Pelajaran dan Kisah Perasaan Bu Arini
Pukul empat sore, sekolah hampir selesai. Pelajaran terakhir hari ini Bahasa Indonesia. Aku sangat suka pelajaran Bahasa Indonesia. Bukan hanya pelajarannya. Tapi juga aku suka dengan Bu Arini, guru Bahasa Indonesia kami.
Aku baru mengenal Bu Arini selama setahun ini. Setelah Bu Arini menggantikan guru sebelumnya yang pindah. Aku tidak tahu bagaimana awalnya tapi bagiku Bu Arini seperti teman berbincang banyak hal. Tidak hanya pelajaran. Kami sering berbincang tentang kehipuan dan aku mendapatkan banyak pembelajaran.
Hari ini, pelajaran selesai lebih cepat. Pertemuan terakhir di semester pertama. Aku menghampiri Bu Arini yang berdiri di balkon tengah memperhatikan murid-murid yang berlarian dan bermain di lapangan karena pelajaran telah usai. Kali ini kami berbincang tentang suatu rasa yang baru aku kenal ketika remaja: suka pada seseorang, lawan jenis pastinya.
“Bu, ibu pernah suka dengan seseorang tidak?” Aku bertanya pada Bu Arini tentang pengalamannya jatuh cinta. Sebab kabarnya, Bu Arini baru saja melepas masa lajangnya di usianya yang menyentuh kepala tiga, Aku pensaran bagaimana seorang Bu Arini jatuh cinta dan menemukan belahan jiwanya.
“Pernah tentu saja. Bahkan ibu memiliki pengalaman yang menyesakkan tapi memberi pembalajaran sebelum akhirnya ibu menemukan dan diperjuangkan oleh seseorang yang sekarang.” Bu Arini menjawab sambil memandang jauh ke depan. “Waktu itu, sore hari, ibu dan sesorang tiba-tiba bertemu di sebuah parkiran restoran. Pertemuan kami yang pertama setelah setahun lamanya.” Bu Arini mulai bercerita.
“Sejak lulus kuliah, seseorang itu merantau di luar kota. Kami cukup dekat semasa kuliah tapi tidak sempat bertemu untuk sebuah perpisahan atau berpamitan. Begitu wisuda usai, kami sibuk menjalani mimpi kami masing-masing. Lalu suatu hari, di acara reuni, seseorang itu hadir lagi. Menampakkan diri, menunjukkan bahwa kini ia telah kembali. Ibu begitu terkejut. Bagaimana tidak, selama setahun lamanya, tidak meberi kabar atau saling menghubungi, sesorang itu muncul lagi. Meski begitu, perasaan ibu padanya tidak pernah berubah. Entah mengapa,”
“Tapi hari itu, di acara reuni, di sore hari, Ibu menemukan perasaan itu harus ibu akhiri.” Bu Arini masih memandang jauh ke depan. Seolah kejadian itu ia saksikan kembali dengan jelas. “Ibu sampai di tempat reuni satu jam kemudian, setelah acara dimulai. Membawa sekotak kue coklat kesukaan teman-teman. Saat itu, di sebrang parkiran restoran tempat reuni, ibu turun dari angkutan kota dan menyebrangi jalan raya yang memiliki dua jalur besar. Ketika sampai di depan restoran, seseorang itu tiba-tiba menyapa dan melambaikan tangan. Ibu terkejut sekaligus bahagia menemukan dia kembali. Setelah melewati 365 hari, semacam ada rindu yang terobati.”
“Kami mengobrol sebentar lalu kemudian ia menyodorkan sebuah undangan pernikahan,” kini Bu Arini mengalihkan pandangannya. Ia memandangku. “obrolan kami seketika terhenti ketika ibu melihat undangan pernikahan berwarna biru dengan ukiran berwarna emas di atasnya, bertuliskan nama seseorang itu dan seorang perempuan yang tak pernah Ibu kenal. Ibu tidak tahu harus apa, ibu menerima undangan itu dan memberikan kotak kue coklat. Lalu, Ibu perlahan mundur tanpa berkata apa-apa. Seseorang itu jelas sekali tak mengerti apa yang terjadi. Tapi Ibu berbalik kemudian pergi, berlari.”
“Hari itu, rasanya begitu sesak. Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Ibu tidak bisa berpikir jernih lagi hingga undangan itu Ibu tinggalkan di kursi halte bis. Ibu hanya berpikir untuk mengakhiri perasaan Ibu untuk seseorang itu.”
“Lalu, bagaimana ibu menemukan orang yang Ibu bilang memperjuangkan?” Aku bertanya.
“Setelah dua tahun berdamai dan belajar melepaskan, beranjak, seseorang yang lain datang begitu saja. Seseorang yang tak pernah Ibu kira. Dia teman satu kelas semasa kuliah. Rupanya dia diam-diam menyipan rasa sejak tahun pertama. Kami sering satu kelomppok dan mengerjakan banyak proyek bersama. Dia menyimpannya rapat-rapat karena ia tahu bahwa Ibu memiliki rasa pada orang lain, bukan dia. Dia menunggu. Bahkan setelah ia tahu seseorang yang ibu suka telah bahagia dengan orang lain dan Ibu begitu terluka, ia masih menunggu. Ia tahu Ibu butuh waktu untuk kemudian ia mengungkapkan semua rasa.” Bu Arini bercerita dengan nada yang tenang dan mata berbinar.
“Kadang, sesorang yang memang ditakdirkan untuk kita bukan orang yang kita tunggu. Bukan orang yang kita dambakan. Ia bisa saja seseorang yang memperjuangkan dengan penuh keseungguhan tanpa kita sadari. Tapi Tuhan menghitung setiap kesungguhan” Bu Arini mengakhiri ceritanya sambil tersenyum.