Media dan Fitnah ------------------- Setidaknya kita sudah bosan mendengarkan fitnah. Tak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang. Fitnah ditujukan kepada orang-orang yang mana notabenenya benar. Iri lebih kongkritnya, tak bisa menyaingi hingga akhirnya membuat kabar tak jelas. Apakah dengan fitnah harus takut ?, kurasa tidak. . Kalau dahulu fitnah hanya tersebar dari mulut kemulut. Seperti gosip, omongan panas yang beterbangan kesana kemari masuk menggerogoti satu demi satu telinga manusia. Hawa seperti hawa neraka, panas dan busuk. Pepatah berkara "fitnah lebih kejam dari pembunuhan." Tidak salah, kalau pedang dapat membunuh jiwa. Fitnah lebih seram, yang langsung menusuk hati. . Media lagi-lagi berperan penting disini. Televisi dan perangkat elektronik lainnya tak dapat menghindari kabar berita yang ditayangkan. Hari ini, media dibagi menjadi beberapa sisi, kanan dan kiri. Media kanan merupakan media yang memberitakan jelas dan benar tentang apa yang terjadi. Sedangkan media kiri ialah media yang memberitakan kabar sesuai dengan kepentingan golongannya. Uang, uang, dan uang. Biarkan media kiri kenyang dengan kertas yang mereka buat sendiri. . Kita tinggal menunggu kehancuran. Sudah banyak fitnah di negeri ini. Komunis yang dulunya berhasil ditenggelamkan, kini kembali hadir. Ideologi komunis yang akan dibawa masuk ke dalam negeri ini merupakan hasil pemikiran yang jelas-jelas tak sesuai dengan ideologi bangsa (pancasila). Tak tinggal diam tentunya, laskar pejuang bangsa takkan tinggal diam. Jika komunis tetap memaksa, jangan salahkan laskar pejuang jika kalian terpukul mundur. #saynotokomunis #savemedia #savehukum #aksibelafpi #comeonfpi #penabenhum









