Hi. Kali ini gw mau nulis in bahasa gado-gado yaa please excuse me :)
Jadi, today, in the middle of pelajaran Sejarah, my teacher named Pak S told me his intriguing life story. Padahal awalnya lagi bahas tentang kenapa kabinet Moh. Hatta bubar, kemudian he told us this;
He didn’t address himself as a Smartie, instead he called himself as a lucky one. Beliau awalnya menempuh pendidikan SMEA Ekonomi, and he chose economics as his future major study. Tp takdir berkata lain, beliau justru ‘kejeblos’ di pilihan keduanya yakni pendidikan guru. Bahkan tadinya, beliau tidak lolos di FKIP karena kuotanya hanya 40, sedangkan dirinya yang bertengger di ranking 41 pun tidak lolos. Namun karena ada persyaratan tertentu yang tidak dipenuhi beberapa orang, akhirnya ranking Bapak S pun naik dan akhirnya mendapati namanya di antara 40 orang yang lolos. Long story short, beliau awalnya ‘keteteran’ karena beliau lulusan sekolah ekonomi, sedang rekan kuliahnya yang lain lulusan sekolah keguruan. Bahkan beliau tidak tahu apa itu pedagogik di awal kuliahnya, yang menyebabkan dirinya ditertawai teman sekelas.
Pada semester awal, beliau hanya mencapai IP 2,01 yang berarti batas tuntas. Namun karena beliau mau berusaha, IP beliau sepanjang kiprah mahasiswanya pun terus menanjak. Walau di akhir beliau hanya dapat memperoleh IPK 3,00. Di sinilah lagi-lagi ‘fate works in a way we barely expect’ karena nilai beliau yang menanjak, akhirnya beliau lolos ikatan dinas dan bekerja sebagai guru di umurnya yang pada saat itu masih 21 tahun. (He started going to primary school at age 5,5 along with his 3 year gap older sister, the reason was, he didn’t want to be in kindergarten because he has no relative to go with *wow* *really*. His older sister stopped continuing her study after she graduated high school and got married *zaman dulu problem* whilst he himself continued his study)
We spent around 40 minutes buat dengerin his life story. (Fun fact: Pak S always wear kind of band aid on his right arm. We still haven’t figured out why.)
Awalnya, beliau dapat tugas untuk mengajar di Bengkulu, which is, luar jawa cyin. So, he prepared documents that he needed. Dokumennya yang seharusnya dapat cap di atas foto, justru capnya terletak di samping foto. Karena tidak sah, maka dokumennya dikembalikan dan beliau tidak jadi berangkat ke Bengkulu. Sedang kawan seperjuangannya sudah melanglang buana ke daerah-daerah lain. Selang lima bulan, akhirnya beliau dapat surat tugas untuk mengajar. Di Jawa. Mungkin juga di SMA gw belajar sekarang ini, karena he often said that he was a teacher of my teacher. Practically, we’re his cucu (his hair stays black thou). Ok, back to topic. Di antara kawan-kawannya, hanya beliau sendiri yang ditempatkan di Jawa. Lucky enough, no?
Moral valuenya adalah, we don’t know what future holds, let’s just see how the fate works, shall we? Namun jangan kemudian menyerahkan segalanya kepada takdir. Berusaha adalah pondasi dasar kesuksesan, I don’t want to sound religious here but I always believe in this formula; Berdoa (kemudian tawakkal) tanpa usaha sama dengan malas, sedangkan usaha tanpa doa (dilanjutkan tawakkal, lagi-lagi), adalah sombong.
Note to self: Ayo mulai belajar SBMPTN sebelum menyesal.
Aje. (bukan pejuang nikah muda)