Great date with @zoelyw_ and see you soon in July. Wish you all the best for you further study in Aus! ❤ #mondate #aintmondayblue #exhousemate #sarawak #aftergraduated (at Avenue K)
seen from Finland
seen from United States
seen from Spain

seen from United States

seen from United States
seen from Japan
seen from United States
seen from United States
seen from Estonia
seen from United States
seen from China
seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Russia
Great date with @zoelyw_ and see you soon in July. Wish you all the best for you further study in Aus! ❤ #mondate #aintmondayblue #exhousemate #sarawak #aftergraduated (at Avenue K)
What Kind of Life that You Wanna Live?
Where your talents and the needs of the world cross; there lies your vocation - Aristotle
Gue mendapatkan quote itu bukan dalam kelas filsafat, malah waktu gue ibadah Minggu di JPCC beberapa bulan yang lalu. Kalau ga salah tema bulan itu adalah Fruitful, jadi memang tema sebulan itu semua berujung pada bagaimana kita memiliki buah, yaitu berguna bagi sesama kita. Karena sesungguhnya kita baru benar-benar hidup ketika kita memberikan manfaat untuk orang lain.
Disadari atau tidak, kebanyakan dari kita pasti hidupnya self-centered. Gue misalnya. Jaman kuliah dulu, pokoknya setelah lulus kuliah pengen kerja di MNCs, trus pengen banget punya posisi yang strategis, duitnya banyak, wanita karir sukses banget lah pokoknya. Makanya ngebet banget lulus kuliah cepet biar cepet kesampean jadi wanita karir yang sukses. Pengen bisa pake baju dan barang mahal hasil keringat sendiri, hidup enak.
Tapi ya kok baru 2 tahun lulus sudah ga pengen kayak gitu-gitu amat. Dan setelah dikasi quote di atas tadi, gue semakin mikir "kalo lo udah sukses, trus apa?". Kalau lo sukses, lo yang kaya, ya bisa ngebahagian orang tua dan keluarga lo sih emang, tapi trus dampak lo buat orang lain apa? Okelah perusahaan pasti punya CSR, tapi seberapa besar sih dampak nyata CSR? Buat gue in the end CSR tuh berguna untuk kelangsungan si perusahaan itu sendiri kok, gak pure memang untuk kesejahteraan rakyat. Secara perusahaan itu kan tujuannya buat nyari profit, bukan organisasi sosial yang memang bertujuan untuk membantu masyarakat.
Nah sekarang ini karena belum bisa melakukan apa-apa, sejujurnya gue lagi pengen nyari komunitas or NGO, di mana gue bisa terlibat langsung baik part-time atau full-time biar hidup gue gak gini-gini amat. Gue udah bisa sekolah sampai S1, kayaknya gak cukup deh kalo setiap kebaikan yg gue terima sekarang cuma sekedar gue nikmatin sendiri.
I'm still looking forward for something I can do for others. What about you?
Catatan Galau Seorang Fresh Graduate
Fresh graduate di sini maksudnya < 2th pengalaman kerja :p
Dulu, waktu gue masih kuliah, gue pengeeeeeeeeeeeeen banget cepet-cepet kerja. Kenapa? Soalnya menghadapi UTS, UAS, tugas yang tiada akhir dan bayangan terhadap skripsi yang mengerikan selalu menghantui hidup gue selama kuliah. Ditambah lagi gue yang bukanlah lahir dari keluarga yang tajir ini pengen banget ngerasain punya duit sendiri. Alhasil, dengan semangat pengen lulus cepet akhirnya impian lulus kesampaian juga di awal tahun 2012.
Seperti yang pernah gue ceritakan sebelumnya (sok banget berasa banyak yang baca ya tumblr gue ini) abis sidang, yudisium dinyatakan lulus, revisi skripsi, de el el gue sudah bisa wisuda. Tapi karena dapat tawaran yang sangat menarik yaitu ke Sorowako, gue ga pikir dua kali untuk menyia-nyiakan kesempatan ini. Akhirnya dengan segala keberanian gue pergi ke sana untuk menimba ilmu dan pengalaman dan cari jodoh. Lulus dan ditempatkan di negeri antah berantah bersama teman-teman yang menyenangkan itu rasanya SURGA! Namun karena ada satu dan lain hal, gue cuma sebentar di sana dan ditempatkan di kantor Jakarta. Kemudian hari-hari indah gue berubah.
