Ini sudah tahun ke-tujuh. Cukup lama dari pertemuan pertama aku dengan lelaki pendiam itu. Dia cinta pertamaku di SMA.
Pemilik mata tajam yang selalu menjadi alasanku berangkat pagi, menatap punggung dengan tas yang selalu berwarna hijau toska, sesekali langkah ini ikut berhenti ketika sosoknya menatap lekat dan membaca beberapa tulisan di mading sekolah. Yang kemudian, besoknya... Aku ikut menulis di sana. Ya, aku masuk klub Mading demi mendapatkan mata itu membaca bait demi bait tulisanku. Hahahaha.
Semua aku lakukan dengan jarak yang cukup, cukup jauh maksudku. Cukup untuk dia tidak menyadari bahwa ada manusia lain yang juga datang sepagi dia dan berhenti di jembatan hijau, lorong sepi dan belokan aula sekolah hanya untuk menatap punggung miliknya. Mungkin walaupun dia sadar, dia tetap tidak peduli.
Ah lupa, dia seniorku dan ketua rohis. Suatu hari aku mencoba mendaftarkan diri untuk ikut salah satu bidang ekstrakurikuler tersebut. Tapi sayang, jantungku tidak baik-baik saja selama kumpulan pertama. Apalagi saat dia tersenyum, manis sekali. Kuputusan untuk tidak berlanjut. Ternyata aku menyerah dengan jarak dekat, aku terlalu berdebar dan tidak sanggup menahan semua rasa yang mulai membuatku berkeringat dingin. Tatapnya, senyum singkatnya, suaranya. Aku ingin memandang dia dari jarak jauh saja. Cukup.
Hari-hari ku monoton, tapi senang karena tetap dia yang menjadi penyemangat. Menatap dia berlari pada pelajaran olahraga membuat aku setiap Kamis pergi ke kantin di jamnya. Sekedar membeli pensil yang sekarang sudah mulai menumpuk di kotak pensil, sebuah saksi bisu. Hahaha.
...
Cibadak,2020















