Hari ini aku kembali menulis.
Aku putuskan begitu, setelah keputusan dahulu itu menyiksaku, aku kesepian.
Kesepian setiap hari yang terus merusak ingin dan angan, terhempas pada sosok yang aku paksa memberi bahagia tiap hari. Kasian dia. Tapi memang itulah aku yang egonya sangat tinggi untuk terus memaksakan seseorang, sampai pada akhirnya dia berubah.
Dia berkali-kali berlari ke arahku yang mau tidak mau, yang tidak punya harapan hidup namun padanya aku bicara hal yang luar biasa. Banyak sekali kebohongan sejak awal dan aku mengetahui hal tersebut juga dia lakukan.
Aku tidak suka mengejar setelah sembilan tahun selesai, sebelumnya. Jadi kuputuskan menerima takdir bertemu dengan dia.
Sikap hangat, teduh, tak memaksa itu ternyata mudah memikat aku yang sebelumnya mati-matian membetulkan rasa. Sikapnya yang penasaran itu, aku rindu.
Dengannya air seperti tidak pernah sejuk, langit tidak pernah jahat dengan teriknya dan tidak ada hujan yang menusuk bila peluk erat di motor berlantun do'a agar selamat sampai rumah, dengannya.
Aku sayang dia. Lalu kuputuskan untuk tidak lagi membaca banyak cerita sedih, membalas pesan-pesan dari si penasaran, menulis lirik sedih atau syair kelam yang tidak pernah biru, menutup semua cerita setengah jalan untuk tetap mempercayai jika bahagia akan datang terus bersama dia. Aku sayang dia.
Kalimat awal dan akhir yang indah, ya.
Aku jatuh cinta, sekarang.
Tapi, seiring berjalannya waktu. Aku hampa lagi, menemukan banyak bukti yang menyakiti hati. Membuka kembali tempat ini sebagai tempat bersembunyi. Menangis semalaman ketika pekerjaanku belum selesai.
Aku takut jatuh cinta terlalu dalam.
Pmry, 9 Januari 23.













