Ini sudah Sabtu lagi. Belakangan ini aku jarang keluar kamar. Kebingunganku semakin melanda. Saat sendiri, entah mengapa pemrosesan nama Rama dan segala kenangannya itu lebih cepat daripada saat aku tengah disibukkan dengan pekerjaanku. Aku terus mencari apa yang kurang dalam diriku. Pun aku terus mencari jawaban dari alasan logis mengapa Rama melakukannya. Ya, tak berselang lama setelah perpisahan kami, Rama dan perempuan itu resmi menjalin hubungan romantis. Sedang aku? Sama seperti aku saat ini, mengurung diriku di kamar dalam kegelapan.
Kamu tahu apa yang aku rasakan? Seperti sampah, dibuang begitu saja. Tak pernah diharapkan untuk kembali. Lantas kamu tahu apa yang aku lakukan? Anehnya, semarah apapun aku kepada Rama, aku masih bersikeras menghubunginya. Memastikan kabarnya baik-baik saja. Ikut memberikan selamat pada kelulusannya. Apa lagi ini kalau bukan cinta? Aku tak pernah sadar sampai detik ini aku baru memahaminya bahwa sebenarnya aku berharap Rama kembali kepadaku. Mengucap maaf dan meminta aku kembali dengannya, karena dia tak bisa hidup tanpaku. Aku ingin dihargai.
“Ya?” jawabku pelan dari dalam kamar.
“Na, makan yuk,” itu suara serak khas milik Resha.
Kubuka kunci kamar dengan lunglai. Kembali duduk di kasur dan Resha mengikutinya. Resha menutup pintu dan menghidupkan lampu baca. Mengambil beberapa buku berserakan di lantai dan merapihkannya. Lalu duduk di sampingku.
“Lo kenapa lagi sih Na?” tanyanya langsung ke inti pembicaraan.
Yang ditanya hanya termenung.
Resha memelukku siang itu. Tangisku pecah.
“Tumpahin aja semuanya Na, nggak papa. Gue bisa terus peluk lo. Gue nggak akan kemana-mana.”
Mendengar kalimat menenangkannya saja membuatku semakin histeris. Dalam tangisku, Resha hanya menepuk punggung dan rambutku. Tak ada satupun kalimat meluncur dari mulutnya, pertanda ia memberikan ruang untukku.
“Sha.. ke-kena-napa Ra-Rama ja-jahat sa-sama gu-gue.”
Resha mengeratkan pelukannya. Tak menimpali satu kalimatpun.
“Kurang apa gue buat dia Sha?” ucapku setengah menjerit.
Tiga puluh menit berlalu dan suara yang tersisa hanyalah deru tangisku. Aku melepaskan pelukan Resha sambil mengusap air mata di kedua pipiku.
“Minum dulu ya Na,” dengan tangkas Resha langsung mengambil botol minumku di nakas.
Resha dengan telaten merawatku. Dia tak pernah menanyaiku satu pertanyaan, tidak juga menghakimiku atas kebebalanku ini.
“Sekarang tarik napas dulu pelan-pelan. Atur napas dulu,” Resha memanduku dengan penuh kesabaran. “Tenang Una sayang. You will be okay.”
Napasku sudah mulai teratur.
“Thanks, ya Sha. Kalo nggak ada lo dua tahun ini, gue nggak bisa jamin masih ada di sini.”
Resha hanya tersenyum simpul.
“That’s what friends are for, Na. Udah lebih tenang?”
Aku mengangguk. Menegak lagi air dalam botol minumku.
“Sekarang coba cerita sama gue. Lo lagi mikir apa sih Na belakangan ini?”
“Gue bingung Sha, sebenernya apa mau gue. Ini udah dua tahun tapi kenapa gue susah banget ngelupain Rama. Padahal Rama udah jahat banget sama gue. Tapi nggak bisa dipungkiri kalo sebenernya gue sayang sama dia, sama mama papanya. Gue terus mikir, sebenernya apa yang jadi kekurangan gue sampe Rama selingkuh dari gue. Dia bahkan gak mau merjuangin gue lagi.”
“Na, lo pernah mikir nggak? Selama kalian pisah, emang Rama mikirin lo? Coba lihat. Apa dia masih care sama lo?”
“Lalu, apa yang lo harepin dari dia?”
