Aegis Orta Fanfiction Indonesia
Modern! AU
Orias and Asmodeus belong to Lunariaco
u can find the original story here https://www.webtoons.com/id/fantasy/aegis-orta/list?title_no=695
Samar-samar terdengar suara hujan dari luar jendela. Angin dingin yang berembus kencang menerobos masuk melalui ventilasi, membuat ruang kamar luas itu sedikit dingin. Meski begitu, Rina tetap merasa panas. Perempuan itu bangun dengan napas tersengal juga badan yang gemetar. Ia bergerak tak nyaman, menoleh seperti orang linglung di tengah ruangan yang gelap tanpa penerangan lampu.
Dengan perasaan yang masih kalut lantaran mimpi buruk yang baru saja menendangnya paksa dari tidur lelap, ia merintih pelan lalu bergerak untuk berbaring menyamping. Ia berjengit ketika tangannya yang gemetar beradu dengan sesuatu.
Asmodeus. Pria itu entah sejak kapan ada di sana, terlelap damai dengan dada yang naik-turun konstan seiring napasnya berembus teratur.
Rina merintih pelan, amat bersyukur, lalu bergerak mendekat ke Asmodeus untuk membenamkan wajahnya ke lengan lelaki itu. Kini tubuhnya gemetar lagi oleh air mata yang memaksa tumpah yang ditahannya sekuat tenaga.
“Kak Asmo,” lirih Rina, mendekap makin erat.
Bohong kalau Asmodeus bilang dia tidak sadar oleh tangisan Rina tengah malam tadi. Ia bangun dengan perasaan janggal juga lengan yang sedikit basah pagi ini, dan suatu keinginan besar untuk melangkah ke dapur ketika melihat ranjang di sebelahnya kosong dengan rasa dingin--menandakan bahwa ia telah lama ditinggalkan.
Orias yang duduk santai di salah satu kursi di dekat meja makan menyapa dengan seulas senyum sinis, mempersilakan pria itu untuk menempati kursi kosong di sampingnya. Ada segelas kopi di atas meja itu yang sudah dingin, sisa setengah gelas saja, teronggok di sana tanpa pemilik. Asmodeus bisa melihat Rina berdiri canggung di sebelah Sytry, memegang baskom berisi sayur-mayur yang sudah dipotong sambil wajahnya yang kuyu ditundukkan dalam-dalam, sementara istrinya yang berambut pirang dengan cekatan menumis bumbu di wajan.
“Hari ini ke kampus, Yas?” Asmodeus buka suara, memecah hening yang terasa aneh.
Sytry mendengkus pelan, merasa jengkel dengan basa-basi Asmodeus yang terkesan dipaksakan. “Kondisinya begini Orias mau kuliah?” sahut perempuan itu agak ketus, tersenyum miring dengan pandangan mata melirik ke Asmodeus sambil tangannya meminta baskom di tangan Rina. “Iya, ‘kan?” Perempuan itu beralih tersenyum manis, membuat yang lebih muda jadi makin kaget lantaran tak mengerti topik.
“A-ah, iya.” Rina mengangsurkan baskom dengan sedikit kikuk. Ia mengerjap, mulai mencerna obrolan yang terjadi di pagi damai kediaman Asmodeus itu. “Oh, tapi kemarin ketua UKM minta Orias ikut datang ke kampus hari ini, mau maju proposal,” jelas Rina, pelan.
“Aku berangkat kalau Rina berangkat,” timpal Orias cepat.
Sytry, yang tangannya dengan cekatan menumis sayur di wajan, mengembuskan napas berat. “Yas, jaga mama mudamu ini, ya. Jangan dibiarin lari ke mana-mana, bawa hand-sanityzer tuh. Kalau kelar urusan langsung balik. Nggak usah nongkrong-nongkrong nggak jelas sama temen-temenmu,” ujarnya tanpa memandang pada sang lawan bicara.
Untuk sejenak Asmodeus merasa diabaikan. Ia memandang anak dan istri mudanya yang kompak memprotes ucapan Sytry dengan sedikit senyum kecut. Dalam hatinya, masih terbersit tanya. Mengapa malam tadi Rina terbangun begitu saja? Tidak biasanya. Lalu diam-diam menangis sambil memeluknya. Pertanyaan yang berseliweran itu membuatnya kesal. Tiba-tiba saja dia sudah buka suara.
