
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from China

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Poland
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Italy

seen from Indonesia
seen from China
seen from United States
seen from Singapore

seen from Taiwan
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
#3idiots 😜😜Any questions!!! Yesss Sirrrr! #coronavirus #corona 🤖For Funn Only😆#yugandhale 🎭#amolandhale 💞 (at Lonar Meteoritic Impact Crater) https://www.instagram.com/p/B8QGm9AFM-P/?igshid=7cuhufnxxy2y
3 idiots anon here, I didn't mean that JC will attempt suicide like Raju (also sorry for not clarifying it)--I agree with notti that the story doesn't necessarily need to follow the plot of the movie scene per scene... I headcanoned JC as Raju because their personalities and their feelings of inferiority to WWX/Rancho are just so similar.
AND HEY HAPPY ENDING ALL AROUND FOR EVERYBODY!!!!! ❤️❤️❤️
forty days of productivity challenge
🍁 Day 1 of 40
After having a (very) unproductive 2019 (sort of)... it wasn’t really all unproductive it’s just... it wasn’t the way I wanted my first year of med-school to be, in terms of studies. So here I am, I’ve decided to give this challenge a go in an attempt to get back to a satisfactory study routine.
I did some anatomy today (a good start in my opinion).
• Thorax osteology and thoracic muscles
Plus I rewatched my all time favourite movie: 🍿 3 Idiots!
If we were meant to stay at one place we'd have roots instead of feet.
Jatuh Cinta pada Film India (sudahlah, kau tak akan mengerti…)
Saya masih ingat betapa saya membenci film Kuch Kuch Hota Hai.
Bapak saya tidak habis-habisnya mengutuki Shah Rukh dengan sebutan cengeng, banci, dan lain sebagainya. Ketika ada Shah Rukh di televisi, Bapak saya hanya mampir berdiri di depan televisi sambil memakinya. Namun, alasan saya membenci film tersebut bukan berdasar pada sinisme Bapak saya. Geli rasanya melihat adegan di mana lelaki yang jauh dari kesan gagah karena gampang menangis karena cinta. Apalagi ditambah dengan kegemaran menyanyi dan menari di taman! (Belakangan saya mulai nggak yakin kalau film yang bikin saya geli dengan Shah Rukh adalah Kuch Kuch Hota Hai, jangan-jangan termasuk Dil To Pagal Hai, Dilwale Dulhania Le Jayenge, de el el)
Shah Rukh adalah alasan saya membenci film Kuch Kuch Hota Hai… hingga kemudian saya membenci film India. Konon televisi swasta jaman saya masih SD dulu kompakan untuk selalu memutar film(-nya) Shah Rukh Khan setiap kali mereka niat bikin program box office film Bollywood. Praktis saya selalu mengasosiasikan film India dengan Shah Rukh. Ya, si Shah Rukh! Menonton film India berarti bersedia melihat si Shah Rukh berlenggok dan menangis (bawang) bombai karena cinta. Jangan salahkan prasangka anak SD!
Masa-masa kejayaan si Shah Rukh di televisi (Jakarta yang bersiaran ke seluruh) Indonesia tersebut seolah menghapus segala memori indah masa kecil saya bersama film India. Mungkin saya masih berusia empat. Mungkin saya masih TK nol kecil. Saya tidak begitu ingat. Tapi saya ingat bahwa dulu mata saya berulang kali lengket ke layar kaca saat nonton film India yang tayang siang hari. Judulnya saya tidak pernah ingat. Saya hanya ingat Inspektur Vijay menang melawan penjahat di suatu lapangan pasir yang luas mirip alun-alun di tengah bangunan, lalu untuk alasan yang selalu klise bala bantuan polisi selalu datang terlambat… Barangkali itu filmnya Amitabh Bachchan. Atau Govinda??
Film India yang begitu Indah dan membuat saya terpaku itu menyajikan keseruan luar biasa (barang kali… saya juga tidak ingat). Keseruan itu berupa adegan berkelahi mungkin mirip serial Power Ranger yang selalu saya tonton di hari Minggu. Barang kali… saya juga tidak ingat. Tapi saya yakin memori potekan dari masa kecil saya ini benar kenyataan. Pokoknya begitu!
Film India selalu di sana… menanti saatnya yang tepat untuk kembali menyapa saya. Tanpa sepengetahuan si Shah Rukh tentunya.
Sewaktu saya SMA, saat yang agak tepat akhirnya datang. Film India kembali menyapa saya melalui 3 Idiots. Bukan jagoan yang ahli berkelahi, bukan inspektur polisi yang berkeringat seusai menghajar cecunguk, namun jelmaan om-om dalam peran anak kuliahan. Sebagai anak SMA yang sedang kehilangan sosok idola yang pantas digilai, saya langsung kesengsem dengan tokoh Rancho yang tampan, konyol, namun luar biasa jenius sekaligus peka.
3 Idiots membuat saya merasakan kembali mata saya yang sempat lengket ke layar (yang sudah berganti zaman jadi layar) LCD. Namun, sepertinya si Shah Rukh mengetahui konspirasi film India untuk kembali dalam kehidupan saya. Bayang-bayang kegelian menonton si Shah Rukh muncul kembali ketika melihat adegan joget mana pun dalam film 3 Idiots. Tidak cukup di situ, si Shah Rukh nampaknya masih murka dengan konspirasi tengil ini. Sebagus apa pun film 3 Idiots, film tersebut tetap berakhir dalam label “film norak karena asalnya dari India” dalam lingkaran pertemanan saya. Saat yang agak tepat memang tidak bisa memaksa, sehingga film India kembali menjadi kategori yang saya benci.
