6/2
Baru selesai membaca buku Catatan Seorang Demonstran. Rasanya aneh membaca diary dari orang yang beberapa pola pikirnya berbeda dengan kita.
Tapi buku ini rasanya spesial karena beberapa hal.
Pertama, aku tau tentang Soe Hok Gie karena filmnya dengan judul GIE diperankan oleh Nicholas Saputra. Waktu itu aku menontonnya dengan Bapakku. Kesanku tidak banyak selain tentang demonstrasi dan ketampanan Nicholas Saputra. Umumnya orang mengenal Nicsap dari AADC, namun aku mengetahuinya dari GIE.
Kedua, kemarin (5/2), aku meninggalkan ruanganku untuk meeting. Ternyata aku meninggalkan tasku dengan keadaan terbuka. Salah seorang temanku, Jusac, melihat buku Catatan Seorang Demonstran dan dia kaget. Dia menungguku cukup lama sampai aku selesai meeting dan setelah aku kembali ke ruanganku, dia langsung menodongku dengan pertanyaan, “Menurutmu Soe Hok Gi seperti apa?”
Aku jawab dengan pandanganku sendiri seperti yang aku tuliskan di sini.
Soe Hok Gie adalah manusia yang menarik. Diumurnya yang masih sangat muda, melalui buku diarynya, dia menuliskan keresahannya tentang hidupnya sebagai minoritas. Dia sudah keminggiris sedari kecil. Tapi… pola pikirku dengan Hok Gie sangat berbeda. Dia seorang yang anti PKI dan anti Soekarno. Dia menaruh harapan kepada pemerintahan Soeharto dengan harapan Soeharto lebih baik.
Kita semua tau, harapan Hok Gie salah. Sebelum kematian Hok Gie, dituliskan beberapa penyesalannya terhadap rezim. Dia juga sempat membela beberapa tahanan PKI sampai ia dicap sebagai orang “PKI malam”.
Namun yang pasti, Hok Gie sangat berpihak dengan rakyat. Moralnya untuk rakyat.
Jusac setuju walau dia memang sangat kesal dengan sosok Soe Hok Gie. Selebihnya kami sepakat kalau Hok Gie adalah seorang minoritas yang bermoral dengan pemikirannya.
Catatan Seorang Demostran: bukan sebuah panduan untuk revolusi. Bukan juga sebuah bentuk kita suci untuk bermoral.
Buku yang melelahkan namun wajib untuk dibaca.