“Rina, hari ini kamu ke butik sama aku,” cetus Asmodeus, tegas. Membuat dapur tiba-tiba jatuh ke keheningan yang terasa tegang untuk kedua kalinya.
Yang disebut namanya berkedip bingung.
“Hah?! Nggak bisa gitu! Dia yang pegang proposalnya, weh!” Orias memprotes keras sebelum Rina sempat buka mulut. “Aku duluan yang ngajak dia ke kampus hari ini!”
Asmodeus menggeleng tegas. “Ayah ada urusan sama Rina. Jadi kamu yang bawa proposalnya ke teman-temanmu," jelas lelaki itu tanpa keraguan dalam nada bicaranya.
Mengembuskan napas kesal, Orias menoleh ke Rina. “Gimana? Kamu mau sama Ayah atau tetap ikut ke kampus sama aku?” Ia bertanya dengan sedikit unsur memaksa.
Menyaksikan drama dadakan singkat di dapurnya, Sytry menepuk dahi dengan gemas. Ia mematikan kompor, menghadap pada tiga anggota keluarganya dengan tatapan mata tegas. “Asmo, kamu ini apa-apaan?! Jangan seenaknya memutuskan, kasihan Rina dan Orias, dan mungkin semua anggota UKM baseball, kalau kamu seenaknya begitu,” omelnya.
“Orias, hari ini kamu berangkat sama Rina sesuai rencana,” putus Sytry mantap. “Sekarang kita sarapan dulu.”
Selepas sarapan yang hening dan canggung, Orias dan Rina berangkat ke kampus sesuai rencana. Setelah keduanya berpamitan, hanya tinggal Sytry dan Asmodeus di rumah itu, berdiri bersisian di teras rumah dengan Asmodeus yang masih kesal dengan putusan wanita pirang di sebelahnya.
“Apa? Kamu ada masalah?” tanya Sytry begitu bertemu pandang dengan manik merah Asmodeus yang mengkilat-kilat dalam kekesalan.
Asmodeus membuang napas, melangkah masuk dengan acuh tak acuh. “Selain kamu yang lebih membela Orias? Jelas ada,” balasnya pelan, sedikit sinis.
“Rina udah di dapur waktu aku baru mau masak pagi tadi,” ujar Sytry dengan nada sedikit naik, membuat langkah Asmodeus terhenti, “aku bukannya mau menuduhmu macam-macam, tapi ... Apa yang kamu lakukan padanya?”
Asmodeus tidak membiarkan hening terlalu lama. Ia membalikkan badan, raut wajahnya sedikit frustrasi. “Justru itu aku mau tanya padamu! Kupikir dia cerita sesuatu padamu, makanya tadi kamu kelihatan ngelindungi dia.”
“Oh, aku melindungi semua perempuan manis dari buaya sepertimu,” balas Sytry jengah, sedikit sinis.
Hampir saja Asmodeus protes dengan nada tinggi jika Sytry tidak melanjutkan obrolan seriusnya.
“Tapi sayang, dia nggak ngomong apa-apa. Dia linglung banget pagi tadi. Kayaknya ada sesuatu yang mengganggunya.”
“Jelas ada,” sambar Asmodeus cepat. Ia duduk ke lantai begitu saja, mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangan. “Semalam dia tiba-tiba kebangun terus nangis. Aku nggak tahu dia beneran nangis atau cuma mimpiku saja,” keluhnya.
“Terus kenapa kamu nggak bangun?!” seru Sytry sewot. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan lelah. “Kamu ini ... selalu saja. Kalau kalian marahan, cepat baikan. Rumah rasanya sepi kalau dia ngga bertingkah.”
Urusan mereka kali itu selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Meski tipis, Orias bisa merasakan adanya kelegaan dalam senyum Rina yang berjalan riang di sebelah kapten tim baseball di depannya, membicarakan sesuatu soal protokol kesehatan. Keduanya berpisah jalan dengan sang kapten lalu mulai melangkah berdampingan meninggalkan area kampus.
“Mumpung masih siang gini, mampir jajan bentar, yuk,” ajak Orias tiba-tiba, menghentikan langkah di gerbang kampus sebelum membelok ke trotoar.
