Cerpen - The Chemistry
Memenuhi tantangan #EhemKenalan dari mimin @KampusFiksi
Here we go~
The Chemistry
-AuliyaPN-
“Menurutmu, apa suatu saat air akan habis?” bisik gadis berambut pendek pada pemuda di sebelahnya, memecah kebisuan sejak mereka duduk di perpustakaan sekolah. “Kalau memang ya, apa yang harus kita lakuin? Kita kan nggak bisa hidup tanpa air.”
“Kurasa kita harus belajar caranya membuat air,” jawab pemuda berkacamata sambil terus menelusuri isi buku di depannya.
“Buat? Dari apa?”
“Entahlah. Kita harus cari tahu dulu reaksi apa yang kira-kira bisa membuat gas hidrogen dan oksigen berikatan.” Dibaliknya lagi satu halaman buku tebal itu.
“Menurutmu itu mungkin?”
“Siapa yang tahu kalau nggak ada yang coba?” Pemuda itu mengendikkan bahu tanpa menoleh.
Gadis itu tersenyum. Dia menyukai diskusi kecilnya dengan pemuda itu. Sejak satu tahun lalu, saat mereka pertama kali bertemu di ruang penyimpanan lab kimia dasar karena dihukum, dia memang suka bicara dengan pemuda itu.
“Jadi kamu beneran ngeledakin lab?!”
“Aku cuma memecahkan beberapa barang, bukan meledakkan labnya,” koreksi pemuda tinggi berkacamata itu.
“Gimana ceritanya?”
“Waktu itu aku cuma penasaran apa logam lembek semacam natrium memang meledak kalau dimasukkan ke air, jadi aku coba. Ternyata begitu logamnya kumasukkan, gelas kimia yang kujadikan wadah air langsung pecah dengan suara yang lumayan kuat. Karena panik, aku menyenggol statif yang ada di dekat rak. Dan yah... pintu kaca rak dan beberapa tabung reaksi jadi ikut pecah karenanya,” jawab pemuda itu sambil terus menata botol-botol di depannya agar terletak seperti yang tertera di katalog. “Kamu sendiri? Kenapa bisa dihukum untuk piket selama sebulan?”
“Aku cuma ketahuan praktik sendirian di lab kimia organik. Nggak ada yang pecah apalagi meledak, tapi hukumanku sama denganmu. Ini nggak adil.”
“Kita sama-sama nggak minta izin. Kurasa itu intinya.”
“Iya juga sih. Ah, ya!” gadis itu meletakkan botol di rak kedua dari kanannya lalu menjulurkan tangan. “Aku Raina. Tingkat dua jurusan farmasi.”
“Adam, kimia analisis.”
“Kelas satu?”
“Hm.”
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Melihat tingkah kakak kelasnya, Adam mengernyit.
“Nggak kok.” Raina tak ingin mengaku kalau dia tersenyum karena mengingat hari pertama mereka berkenalan. “Ngomong-ngomong, kenapa kamu masuk SMK kimia?” Raina berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Hmm... Kurasa karena kimia itu keren. Aku selalu ketagihan dengan keajaiban-keajaiban bahan kimia. Berubah warna, rasa, bau, bentuk... semuanya kelihatan kayak magic,” jawab Adam. “Kamu sendiri?”
“Aku? Hmm...” Raina memutar-mutar pena di atas meja panjang perpustakaan. “Mungkin ini kedengarannya konyol, tapi aku masuk farmasi karena ingin belajar mengembangkan vaksin untuk HIV.”
“HIV? Kenapa harus HIV?” Adam tiba-tiba merasa tertarik. Ditutupnya buku tebal yang dia baca sejak tadi.
“Karena orangtuaku meninggal setelah kena virus sialan itu,” gumam Raina pelan.
“Eh?” Adam terkejut mendengarnya. “Bukannya orangtuamu masih sehat sampai sekarang?”
“Oh!” Raina menutup mulutnya sendiri. Dia kelepasan bicara. Ini rahasianya, tak seharusnya Adam tahu.
“Mereka... bukan orangtua kandungmu?” tanya Adam hati-hati.
Raina tak menjawab, tapi wajahnya yang memucat seperti membenarkan tebakan Adam.
“Kalau orangtua kandungmu terkena HIV, apa kamu juga...” Adam meneguk ludahnya, tak sanggup meneruskan pertanyaannya sendiri.
“ODHA?” tebak Raina.
Adam mengangguk.
Raina memejamkan matanya. “Aku nggak berani untuk tes, tapi yang kutahu dari ibu kandungku, waktu lahir... aku sudah dinyatakan positif.”
