My hands were shaking, holding this phone. Both of them were feeling so cold while writing this.
Aku terdiam menganalisa, sambil berusaha mendeskripsikannya. Dan lagi-lagi, apa yang terjadi ini bukanlah yang pertama.
Nafasku tersengal. Rasa panasnya seperti perlahan naik ke tenggorokan. Tapi justru dinginlah yang menguasai telapak tangan dan kaki, juga tubuhku, dalam satu waktu. Ditambah sedikit bumbu sakit kepala, keringat dingin, mual, dan perut yang seketika terasa penuh dengan udara.
Obat kunyah rasa mint dan pil pereda nyeri adalah teman baikku, yang sebenarnya, tak pernah benar-benar aku inginkan kehadirannya. Namun dalam kasus ini, justru merekalah yang selalu aku butuhkan kontribusinya.
Satu-satunya hal yang kuinginkan saat ini hanyalah tidur, agar tak sampai kurasakan sakit hingga ke akarnya. Harapanku berkata, aku akan bangun dalam kondisi sudah baik saja. Sungguh aku merasa sangat lemah sampai ingin menyerah. Apalagi ketika begitu banyak hal menunggu untuk diselesaikan. Makin tertekan.
Orang-orang selalu bilang "Jangan lupa makan. Makan yang banyak. Jangan berfikir terlalu berat."
Tapi sesungguhnya, aku tidak pernah lupa makan, bahkan secara otomatis selalu mengingatnya di luar kepala. Meski sangat butuh effort untuk merealisasikannya dengan baik dan benar, sekuat tenaga.
Aku tak bisa makan terlalu banyak, karena efeknya sama saja dengan telat makan atau tidak makan sama sekali. Maka biarkan aku makan sesuai porsiku sendiri.
Aku tidak memikirkan hal berat yang tak kuanggap penting seperti perkembangan detil kehidupan percintaan orang lain. Aku hanya berusaha menganalisa hal-hal esensial dalam hidupku. Dan bagiku, hidup tak akan pernah lepas dari proses berfikir. Aku suka melakukannya. Lantas, haruskah aku berhenti jika berarti itu akan membuatku mati?
Makanan pedas, santan, asam, teh, dan kopi. Mereka selalu bisa memicu naiknya asam lambungku sesuka hati. Melumpuhkan aku yang tak hati-hati.
Maka, definisi "makan enak" menurut kebanyakan orang menjadi tidak sama denganku. Yaitu ketika tubuhku bisa menerima makanan dengan nyaman dan aman, meski itu "hanya" nasi putih dan telur dadar.
Angin, dingin, AC, kipas, lantai tanpa alas, tidur tengah malam atau menjelang pagi. Mereka tak ingin berkawan denganku, malah justru berkonspirasi memicu ambruknya tubuhku.
Maka, definisi "kenyamanan dan kebiasaan" menurut sebagian besar manusia di luar sana menjadi tidak sejalan denganku.
"Kayaknya aku lebih cocok tinggal di Afrika." Sesekali bercandaan itu keluar dari mulutku. Mentertawakan kondisi tubuh yang sama sekali tak bisa diajak kerjasama, ketika ruang kerja sedang dingin-dinginnya.
Setidaknya, meskipun dinamika kesehatan seminggu ini benar-benar menguji, ada sebuah pesan istimewa yang aku dapat pelajari dari sana. Maka ijinkan aku membagikannya, barangkali saja kalian membutuhkannya.
Sebegitu bergantungnyakah dirimu dengan obat-obat yang kau minum itu? Hingga tanpa sadar harapanmu sepenuhnya tertuju pada sebuah benda yang seakan bisa menyembuhkanmu.
Tidakkah kamu berfikir bahwa semua itu tak ada gunanya sama sekali ketika Dia tak berkenan menganugerahkan kesembuhan untukmu?
Lalu, sudahkah sakitmu itu membuatmu makin dekat pada Penciptamu? Atau justru malah menjadikanmu terlalu buru-buru hingga lupa mengadu?
Kalau takdirmu dipanggil sekarang, sudah siap belum kamu?
Maafkan aku Tuhan, ternyata bukan tubuhku yang sakit. Tapi hatiku.
Bukan tubuhku yang lemah, tapi imanku.
Ya, aku memang lemah, tapi bukankah aku adalah milik-Mu? Wahai Tuhan Yang Maha Kuat.
Terima kasih, karena tak pernah sedetikpun Kau meninggalkanku.