Aamir Khan memang cukup mengisi kekosongan sosok idola yang saya cari. Meski di bawah tekanan, saya melanjutkan nonton Taare Zameen Par setelah nonton 3 Idiots. Semua dilakukan diam-diam, tanpa woro-woro saya sudah menonton satu film bagus ke teman-teman. Namun, agaknya si Shah Rukh masih belum mengizinkan cinta yang bersemi antara saya dengan film India. Ini karena saya masih percaya bahwa setiap adegan joget dalam film India adalah adegan yang tidak perlu. Pikturisasi lagu, begitu menyebutnya, selalu mengingatkan saya dengan si Shah Rukh yang melenggok di taman sambil menggoda lawan main perempuan yang kehabisan kain baju.
Sulitnya kisah cinta saya dengan film India membuat saya berhenti dan menyerahkan diri pada film-film standar (maksudnya Hollywood) yang dipercayai oleh lingkungan saya sebagai film yang normal, bagus, berkelas, dan selera (lebih) tinggi (daripada Bollywood). Standar kuantifikasi atas film Hollywood tidak pernah saya tanyakan dari mana asalnya. Mungkin akibat imperialisme yang kelamaan. Mungkin juga itulah cara untuk selamat dalam kerasnya lingkungan pertemanan. (Atau jangan-jangan ini ulah si Shah Rukh?!)
Begitu terus sampai bertahun-tahun… saya hanya menonton film Hollywood (sesekali Indonesia). Bisa dibilang, awiting tresna jalaran saka kulina. Kebiasaan saya mengkonsumsi film Hollywood membuat saya bisa menyebutkan film mana saja yang menyenangkan untuk ditonton. Sering kali merasa bangga dengan beberapa pilihan film tertentu karena plot cerita yang aneh. Atau sekedar berusaha menjadi penggemar dari kisah imajinatif yang kelewatan tentang masa depan.
Sebegitu terbiasanya saya dengan film Hollywood hingga saya abai pada sapaan halus film India. Bahkan ketika lingkungan pertemanan tidak lagi memiliki kategori norak untuk negara produsen film, saya tetap tidak menggubris film India.
Sapaan selanjutnya adalah melalui film PK. Aamir Khan yang sempat dulu saya puji karena wajahnya yang rupawan dalam 3 Idiots kembali menyapa saat itu. Namun, saya tidak menggubris. (Belakangan saya menyesal luar biasa tidak memanfaatkan kesempatan untuk nonton PK di bioskop Indonesia! Luar biasa menyesal dan berakhir nyesek! Bioskop Indonesia jarang sekali menjual film India. Jika pun ada yang menjual, maka itu adalah bioskop-bioskop Jakarta. Saya tidak memanfaatkan kesempatan itu ketika saya tinggal di Jakarta. Masih nyesek. Aamir Khan selayar tancep nggak ditengok!).
Nampaknya film India belum lelah juga. Kesetiaan untuk menunggu kesempatan YANG TEPAT akhirnya datang untuk film India dalam kehidupan saya. Masih melalui Aamir Khan, si santo, film India kembali menyapa saya dengan film Dangal. Santo Aamir hanya terlihat tampan selama beberapa menit, sisanya ia nampak seperti roti khas India yang sedang dibakar di atas kompor, menggembung. Bukan karena fisik santo Aamir yang sempat saya puji, namun justru karena cerita yang entah mengapa terasa masuk akal dan detil.
Akibat Dangal itulah dengan seketika saya merasa Hollywood adalah omong kosong belaka. Si Shah Rukh dengan Kuch Kuch Hota Hai-nya telah terperdaya berhasil dibuang ke palung. Saya jatuh cinta kembali dengan film India! Tanpa takut mengalami tekanan dalam lingkaran pertemanan, tanpa bayang-bayang si Shah Rukh, tanpa asosiasi lelaki norak yang cengeng dalam setiap film India!
Semua serba tiba-tiba. Tiba-tiba juga saya nggak nafsu dengan film Hollywood apa pun. A-pa-pun! Saya bahkan melewatkan aksi terbaru Jack Sparrow yang dulu sempat menjadi panutan saya semasa sekolah. Saya juga melewatkan banyak film kartun terbaru bikinan Pixar maupun Dreamworks. Menonton trailer film Hollywood terbaru pun seolah sudah bisa menebak akhir filmnya.
Semua itu saya rasakan berbeda dengan film India. Setelah Dangal, saya memburu film India. Film apapun, tidak ada santo Aamir pun tidak masalah! Saya merasakan ekstase luar biasa ketika mampu memahami kaitan dialog dalam durasi yang terkutuk. Saya merasakan ekstase ketika saya gagal membuat plot twist untuk akhir cerita yang sulit saya tebak. Saya juga merasakan ekstase ketika saya bersimbah air mata atas kisah cinta mematikan yang tidak bisa diselamatkan dengan logika apapun (nah ini ada ceritanya tersendiri… nanti saya tulis!). Hollywood tidak memiliki hal yang seperti ini! Ekstase tersebutlah yang membuat saya kembali mencintai film India, sangat mencintai. Santo Aamir sudah menumpas si Shah Rukh yang cengeng dan seperti godir meliuk-liuk!
Ah sudahlah… Kau tak akan mengerti.
PS: I never said Shah Rukh is a bad actor. Forget it, you won’t understand.
3 Idiots (2009) - Aal Izz Well Lyrics Meaning (English Translation) | ऑल इज़ वेल #3idiots #shantanumoitra #swanandkirkire #sonunigamsongs #Shaan #AamirKhan #RMadhavan #SharmanJoshi #songlyrics #HindiKala Song Lyrics: https://hindikala.com/3-idiots-2009-aal-izz-well-lyrics/