“Ya gue jengkel aja kenapa Rama nggak mau cerita sama gue tiap dia ada masalah. Bawaannya kabur terus. Udah gue bilangin berkali-kali tapi tetep aja gitu. Dan kenapa dia berubahnya setelah udah nggak sama gue? Gue cuman pengen jadi rumahnya dia Sha, gak lebih.”
“Oke, lo pengen jadi tempat nyaman Rama buat cerita. Tapi masalahnya Rama mau nggak ngelakuinnya?”
“Hampir selalu enggak sih Sha. Terus gue salah apa ya Sha? Kenapa susah banget.”
“Aluna, lo mungkin nggak salah, harusnya nggak susah. Lo lagi nggak sama orang yang tepat aja. Percaya sama gue.”
“Terus gue harus gimana Sha? Rasanya pengen ngerengek ke Rama buat ngajakin dia balikan. Tapi responnya kayak ada benteng tinggi antara kami.”
“Na, sekarang gue tanya. Lo butuh pasangan yang kayak gimana sih?”
“Yang mau saling terbuka Sha, yang setia.”
“Terus, menurut lo Rama udah sesuai belom?”
“Hm..” aku bergumam lama. Sulit untuk mengakui bahwa memang Rama tak pernah bisa seterbuka aku padanya.
“See? Lo ragu buat jawab artinya ada keraguan lo ke dia.”
“Na, lihat gue!” Resha menyentuh daguku.
“Lo tahu apa yang Rama lakukan ke lo? Selingkuh, Na. Dimana-mana selingkuh itu gak bisa dibenerin. Kalopun lo emang nyumbang kesalahan, tapi kalo Rama mau merjuangin lo, harusnya dia balik ke lo. Ngapain? Ngobrolin apa yang dia mau. Bukan malah nyari ke cewek lain.”
“Aluna, lo mungkin ngorbanin enam tahun yang lo kata itu investasi. Tapi lo akan lebih lama hidup sama Rama. Kira-kira lo bisa jamin nggak, kalo dia nggak akan ngulangin kesalahannya di masa depan?”
“Nggak bisa sih Sha. Itu kan ada di kendali dia.”
“Terus, bayangin kalo itu terjadi lagi saat kalian menikah. Gimana kondisi lo saat itu? Baru pertama kali aja lo sering ngurung diri di kamar. Apalagi nanti?”
Rasanya seperti ditusuk tetap di inti jantungku.
“Lo pengen punya suami kayak gitu? Emang itu hubungan yang lo harepin selama ini?”
“Enggak Sha,” aku tertunduk sambil sesenggukan.
“Gue yakin sebenernya lo udah tahu musti ngapain. Gue cuma bisa ngedukung lo. Mau lo sedih, seneng, gue akan ngedukung lo jalan ke impian lo.”
“Iya Sha, makasih banyak ya,” ucapku sambil menariknya dalam pelukanku.
Kuserahkan ponselku tanpa perlawanan. Kulihat Resha sedang memblokir nomor Rama begitu juga semua media sosialnya.
“Na, lo pengen hapus semua chat sama foto kalian kan sejak lama?”
“Taulah, gue gitu. Calon cenayang hahaha” iya, dia anak psikologi. Pantas saja tahu gerak gerikku.
“Dasar lo! Hm… Ini udah waktunya ya Sha?” tanyaku ragu.
Yang ditanya hanya mengangguk mantap. “Gue temenin. Lagian lo mau sampe kapan sih meratapi nasib kayak begini? C’mon, mulai hidup baru Na.”
“Capek sih Sha gini terus. Kayak gak punya hidup baru rasanya.”
Kupandangi layar ponselku. “Oke, I’ll do it!”
Hanya butuh lima belas menit untuk menghapus semua kenangan indah bersama Rama. Tapi kuyakin tak semudah itu menghapusnya dalam ingatanku. Memangnya aku bisa melupakan orang ini?
“Yeyy! Selamat! Lo udah bebas dari jeratan masa lalu! Sekarang lo mau apa?” tantangnya. Agaknya Resha paham bahwa aku menyukai tantangan baru dalam hidupku.
“Hm, gue sebenernya udah kepikiran sih Sha, gue mau ngapain. Bener sih kata lo, deep down gue udah punya solusinya, tapi ragu aja ngelakuin.”
“Gue pengen ke Bali Sha. Sendirian. Gue pengen ngabisin cuti akhir tahun gue bulan depan.”
