ekspresif akan mengambil Rahwana sebagai acuan. Perhelatan antara barok dengan klasik ini terus berulang di berbagai kebudayaan yang lain. Maka yang perlu kita sadari bahwa keduannya memiliki posisinya masing masing.
Memaknai arsitektur, dalam artinya yang miskin akibat pemahaman murni ontologis orang yunani membuat arti dari kata arsitektur hanya sebatas 'tukang ahli bangunan' semata. Dalam kebudayaan India arsitek disebut sebagai sthapati. Dalam pemahaman arsitektur India, atau vastuwidya, vastu memiliki pemahaman yang lebih mendalam yaitu selain ilmu, juga norma, tolak ukur hidup susila, pegangan normatif semesta. Maka dari itu vastu memiliki nilai yang lebih dalam dibandingkan architektoon.
Kiblat kita yang murni pada architektoon membuat kita ikut dalam pemahaman estetik yunani yang murni ontologis lepas mitologis sehingga hilang pula aspek penghayatan. Pemahaman vastu menilai bahwa hakekat arsitektur adalah bangunan bukan suatu yang lepas dari sisi manusia. Fungsi vastu adalah mentransformasikan 'ke-ada-an' manusia, sehingga muncul pemahaman total akan diri dengan kondisi sekitarnnya.
Untuk manusia modern menangkap dan mengkristalkan maksud mistik kedalam bangunan bukan lagi jadi persoalan. namun sisi penghayatan pada suatu hal yang lebih dibandingkan sisi materi tapi lebih jauh dari itu.
Pemahaman konkret dari vastu-sebagai bangsa yang merebut kemerdekaan demi kesejahteraan- adalah usaha untuk melihat yang lebih lemah, menciptakan karya tata ruang yang lebih indah dan manusiawi bagi mereka. Dari perdebatan mengenai Rahwana dan Arjuna tadi, yang hanya sebatas perhelatan belaka seharunnya kita dapat melihat sesuatu lebih dalam lagi, membuka realita yang lebih kompleks dibandingkan hanya sekedar mengedepankan 'norma estetika yang antik' namun melihat realita yang sebenarnya dan memahami keutuhannya dengan penghayatan yang baru bahwa norma estetika tidak didapatkan dari kulitnnya belaka.
Preferensi India
Pada bagian awal Romo menganalogikan arsitektur dengan tubuh manusia. Tubuh manusia sebagai ruang yang menghubungkan jiwa dengan semesta bukanlah dua hal yang terpisah, namun satu kesatuan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut.
"Dari sebab itu, segala indera dan cira rasa yang tergetar oleh suatu situasi atau penggairahan fisik alami, langsung itu menyentuh juga ke dalam perasaan menimbuklan reaksi dan sikap kejiwaan.
"hati kita berdendang bersama dengan kicau riang burung-burung di pagi hari yang cemerlang"
Maka dalam berarsitektur saya rasa Romo mengininkan bahwa dalam menciptakan ruang-ruang yang ada, kita harus memahami bahwa ruang-ruang itu tidak hanya melambangkan jiwa kita, namun juga dengan ruang-ruang tersebut jiwa kita semakin terisi. Ruang tidak hanya menjadi entitas terpisah dari jiwa 'si pembuat' yang berusaha memamerkan diri, namun satu kesatuan yang apabila ruang tersebut berinteraksi buruk dengan sekitar tentu akan merusak citra dari sang pembuat pula. Sehingga apabila membangun kita harus bisa membuat ruang yang tidak hanya berusaha pamer namun semakin memperkaya diri kita.
Walaupun konsep ini dapat dapat diterima di kedua sisi Barat dan India, namun saya rasa hal ini menunjukan bahwa Romo memiliki preferensi khusus pada arsitektur India. Arsitektur India yang reliefnya bukan usaha untuk memamerkan diri dan pemuas nafsu belaka namun sebagai usaha untuk berkomunikasi dengan diri agar selalu ingat bahwa diri ini adalah fana, sangat mirip dengan konsep analogi manusia sebagai satu entitas antara jiwa dan badan.
Apabila ditelaah lagi, pengaruh India sangat kuat melekat dalam Wastucitra. Usaha untuk meredefinisi arsitektur Indonesia berpusat pada vastu yang terkandung dalam arsitektur India. Kedekatan atau preferensi Romo terhadap kata vastu yang memiliki definisi luas sebagai 'pengatur norma dalam membangun', dibandingkan arkhitektoon sebagai 'kepala tukang' menunjukan bahwa pendekatan India dalam mendefinisikan arstitektur lebih mengenai nurani Romo. Usaha pendekatan diri kepada tuhan, serta usaha mengingatkan diri bahwa kebahagiaan duniawi adalah hal yang fana pada aristektur India sesuai dengan latar belakang Romo Mangun sebagai pemuka agama.