Ketika lo kuliah, apapun yang lo lakukan ya tanggung jawabnya ke diri sendiri. Kalo males, bisa bolos. Lagi rajin? Bisa nyatet materi perkuliahan dari awal sampe akhir. Pengen dapet pengalaman baru? Ikut kepanitiaan. Ga pengen lulus cepet2? Ya santai aja kuliahnya. Sedangkan dunia kerja ternyata gak semudah yang gue pikirkan. Secara ya, masuk ke kantor masih kroco, disuruh apa aja juga harus mau. Dan pekerjaan lo ga selalu seperti yang lo bayangkan. Lo ga punya banyak pilihan seperti ketika lo kuliah. Di kantor Jakarta ternyata beda dengan kantor Sorowako. Semua serba bikin deg-degan karena menyangkut approval para petinggi-petinggi korporasi.
Selepas COOPS, things weren't going any better. Setelah menganggur satu setengah bulan nyari kerja timur ke barat selatan ke utara, akhirnya gue keterima di salah satu PR consultant di Jaksel. Singkat kata, gue merasa ga cocok dan karena ada kesempatan untuk balik lagi ke kantor tempat gue dulu jd anak COOPS, gue memilih untuk kembali, dengan harapan gue bisa jadi lebih baik dan karir gue akan lebih berkembang.
Ternyata kenyataan SERING BANGET beda sama harapan. Babiks memang hidup ini.
Bos gue di kantor tpt dulu gue jd COOPS ini baik-baik. Sumpah. Tapi entah kenapa gue selalu merasa kalo mereka terlalu demanding. Okelah gue ini masih kroco, belum ngerti apa-apa, masih banyak mengurus hal-hal administratif. Tapi mosok cuma ngeliatin fax aja harus gue? Can't you move your ass over there to look at your important fax? *EH KOK AING TEU SANTAI PISAN NYA* hahaha. Gue sih sekarang udah ga terlalu bete, ya ketawa-ketawa aja kalo ada hal-hal ngeselin. Tapi kok dunia kerja gini2 amat ya? Bahkan senioritas di kampus ternyata tidak sekejam ini. Kembalikan gue ke kampus! Kadang sebel juga kalo bolak balik disuruh ganti jadwal tiket pesawat. Ebuset, sejak kapan aing buka travel agent?
Mungkin, gue terlalu banyak mengeluh di saat gue sadar ada beberapa orang lain di luar sana yang menginginkan pekerjaan gue. Sungguh, gue sangat ga bersyukur. Tetapi ada satu pembenaran di balik semua ini: ini bukan pekerjaan yang gue inginkan. Gue gak bisa sekedar kerja di multinational company, dengan title cukup mentereng kalo hati gue gak tenang. Gue merindukan kedamaian, gue merindukan saat-saat berpacu dengan waktu untuk menaklukan berbagai soal ujian yang sulit di kampus, bukannya berpacu dengan time limit Gar*da sambil ngejer-ngejer bos maunya pergi jam berapa. Meskipun sebenarnya kontraprestasi yang gue dapatkan cukup besar dibandingkan dengan teman-teman gue lainnya.
Sampai akhirnya di satu titik ini, gue baru mengerti arti ungkapan, uang bukan segalanya.
Dulu gue pikir, dengan gaji sekian, kerja di multinational company, di departemen tertentu, gue bisa akan sangat bahagia. Ternyata nggak juga loh. Ya gaji gue juga ga gede-gede amat sampe udah bisa nyicil mobil dan rumah, tp cukup kok untuk bayar kos-makan di mol-dan jalan2 agak hedon, cuma kok gue tidak (atau belum) mendapatkan kepuasan batin. Rasanya kok hidup kayaknya begini-begini aja, padahal total masa kerja dari jaman COOPS juga paling baru setaun. I think i need something, apakah itu kegiatan baru atau usaha baru, gue juga belum tau. Semua masih blurr. Tapi gimana ya, gue rasa sih gue ga bisa gini-gini terus. Pengen makin maju dan sepertinya dunia yg gue jalani sekarang tuh nggak gue banget. Kalau gue ditanya mau apa, pasti jawabannya banyak. Mau A, B, C, D, dll. Saking banyaknya gatau juga mana yang feasible untuk diwujudkan mana yang nggak. HuFt.
Yang jelas menulis blog lagi juga merupakan suatu usaha untuk gue menemukan apa yang sesungguhnya benar-benar gue mau dalam hidup ini. Kepada fresh graduate yang senasib sama saya, selamat berjuang ya. Selamat tinggal galau akademis, selamat datang galau karir. :'(