Semua orang tentu ingin bahagia. Saya yakin tak ada orang yang bercita-cita ingin hidup sengsara penuh derita. Walau begitu, pada praktiknya kita sering dihadapkan pada pilihan yang sulit. Seorang kakak mungkin kerap diminta mengalah pada adiknya. Anak bisa dipaksa melakukan sesuatu oleh orangtua. Sahabat pun bisa mengorbankan satu hal penting demi kebahagiaan teman dekatnya.
Dalam menjalani hidup kita senantiasa dipaksa untuk memilih. Mau kuliah apa, bekerja sebagai apa, beli barang merek apa, bahkan makan apa siang ini. Pilihan-pilihan kecil ini sedikit banyak menunjukkan kepribadian kita. Mereka yang memilih jurusan berdasarkan pilihan orangtua berarti sangat berbakti atau belum mandiri. Mereka yang membeli barang berdasarkan prestige berarti mementingkan pandangan orang lain. Mereka yang bekerja mengikuti passion berarti tak takut hidup dengan gaji pas-pasan asal bisa bahagia. Mereka yang memilih makanan sehat berarti peduli tentang masa depannya. Setiap pilihan menunjukkan sebagian kecil kepribadian seseorang. Apa yang kita pilih dan apa yang tak dipilih sebenarnya menyampaikan pesan tertentu pada orang lain.
Sebagai makhluk sosial, saya sendiri sering mengalami perdebatan internal mengenai pilihan. Haruskah saya mengikuti hati atau logika? Mendengarkan saran orang lain atau percaya dengan diri sendiri? Mementingkan kebahagiaan saya atau kebahagiaan orang lain? Semua itu menjadi pertimbangan yang selalu membuat sakit kepala. Ada kalanya saya ingin menolong orang, tapi ada juga waktu-waktu di mana diri ini ingin menang sendiri.
Menjadi egois atau altruis memiliki ‘paket bawaan’ sendiri-sendiri. Mau jadi egois? Anda mungkin bahagia dan puas dengan segala pilihan, namun dibenci atau dibicarakan orang lain di belakang. Mau jadi altruis? Siap-siap makan hati dan tidak bisa mengejar kebahagiaan sendiri. ‘Paket bawaan’ ini adalah risiko yang mau tak mau harus kita terima ketika mengambil salah satu pilihan.
Mungkin benar kata pepatah, hidup ini bagaikan juggling balls, menyeimbangkan berbagai macam hal yang harus kita tangani dan pikirkan dalam waktu bersamaan. Bagi saya sendiri, ada kalanya kita perlu mementingkan kesehatan mental dan kebaikan diri sendiri. Untuk hal-hal yang sangat penting dalam hidup, kita perlu egois dan mementingkan masa depan. Namun banyak juga waktu lain di mana kita perlu memikirkan kebaikan orang di sekitar, kondisi keluarga dan teman terdekat, situasi-situasi di mana kita perlu mengalah. Jika satu hal tidak terlalu mengganggu atau melanggar nilai yang kita pegang, mengalah itu tak mengapa. Membantu orang lain juga bisa memberi kepuasan tersendiri untuk kita.
Sampai sekarang saya masih terus berjuang menemukan keseimbangan. Terkadang, bola-bola dalam kehidupan saya jatuh bergelimpangan ke lantai. Ada yang pecah, ada yang memantul jauh, ada yang bisa diambil kembali, dan ada yang hilang entah ke mana. Hidup tak pernah mudah, tapi kita harus selalu kembali bangun dan menjalani hari dengan lebih baik dari kemarin.