Arsitektur India sangat berhubungan erat dengan candi-candi yang ada di Jawa. Pertanyaannya adalah mengapa hanya unsur India yang dimasukan ke dalam buku ini. Padahal apabila kita lihat, indonesia bagian timur tidak begitu terpengaruh dengan arsitektur India. Indonesia Timur lebih terpengaruh pada arsitektur Australia dan Portugis. Saya rasa hal ini terjadi karena latar belakang Romo yang berasal dari Jawa. Serta pengaruh citra yang lebih kentara terjadi pada Kebudayaan India yang lebih tua serta terdokumentasi dengan baik, sehingga dapat dilihat pola pikir budaya yang terjadi ketika pembangunan bangunan.
Kegelisahan Massa Transisi
Pada tahun 1951, Y.B. Mangunwijaya masuk ke Seminar Menengah di Kotabaru. Setahun kemudian, ia pindah ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang. Ia melanjut ke Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Di sinilah ia bertemu mentornya, Uskup Soegijapranata, SJ., sosok yang juga menjadi tokoh Nasional. Uskup Soegijapranata, SJ. merupakan uskup agung pribumi pertama di Indonesia. Tidak hanya mengajar, Soegijapranata pulalah yang menasbiskan Romo Mangun sebagai imam pada tahun 1959.
Meski telah menjabat sebagai imam, cita-cita Romo Mangun sejak lama untuk menjadi insinyur tidaklah hilang. Itulah sebabnya, setelah ditahbiskan, ia justru melanjutkan pendidikannya di Teknik Arsitektur ITB, juga pada tahun 1959. Dari ITB, ia melanjutkan studinya di universitas yang sama dengan B.J. Habibie, yaitu di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman pada 1960, yang diselesaikannya pada tahun 1966.
Kemudian pada tahun 1988, Romo Mangun menulis Wastucitra. Pada saat penulisan Wastucitra terjadi banyak pergolakan pemikiran Arsitektur. Mulai dari Robert Venturi, melalui bukunnya Complexity and Contradiction in Architecture pada tahun 1966 Hingga kemunculan pergerakan Deconstruksi yang memuncak pada keikutsertaan dari Derrida dan Eisenman pada tahun 1982 di Parc de la Villette Design Competition. Saya rasa pada tahun-tahun ini terjadi pula pergolakan pemikiran pada diri Romo Mangun. Ketika pertannyaan mengenai fungsi/guna menjadi suatu hal yang coba dilawan pada pergerakan post modernisme. Serta keserampangan bentuk yang terjadi pada proses perancangan dekontruksi yang sangat tidak linear. Membuat Romo Mangun mempertannyan mengenai apa realita keindahan yang sebenarnnya.
Pertannyaan mengenai Citra Keindahan juga di laterbelakangi isu panas yang terjadi pada tahun 1960-an, ketika muncul konsepsi Soekarno mengenai New Emerging Force atau Nefo. Perang dingin yang terjadi antara Blok Timur dan Barat membuat Soekarno merasa bahwa harus ada blok kekuatan yang menyeimbangkan kedua kekuatan tadi. Oleh karena itu pada tahun 1963 terjadi pembangunan besar-besaran demi menyelenggarakan Ganefo (games of new emerging force) serta menyelengarakan Conefo. Bangunan bangunan megah bermunculan dengan langgam Modern di Ibukota Jakarta. Berusaha menjadi mercusuar, yang terlihat dari seluruh penjuru dunia, berharap menjadi negara yang dapat bersanding dengan negara-negara besar lainnya.
Sedangkan pada massa Soeharto, Indonesia kembali mencari jati dirinnya. Pembangunan besar-besaran pun terjadi pada massa ini. Mulai dari TMII, Patung Arjuna Wijaya, hingga Masjid At-Tien. Kita dapat melihat bahwat terdapat karakter post-modernisme yang muncul pada bangunan pada massa Soeharto. Namun lagi-lagi Romo melihat bahwa pembangunan-pembangunan ini lupa bahwa masih banyak masyarakat miskin yang tidak tersentuh bahkan hancur karena arsitektur.