“Go ahead Na! Bakal jadi perjalanan yang nyenengin selama lo bener-bener pengen ngelakuinnya. Inget Na, perjalanan menemukan pasangan itu sejatinya dimulai dari perjalanan menemukan diri lo sendiri. Aseeekk~”
Hanya gelak tawa yang tersisa di ruangan itu. Hatiku lega. Aku tahu apa yang harus kulakukan.
Di sini lah aku kini, memandang lautan sunyi dan jingga merona matahari tenggelam. Tepat satu bulan setelah pertengkaran batinku selesai. Apakah sudah benar-benar selesai? Jawabannya tentu tidak. Ada masa dimana hari-hariku teramat ringan untuk dijalani. Bertemu dengan banyak orang, membicarakan segala hal dengan mudah, menyantap kudapan yang kusuka, membaca novel sepuas yang kumau, dan kembali ke rumah untuk lebih dekat dengan ibu bapak.
Namun ada malam yang rasanya panjang sekali. Penuh sesak. Mimpi buruk tak berhenti silih berganti. Peluh keringat sudah jadi teman baikku setiap malamnya. Kantung mata juga ikut bergabung menjadi sahabatku. Pikiran-pikiran negatif tak mau berhenti saat aku begitu ingin terlelap. Mempertanyakan banyak hal yang ada di masa depan. Juga menyesali banyak hal di masa lampau.
“Perjalanan bertumbuh dari luka, tak pernah terasa mudah. Kadang naik, kadang memang harus turun. Supaya kamu memahami bahwa proses ini sulit dan lebih menghargai dirimu sendiri. Karena itu yang kau miliki satu-satunya. You are worthy, you are special, and you deserve happiness. Just remember it!”
Paling tidak itu adalah rentetan kalimat yang terus kuingat hingga kini. Kalimat menenangkan dari sebuah papan iklan di tepi jalan. Sedang menyuarakan kampanye self-love dan pentingnya mencari pertolongan professional. Aku jadi bisa memahami kalimat itu karena aku turut merasakannya sendiri.
Alih-alih memilih untuk mencari pengganti Rama, kupilih diriku sendiri. Kali ini, aku ingin memenangkannya. Sekalipun kadang rasanya sepi, ingin menyerah, namun aku tahu ini untuk diriku sendiri. Maka aku tak ingin menyerah begitu saja. Kamu pikir saat sendiri, aku tidak rindu Rama? Ah sudah ribuan kali aku merindukannya. Tapi belakangan aku bertanya kepada diriku. Apa yang sebetulnya aku rindukan dari Rama? Figurnya kah? Kebiasaannya kah? Atau apa? Ternyata jawabannya adalah kebiasaannya. Sekarang, bahkan sejak dua tahun lalu kami berpisah, aku masih merindukan kebiasaan kami. Kosong rasanya tanpa Rama.
Tenang Aluna. Kamu hanya belum terbiasa menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri.
Afirmasi itu yang kutulis pada jurnal bersambul tulip sore itu. Ya, aku mulai menulis lagi, menulis banyak hal. Masa lalu, masa depan, apapun yang ada dalam kepalaku. Aku menulis bukan untuk orang lain, melainkan untuk diriku sendiri. Aku juga mulai menulis apa saja kesalahanku saat bersama Rama, apa yang perlu kuperbaiki, dan apa yang perlu kupertahankan. Begitu pula aku merumuskan figur pasangan seperti apa yang aku butuhkan. Agar aku bisa mencapai impianku, menjadi ‘rumah’ ternyaman dan teraman bagi pasanganku kelak.
Entah ini akan butuh waktu berapa lama, tapi satu hal yang kuyakini sejak keputusan ini kuambil. Aku tahu ini baik untuk diriku. Teruntuk aku yang dulu, memaafkannya. Teruntuk aku saat ini, memperjuangkannya. Serta teruntuk aku di masa depan, tak memadamkan impiannya.
Sendiri, bukan berarti aku kalah. Aku sedang memenangkan diriku atas segala hal lainnya. Paling tidak itu yang terbaik saat ini, sampai aku merasa benar-benar siap bersama orang lain. Toh aku juga sedang bergerak. Karena aku tak pernah percaya bahwa waktu akan menyembuhkan luka tanpa aku mengupayakan yang terbaik yang kumampu.
Hai Rama, mari berjalan bersama untuk diriku yang akan mekar suatu hari nanti. Terima kasih sudah hadir. Berkatmu, aku mendewasa.