***
Sejak hari “pengakuan dosa” yang dilakukan Raina di depan Adam, pemuda itu terkesan menjauhi Raina. Mereka tak lagi bertemu di perpustakaan sekolah atau pulang bersama seperti yang biasa mereka lakukan. Dan hari ini, hari Sabtu yang tenang tanpa ada kegiatan sekolah ataupun kegiatan klub, Raina mencoba peruntungannya dengan menghubungi Adam. Sayangnya, dua sms yang terkirim tak kunjung berbalas.
Raina sudah terbiasa dikucilkan. Orang-orang yang tahu kalau orangtuanya mengidap HIV-AIDS instingtif menjaga jarak dengannya. Raina sendiri sebenarnya tak pernah mengharapkan orang-orang mau berteman dengan “gadis kotor” sepertinya. Tapi, setelah diadopsi dan pindah ke kota yang jauh dari tanah kelahirannya, Raina merasa dilahirkan kembali. Hidupnya normal. Dia punya keluarga. Dia punya teman. Dan Adam? Raina tak pernah mengakuinya, tapi sadar kalau dia menyukai keberadaan pemuda itu di sebelahnya.
Raina tahu kalau dia tak boleh membiarkan Adam masuk ke hatinya. Tapi, pesona pemuda itu terlanjur membuatnya lupa kalau dia “kotor” dan biasa dikucilkan. Karenanya, saat pemuda itu menjauh seperti yang dilakukan orang lain, Raina merasa sangat sakit.
***
Raina kaget bukan main saat berjalan ke parkiran dan hendak pulang –sendiri lagi. Dia mendapati motor matic putihnya sudah berubah jadi motor karnaval; penuh dengan balon dan hiasan-hiasan serupa.
“Happy birthday!” Seorang pemuda kurus keluar dari sebuah sedan yang terparkir tak jauh. Dia menghampiri Raina dengan membawa kue tart cantik.
“Rio? Apa-apaan ini?” Raina kaget bukan main.
“Kejutan!” Pemuda bernama Rio itu tersenyum. “Tiup lilinnya.”
Raina heran, tapi tetap mengikuti instruksi teman sekelasnya dan meniup lilin di atas kue berwarna cokelat pekat itu.
“Satu lagi.” Rio meletakkan kue itu di atas jok motor Raina dan mengeluarkan kotak kecil dari saku seragam putihnya. “Aku sudah lama sayang kamu, Ra. Mau jadi pacarku?”
“Eh?!” Raina berseru kaget. Bukan karena cincin perak yang disodorkan Rio, melainkan karena tarikan tiba-tiba seseorang di lengannya.
“Sorry, Kak. Tapi Raina sudah lama jadi punyaku.”
***
Di depan lab yang mulai sepi karena orang-orang sudah pulang, Raina melepas tangannya dari tarikan pria jangkung di depannya. “Kamu kenapa sih?!”
“Kamu yang kenapa? Baru beberapa hari nggak diajaga udah deket-deket sama orang lain!” sergah Adam terlihat kesal.
“Bukannya kamu yang beberapa hari ini menjauhiku, nggak balas sms dan nggak ngaktifin ponsel?!” balas Raina.
“Oh...” Adam memelankan suaranya. “Beberapa hari ini aku terlalu fokus mencari tahu tentang virus itu dan nggak sadar kalau ponselku mati.” Dikeluarkannya ponsel berlayar gelap dari saku celana abu-abunya. “Maaf soal itu, tapi aku sayang kamu, Ra. Sejak pertama kita dihukum bareng.”
“Tapi kamu tahu aku gadis kotor...” desis Raina.
“Kotor?” Adam mengernyit. “Berdasarkan risetku, bayi punya daya imun yang luar biasa, jadi hasil tesmu waktu itu nggak bisa dibilang akurat. Dan meski kamu memang positif, nggak berarti aku bakal tertular virus itu setelah kita menikah. Kita bahkan bisa punya anak yang normal kalau mengikuti prosedur. Selama kamu nggak selingkuh, kamu nggak bakal jadi gadis kotor.”
“Menikah? Anak? Selingkuh?”
“Kita ketemu karena sama-sama memakai lab kimia tanpa izin dan akan jadi pasangan yang mengabdikan hidup untuk perkembangan vaksin HIV. Kurasa kita memang pasangan yang punya chemistry. Terhubung oleh ikatan kimia itu... kedengarannya romantis, kan?” Adam tersenyum sedangkan Raina menganga.
***
Yang perlu keterangan boleh baca:
Statif itu besi penyangga buret (semacam tabung gelas yang panjang untuk titrasi)
ODHA itu singkatan dari Orang Dengan HIV AIDS