Pemahaman Romo Mangun ini semakin dalam akibat keterlibatannya pada proyek-poroyek sosial mulai dari Kedung Ombo hingga Kali Code. Kedung Ombo adalah peristiwa penolakan penggusuran dan pemindahan lokasi pemukiman yang dilakukan pada rezim Soeharto, oleh warga karena tanahnya akan dijadikan waduk. Penolakan warga ini diakibatkan kecilnya jumlah ganti rugi yang diberikan. Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja'far, pengasuh pondok pesantren Pebelan Magelang mendampingi para warga yang masih bertahan di lokasi, dan membangun sekolah darurat untuk sekitar 3500 anak-anak, serta membangun sarana seperti rakit untuk transportasi warga yang sebagian desanya sudah menjadi danau. Begitu pula dengan Kali Code yang tidak layak huni, kedekatan Romo dengan Kali Code terjadi akibat bencana banjir yang melanda Kali Code. Kondisi yang mengenaskan membuat Romo tergerak untuk membangun serta menata kembali kawasan Kampung Code yang kumuh menjadi baik. Keduannya melambangkan bahwa usaha untuk memperindah wajah bangsa ini sebenarnnya hanyalah topeng yang tidak memperhatikan kemisikinan yang terjadi (sebagai realita yang sebenarnya)
Romo Mangun yang terlibat dalam permasalahan yang terjadi pada masyarakat kecil yang masih tinggal dipinggir sungai kotor merasa bahwa Indonesia buta akan reallita, memamerkan citra sebagai negera besar, dengan bangunan-bangunan megah jalan-jalan besar di Ibukota. Sedangkan diri masih bobrok. Segala bentuk dan gaya yang ada tidak pernah beranjak pada usaha 'pamer' serta mencitrakan diri sebagai bangsa yang besar. Namun pancarannya tidak berkomunikasi kebalikannya pada diri sendiri, pada jiwa yang ada didalamnya yang ternyata masih gersang.
Permasalah ini menurut saya menjadi salah satu titik balik dalam pemikiran Romo Mangun mengeai keindahan. Karena walaupun terjadi pembangunan besar-besaran pada massa pemerintahan soekarno dan soeharto tapi ternyata tidak benar benar menyelesaikan realita yang ada. Arsitektur yang ada tidak memeancarakan kebenaran yang terjadi disekitarnya. Pertarungan antara Arjuna Soekarno dengan Rahwana Soeharto hanyalah dagelan belaka, karena keduannya lupa akan realita yang terjadi. Sehingga Walaupun bangsa ini mencitrakan diri sebagai bangsa yang besar, tetap terlihat bobrok karena keindahan adalah pancaran kebenaran.
Kritik Berselubung Citra
Saya tidak menyangkal bahwa buku ini hadir untuk kembali merunutkan estetika apa yang ingin tampilkan, layaknya gentle manifesto Robert Venturi. Buku ini menelaah satu persatu perjalanan bangsa-bangsa dalam pengolahan estetikanya masing masing. Namun terlepas dari semua itu, buku Wastucitra ini menurut saya adalah kritik yang implisit mengenai kondisi pembangunan pemerintah massa Soekarno dan Soeharto yang buta realita.
Buku ini perlahan-lahan memperkenalkan mengenai bagaimana estetika dilatarbelakangi oleh berbagai macam hal mulai dari kosmologis, mitologis, hingga filsafat. Kemudian kita disadarkan bahwa selalu terjadi perhelatan antara arjuna dan rahwana, Apollo dan dynisios,clasic dan baroque, menjelang penghujung buku pemahaman kita seakan utuh, dengan satu kesimpulan di kepala bahwa, banyak latar belakang yang mewarnai pembentukan citra estetis dari tiap budaya. Kutipan Aquinas mengenai 'Kebenaran adalah pencaran kebenaran' menjadi landasan bahwa kebenaran dapat sangat prulal, dan tergantung preferensi masing masing. Namun dengan cantiknnya penghujung bab Romo Memberikan satu pertannyaan cantik mengenai kondisi realita bangsa yang masih tidak menikmati Arsitektur, masih tinggal di hunian yang tidak layak dan menderita. Maka pemahaman akan kebenaran yang prulal pun seketika berubah.
Kebenaran yang ingin disampaikan oleh Romo Mangun bukan semata-mata kejujuran bentuk, maupun pencarian transendensi belaka. Kebenaran adalah realita yang ada disekitar kita. Membangun bangunan harus melihat dampak bangunan kepada pengguna, juga sekitarnnya. Dengan Gaya rahwana, ataupun gaya arjuna, keduannya harus bertolak pada pemahaman kebenaran adalah penyelesaian masalah di sekitar kita.
Romo Mangun tidak secara eksplisit, berkoar-koar dengan menuliskan hujatan dari awal bab saya rasa karena menyampaikan kritik mengenai kondisi pemerintahan serta negara ini sangat tidak bebas pada saat itu. Pada 1988, ketika Soeharto berkuasa media memiliki ruang gerak yang terbatas, sehingga Romo harus menampilkan kritik ini dengan lebih halus.