Sungguh Beruntung Orang yang Menjaga Imannya
Surat Al-Mu’minun dibuka dengan kabar yang menenangkan sekaligus mengguncang ukuran hidup kita.
Allah tidak memulai dengan menyebut orang yang paling kaya, paling dikenal, paling berkuasa, atau paling banyak dipuji.
Allah memulai dengan iman.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minun: 1)
Di mata dunia, beruntung sering berarti memiliki banyak hal.
Nama yang naik.
Usaha yang berkembang.
Rumah yang lapang.
Angka yang bertambah.
Hidup yang tampak rapi dari luar.
Tetapi Al-Qur’an mengembalikan pandangan kita kepada sesuatu yang lebih dalam.
Keberuntungan terbesar adalah iman yang Allah tanamkan lalu Allah jaga sampai akhir.
Sebab dunia bisa datang dan pergi.
Pujian bisa berubah menjadi lupa.
Kekuatan badan bisa melemah.
Jabatan bisa selesai.
Orang-orang yang dulu dekat pun bisa berjarak.
Tetapi iman, jika dibawa sampai bertemu Allah, itulah keberuntungan yang tidak tertukar.
Menariknya, setelah menyebut orang-orang beriman, Allah tidak menggambarkan keberhasilan mereka dengan kemewahan dunia.
Allah menyebut sifat-sifat yang membentuk hidup mereka.
Mereka khusyuk dalam shalat. Mereka menjauh dari hal sia-sia. Mereka menunaikan zakat. Mereka menjaga kehormatan diri. Mereka menjaga amanah dan janji. Mereka memelihara shalat.
Seakan kita diajak memahami bahwa iman bukan hanya kalimat yang diucapkan.
Iman memiliki arah.
Ia masuk ke shalat, sehingga badan berdiri dan jiwa ikut hadir.
Ia masuk ke waktu, sehingga seseorang tidak betah terus-menerus dalam kesia-siaan.
Ia masuk ke harta, sehingga tangan belajar memberi.
Ia masuk ke amanah, sehingga seseorang takut berkhianat meski tidak diawasi manusia.
Ia masuk ke janji, sehingga lisan tidak mudah bermain-main.
Inilah keberuntungan yang sering tidak ramai di mata manusia.
Mungkin hidup seseorang sederhana, tetapi shalatnya dijaga.
Mungkin namanya tidak dikenal, tetapi ia bersih dari banyak kesia-siaan.
Mungkin pencapaiannya tidak membuat orang bertepuk tangan, tetapi ia sedang berjuang menjaga iman di tempat yang Allah lihat.
Jangan terlalu hancur jika dunia belum menyebutmu berhasil.
Periksa yang lebih penting: apakah Allah masih memberi rasa takut ketika dosa mendekat?
Apakah masih ada dorongan untuk shalat?
Apakah masih ada malu setelah salah?
Apakah masih ada keinginan kembali saat jatuh?
Kalau iya, itu nikmat besar yang tidak boleh diremehkan.
Kerugian paling dalam bukan ketika seseorang kalah dalam urusan dunia.
Kerugian paling dalam adalah ketika hidup terlihat penuh, tetapi iman makin kosong.
Maka mintalah keberuntungan yang Allah puji.
Bukan hanya lancar di dunia, tetapi selamat sampai akhir.
Ya Allah, masukkan kami ke dalam golongan orang-orang beriman yang beruntung.
Hadirkan khusyuk dalam shalat kami, jaga kami dari yang sia-sia, dan bersihkan hidup kami dari pengkhianatan amanah.
Kuatkan kami menjaga janji, menjaga diri, dan menjaga shalat.
Jangan cabut iman dari hati kami hingga kami kembali kepada-Mu.
Aamiin.









