LANGIT
Bukankah harusnya bintang akan selalu tergulung dengan langit? Siapa yang membantunya? Tentunya angin bukan? Angin ada dua jenis. Yang pertama merupakan angin yang baik—angin inilah yang memberikan banyak keuntungan kepada si bintang dan si langit. Dunia memang selalu berpasangan—begitupun angin. Sebaliknya, ada angin yang jahat. Tunggu, mungkin ia tidak jahat dan aku percaya tak seorangpun diciptakan dalam keadaan yang jahat. Bukankah Tuhanmu telah menciptakanmu dalam bentuk yang sebaik-baiknya? Begitupun angin ‘jahat’ mungkin ada berbagai alasan mengapa ia memilih menjadi sosok antagonis di dalam cerita ini. Dan aku enggan mengusiknya.
Sebenarnya aku juga enggan kembali menuliskan hal naif yang kurasakan tiga tahun silam, tepat tiga tahun yang lalu dan disaat-saat seperti ini tentunya. Saat sekolah tingkat akhir sedangkan masih ada dua tujuan yang harus kutuntaskan. Semesta kali itu mengizinkan aku dan dirimu akrab, tetapi kita tidak saling, bahkan menyatu tentunya, begitupun angin, ia masih dominan sosok angin protagonis.
Entahlah berkali ku katakan dunia selalu memiliki siklus. Kini malam berganti siang, teduhnya bintang tergantikan dengan teriknya matahari, begitu menyengat namun menghangatkan. Kabut berganti dengan fatamorgana. Semua nampak berkilau hingga teduhnya angin subuh hari telah terlupakan.
Siklus terus berjalan seperti itu hingga suatu hari, saat si bintang harusnya datang tetapi kabut hitam menggantikan posisinya—tunggu, bukan itu, kabut hitam telah berhasil menyingkirkan bintang dari sisi langit. Dan kini, langit sendiri serta menantikan jenis hiasan yang seperti apa yang akan menggantikan hawa bintang dan matahari.
Dan kini jelas akan dirindukan aroma kabut di subuh hari bekas aroma tubuh si bintang yang masih melekat hingga akhirnya terik matahari mendesak dan melenyapkan aroma yang paling kusukai, aku tak membenci matahari karena ia yang menawarkan diri sebagai pengganti tetapi pada akhirnya ia-lah yang meminta untuk diganti. Bukan meminta—namun memaksa. Bukan juga memaksa—tetapi hanya memberikan kode untuk diganti.
Untuk bintang; tetaplah terang walau tak selalu bisa dipandang, dan ketika mendung sudah menghilang, karena saat senja datang, hanya ada kita yang diundang, lalu dipandang, serta ditimang.
Untuk matahari; tetaplah bersinar seperti sediakala, jika mendung datang, jangan hiraukan dan tunggulah sampai ia kembali berpulang. Karena sinarmulah yang menjadikan terang dan selalu dirindukan.
Dan untuk keduanya, maafkan jika memang harus bergantian, karena sakitnya digantikan-pun aku juga sudah merasakan, dan itu tak seberapa dibandingkan dia—yang hanya bisa memandang—dari kejauhan dengan luka yang terpampang, dan hanya dibiarkan terkapar dan menunggu penantianya usang.
Salam, dari langitmu yang senantiasa tinggal
tanpa mengharapkan balasan.












