Bukan Surat Cinta Tapi Surat Untuk Chinta
Sedikit aku berkisah. Ada seorang pemuda tanggung yang akhir-akhir ini gemar bertandang ke warung mbako wiwoho, dalam intensitas 2 sampai 3 minggu sekali. Termotivasi ingin menghemat anggaran (pengeluaran) pribadi tanpa harus memutus nikmat candoe, pemuda ini nekat bermotoran ke Tugu walau STNK sudah mati sejak tahun 2017 lalu.
Berbagai jenis dan merek tembakau dijajakan di muka warung, tertutup rapat di dalam jar yang tertata rapih di atas rak bertingkat. Setelah mencicipi beragam tembakau dari yang terkenal sampai yang asing sekali di telinga ataupun visual sang pemuda. Akhirnya, dengan mantap sang pemuda bersabda “Mbak, mbako paitonnya boleh deh 1 ons” tentu dengan suara serak dan terbatuk-batuk sedikit dikarenakan asap tembakau yang sedari tadi keluar masuk di kerongkongan, silih berganti tanpa putus. Untungnya, sang pemuda berwatak cerdik. Ia telah menyiapkan air bening untuk menyegarkan kembali tenggorokannya.
Semenjak saat itu, sang pemuda sangat jarang membeli rokok bungkusan karena lebih gemar ngelinting sendiri. Alih-alih diminta berhenti oleh puan, sang pemuda malah ketagihan menghirup asap paiton, bahkan sudah menjadi kebutuhan.
Ini lah kisah kasih sang pemuda bersama “mbako paiton”. Seperti perasaan rindunya kepada puan, asap paiton terus berhembus keluar di setiap hela nafasnya. Paling sesekali berhenti hanya sebentar karena sesak. Setelahnya lanjut lagi bas-bis-bus kayak sepur. Semoga puan tidak keberatan.
(ditulis hari Selasa, 14 Agustus 2018)