Autumn - most important time of the year
“Sebenernya kita mau kemana?”
Gadis dengan rambut coklat dan mata biru itu bertanya ke pemuda gondrong yang sedang memegang kemudi di sebelahnya. Yang ditanya hanya menyalakan lampu tanda berbelok kanan sambil tersenyum, tampaknya sama sekali tidak punya niat untuk menjawab. Sang gadis mendecakkan lidahnya kesal.
Sudah kesekian kali pertanyaan tersebut dia tanyakan kepada pemuda itu, gadis itu—Alexis Rue—hanya diajak pergi malam-malam tanpa diberitahu kemana oleh pacarnya—Isaak Ludivico, pemuda yang sama yang sedang menyetir. Semua pertanyaan tersebut hanya diberikan jawaban singkat, seperti ‘nanti juga tau’, atau, ‘tunggu saja’, belakangan malah semua jawaban tersebut digantikan dengan gerakan mengedikkan bahu atau senyuman.
Sementara nona Alexis Rue, yang memang tidak terkenal dengan kesabarannya, memandang si pemuda dengan pandangan curiga.
“Are we going to a love hotel or something?” Tanya Alexis, masih memicingkan matanya curiga. Isaak malah tertawa, sambil menghentikan mobil tiba-tiba di pinggir jalan, sebelum kemudian mencium bibir gadis di sebelahnya lama dan dalam.
“If I wanna do something like that, ngapain repot-repot menyetir ke tempat yang jauh segala?” Jawab pemuda itu, menyalakan mesin mobil sambil kembali melanjutkan perjalanan, “wasn’t the backseat comfortable enough, sweetheart?” Lanjutnya, nyengir, satu tangannya mengelus rambut halus Alexis sambil tertawa.
(Gadis itu malah mengunyah chips dengan muka memerah, well, they are sexually active, tapi harus ya saat itu yang diungkit?)
“Shut up, stupid.” Ujar gadis itu, meninju pelan pundak si pemuda.
Sementara itu mobil tersebut tiba-tiba berhenti, di sebuah tempat luas yang seperti lapangan dengan bangunan kecil hanya berisi meja di tengahnya, berbagai macam makanan tersebar dan pemuda itu membukakan pintu untuk nona Alexis.
“Dijamin hari ini tidak hujan,” ujarnya terkekeh, “seluruh masakan aku yang buat, dibantu Cassie karena kau tau skillku di dapur tidak sebaik milikmu.” Lanjut si pemuda, pandangannya melembut, “tapi aku berusaha membuat semua yang kamu suka, walaupun aku yakin kau suka semua makanan.”
“Ini... dalam rangka apa? Did I forget something?” Ujar si gadis, ragu, tangannya meraih tangan si pemuda, berjalan dengan langkah lambat karena tidak tau harus bereaksi seperti apa.
“Nah silly,” ujar Isaak, mengacak rambut gadis itu, “tomorrow is your birthday, lupa tanggal ulang tahun sendiri?” Lanjut pemuda itu sambil memasangkan syal di leher si gadis, udara cukup dingin, dan Isaak sebenarnya sedikit merasa bersalah mengajak gadis itu malah berada di tempat dingin seperti ini, tapi dia ingat Alexis menyukai bintang, dan tidakkah tempat ini sempurna untuk tempat melihat bintang?
“Eh?” Ujar gadis itu, melongo. Isaak tertawa.
“I’ll give your present when it’s your birthday, dan ucapannya juga, sekarang lebih baik makan dulu sebelum kau makin lapar.” Ujarnya terkekeh.
Ketika menyuruh gadisnya duduk, keduanya makan dalam keriuhan. Mereka berdua jarang bertemu, Isaak yang berkutat dengan tugasnya, dan Alexis yang lebih sering aktif dalam berbagai kegiatan. Kalaupun bertemu tidak banyak yang dilakukan, well, they did this and that, tapi rasanya ada jarak diantara mereka, maka Isaak sengaja mengatur hal ini untuk menghabiskan waktu bersama gadisnya itu. Dan melihat ekspresi Alexis, rasanya semuanya sepadan.
(Sometimes just her smile makes everything worth doing)
“Lalu?” Tanya gadis itu ketika mereka akhirnya selesai makan, “mana hadiahnya?” Ujar gadis itu lagi dengan senyum melebar. Pipinya merona, Isaak tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Alexis ku tersayang,” ujar Isaak, kemudian memberikan sebuah kotak yang langsung dibuka oleh kekasihnya, di dalamnya ada gelang dengan lambang infinity, “simbol klise, tapi kuharap kau menyukainya, kau sudah memakai kalung ibumu, dan cincin rasanya... terlalu mengikat? Walaupun aku akan dengan senang hati memasangkan cincin ke jari manismu.” Ujar Isaak cepat. Wajahnya ikut merona—dia menyalahkan udara, tapi dia tau gadis itu, dan dirinya juga, tau lebih baik daripada itu.
“I love it, thank you so much,” bibirnya dikecup singkat oleh si gadis, sambil kemudian duduk di pangkuannya, “thanks for everything, the food, the present,” Lanjutnya lagi. Isaak memalingkan mukanya, setengah canggung.
“Look, a shooting star,” ujarnya, membisiki telinga gadis itu sambil memeluknya dari belakang, ”make a wish, sweetheart.”
—as a reminder that with love, there are no limits
‘I love you’ ‘I love you too’
Shingeki no Kyojin RPF; Isaak Ludivico & Alexis Rue belong to their original creator(s). the bracelet and the card that comes with it







