KPI Keimanan
Di kantor, kita diajarkan untuk profesional.
Ada KPI. Ada OKR. Ada dashboard. Ada weekly review. Ada one-on-one. Ada performance appraisal.
Kalau performa turun sedikit saja, kita langsung mencari akar masalahnya. Data dibuka. Penyebab dicari. Rencana perbaikan dibuat. Minggu depan dievaluasi lagi.
Kita begitu serius.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri.
Mengapa keseriusan seperti ini jarang saya bawa ke dalam urusan akhirat?
Bukan berarti saya mendikotomikan dunia dan akhirat. Justru sebaliknya. Saya ingin profesionalisme yang sama hadir dalam perjalanan menuju Allah.
Selama ini, saya sering merasa cukup hanya dengan, "Alhamdulillah masih shalat."
Padahal mungkin saya perlu bertanya lebih jauh.
Apakah kekhusyukan saya minggu ini meningkat atau justru menurun?
Apakah hubungan saya dengan Al-Qur'an semakin dekat atau semakin jauh?
Apakah dosa yang sama masih terus saya ulang?
Apakah saya semakin mudah memaafkan?
Apakah saya semakin takut berbuat zalim?
Apakah pekerjaan saya hari ini benar-benar diniatkan sebagai ibadah, atau hanya sekadar mengejar target dan pengakuan manusia?
Lucunya, untuk pekerjaan kita hafal semua metrik.
Revenue.
Conversion rate.
Customer satisfaction.
Response time.
Deadline.
Tetapi untuk hati, sering kali kita tidak memiliki indikator apa pun.
Padahal hati itulah yang akan kita bawa menghadap Allah.
Saya kemudian membayangkan shalat lima waktu sebagai momen evaluasi.
Bukan sekadar berhenti bekerja karena adzan telah berkumandang.
Tetapi berhenti sejenak untuk membuka "dashboard keimanan".
Seperti seorang manajer yang sedang meninjau performa.
Bagaimana kondisi hati saya sejak shalat sebelumnya?
Apa yang saya pikirkan sepanjang pagi?
Bagaimana saya memperlakukan orang lain?
Apakah pekerjaan tadi membuat saya semakin bersyukur atau justru semakin sombong?
Apakah saya masih mengingat Allah di sela-sela aktivitas, atau benar-benar tenggelam dalam urusan dunia?
Menariknya, Allah memberikan kesempatan itu lima kali setiap hari.
Kalau perusahaan memiliki weekly review, Allah menghadiahkan lima kali momentum muhasabah setiap hari.
Profesionalisme dunia tetap penting.
Deadline tetap harus dipenuhi.
Amanah tetap harus ditunaikan.
Pekerjaan tetap harus dilakukan dengan ihsan.
Namun mengapa keseriusan itu sering berhenti di ruang rapat?
Mengapa ia tidak ikut masuk ke dalam sajadah?
Saya membayangkan, seandainya kita memperlakukan pertumbuhan iman dengan disiplin yang sama seperti kita memperlakukan pertumbuhan karier.
Bukan untuk mengubah ibadah menjadi angka.
Bukan pula untuk merasa bisa mengukur kedekatan dengan Allah.
Rahmat Allah tidak pernah bisa dimasukkan ke dalam spreadsheet.
Tetapi disiplin dalam bermuhasabah adalah sesuatu yang bisa kita latih.
Mungkin itulah "KPI Keimanan".
Bukan Key Performance Indicator dalam arti korporasi.
Melainkan sebuah pengingat agar kita memiliki keseriusan yang sama dalam mengejar ridha Allah sebagaimana kita mengejar target dunia.
Karena pada akhirnya, perusahaan hanya akan menilai performa kita sampai kontrak berakhir.
Sedangkan Allah menilai perjalanan kita sampai akhir kehidupan.
Mungkin sudah waktunya kita memiliki satu dashboard lagi.
Bukan dashboard pekerjaan.
Tetapi dashboard hati.
Yang setiap selesai shalat kita buka.
Kita evaluasi.
Lalu kita bertanya kepada diri sendiri,
"Jika hari ini adalah hari terakhir hidupku, apakah grafik keimananku sedang bertumbuh, atau justru menurun?"
