Rina nyaris menabrak sisi tubuh pemuda itu, manyun dengan rencana dadakan yang jelas melanggar wejangan Sytry. “Eh, tapi kata Kak Sytry langsung pulang--?” Ia sedikit tak enak jika harus melanggar membangkang pada perempuan pirang itu, tapi di sisi lain ia merasa tak ingin cepat pulang dan bertemu Asmodeus.
“Kita cepat saja,” bujuk Orias, “aku mau makan siang. Lapar.”
Akhirnya keduanya mampir di salah satu restoran keluarga tak jauh dari area kampus. Setelah dua paket makan siang pesanan mereka tiba di meja, keduanya fokus mengisi perut yang keroncongan. Orias tidak angkat bicara meski tadinya ada banyak pertanyaan yang berseliweran di benaknya. Contohnya saja kopi dingin yang sudah ada sebelum dia duduk di kursi ruang makan, juga Rina yang dengan linglung hampir memotong jarinya pagi ini.
Orias mendongak dari piring, melihat Rina yang seperti terkejut oleh sesuatu. “Kamu nggak apa-apa?” Pemuda itu hampir menoleh ke belakang untuk melihat pada apa yang Rina lihat, tapi suara perempuan itu membuatnya refleks memusatkan perhatian ke depan lagi.
“Aku nggak suka kentang rebus, Orias mau nggak?”
Dengan jengkel Orias menjitak kepala perempuan muda yang duduk di hadapannya itu. “Mana sini?” sahutnya ketus.
Rina nyengir, mendorong piringnya lebih dekat agar Orias bisa lebih mudah memindahkan kentang-kentang rebus yang diiris kotak-kotak ke piringnya sendiri. Sebisa mungkin ia memastikan Orias tetap fokus dengan piringnya sambil dirinya sendiri berusaha mengabaikan Asmodeus yang sedang menikmati santap siang bersama perempuan asing di meja sudut ruangan.
“Kacangnya sekalian, Yas.”
“Kamu makan sayur kalau di depan Ibu doang, ya?”
Rumah kosong ketika keduanya tiba. Ada secarik memo di pintu lemari pendingin yang mengabarkan bahwa Sytry ada urusan dengan kakaknya dan baru akan pulang besok. Hal kecil itu membuat Orias lega. Ia bersyukur tidak kena amuk mamanya, tapi juga lega melihat Rina yang sedikit lebih nyaman dibanding sepanjang waktu tadi.
“Aku lowong sampai sore. Mau nonton bareng?” tawarnya.
Rina tersentak. “Nonton?”
Orias mengangguk. “Mau coba kenalkan anime padaku?”
Sekali lagi ada kegembiraan dari wajah manis Rina. “Kalau gitu Orias temani aku nonton Fate Series, ya? Ceritanya seru, lho~ Ada action-nya! Orias pasti suka.”
“Ngomong-ngomong, kayaknya tadi pagi kamu agak ... Bingung.”
Ini aneh bagi Orias sendiri. Ia jarang merasa ragu mengucapkan isi pikirannya dan ia bahkan nyaris tidak pernah mempedulikan dampak ucapannya pada orang lain. Baru kali ini dia merasa takut ucapannya menyakiti hati orang lain. Perlahan ia menoleh ke arah Rina. Pandangan perempuan itu ada pada layar laptop, tapi seperti tidak benar-benar fokus ke sana.
“Aku ... mimpi sesuatu,” gumam Rina, memainkan stoples camilan di pelukannya.
Ragu-ragu Rina mengangguk. “Aku nggak mau ceritain,” ujarnya tiba-tiba, menggembungkan pipi.
Orias memberengut. “Aku juga nggak mau denger ceritamu!” Ia bangkit. “Udah malam, nih, anak kecil sana tidur.”
“Nggak mau, takut mimpi lagi.” Rina memeluk stoples lebih erat.
“Kamu beneran nggak tidur?!”
Hanya anggukan yang menyahut pertanyaan Orias. Akhirnya pemuda itu mengembuskan napas.
“Aku mau tidur duluan. Kamu mau begadang nih? Yakin nggak takut?”
Lagi-lagi Rina mengangguk-angguk yakin. “Orias nggak usah khawatir.”
“Kalau anak kecil sepertimu bangun sendirian malam-malam, siapa yang nggak khawatir, ha?!” sambar Orias ketus.
“Aku bisa jaga diri, Yas!” bantah Rina ngeyel.
Perdebatan mereka nyaris menjadi ajang pertempuran bantal ketika pintu depan terayun membuka. Sosok Asmodeus yang tampak kelelahan muncul dari sana.
“Oh, kalian belum tidur?” Suara Asmodeus tampak lemah.
Orias bergegas memposisikan diri di depan Rina ketika mencium aroma parfum wanita dan alkohol yang pekat dari Asmodeus. Gerakannya yang gesit membuat Rina terkejut, tapi gadis itu cepat mengerti bahwa Orias sedang berusaha melindunginya.
“Dari mana saja?” tanya Orias ketus.
Rina mengintip dari belakang Orias, memandang getir pada penampilan berantakan Asmodeus. “Kakak kenapa?” tanyanya lirih.
Pelan-pelan Asmodeus menutup pintu di belakangnya dengan kaki. “Orias, aku mau bicara berdua dengan Rina. Bisa?” Lelaki itu buka suara. Nada bicaranya serius, seketika membuat Orias sedikit menciut.
Rina memegangi baju Orias, seolah mencegahnya pergi. Namun, raut wajah tegang Asmodeus di depan sana membuatnya tak mampu menyuarakan penolakan.
Meski enggan, Orias dengan hati-hati melepaskan pegangan Rina pada ujung kausnya. Ia menepi dua langkah ke samping. “Kalau ada apa-apa, aku serius akan menghantammu,” ancamnya pada Asmodeus sebelum melangkah pergi, menaiki tangga ke kamarnya.
“Kamu yang kenapa,” sambar Asmodeus cepat.
Yang ditanya diam. Menjatuhkan fokus jauh-jauh ke seberang ruangan.
Asmodeus mengerang frustrasi. “Sejak semalam kamu aneh. Tiba-tiba ngunciin aku di luar, tidur duluan. Sekarang kamu diamkan aku? Jangan tanya ‘Kakak kenapa?’ padaku, jelas-jelas kamu yang aneh. Kamu kenapa?!” cecarnya. Maniknya yang memerah karena efek alkohol menatap Rina dengan getir. “Sayang, kalau kamu cuma diam, aku nggak akan tahu.”
“Aku semalam mimpi.” Rina buka suara dengan hati-hati. “Kalau Kakak bakal pergi.” Ragu-ragu perempuan itu mendongak, mengadu manik cokelatnya yang mulai berair dengan tatapan Asmodeus yang tampak letih.
Lelaki itu menanti dengan sabar di sana, memandang kosong pada Rina yang memainkan ujung kaus.
“Aku ditinggal,” gumam Rina, lirih. Wajahnya bersemu, bukan karena malu-malu seperti biasa, tapi karena menahan air mata yang seperti segera tumpah.
“Terus, aku tadi pergi makan sama Orias,” lanjut Rina, napasnya mulai memburu. “Aku lihat Kakak sama perempuan.” Ia mendongak, tidak punya waktu terkejut ketika Asmodeus sudah menarik badannya dalam sebuah pelukan erat.
“Maaf,” lirih Asmodeus, membenamkan hidungnya pada rambut Rina, menghirup banyak-banyak aroma dari istrinya itu hingga ia melupakan bau parfum menyengat milik wanita panggilan yang menemaninya sejak siang tadi. Ia tidak butuh mengerti lanjutan pengakuan istri mungilnya itu. Justru kepalanya kini dipenuhi penyesalan karena tidak mengerti kode Rina sejak malam lalu. “Maaf,” ulang lelaki itu, mendekap lebih erat sosok mungil Rina yang jauh berbeda dengan tubuh matang wanita dewasa mana pun.
Rina terisak, sekuat tenaga mendekap Asmodeus.
“Aku takut,” bisiknya dengan rengekan kekanakan sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke kemeja Asmodeus.
Ia merasakan sentuhan-sentuhan lembut Asmodeus yang mencoba menenangkannya. Telinganya mendengar permintaan maaf lelaki itu, berulang-ulang seperti untaian doa panjang, dan suhu badannya begitu saja naik. Perempuan itu mencoba mengatur napas sambil meyakinkan dirinya sendiri: ke manapun Asmodeus pergi, sejauh apapun lelaki itu meninggalkannya, ia akan tetap kembali pulang padanya. []