“Tugasmu bukan memperbaikiku. Tugasmu adalah menemaniku ketika aku sedang memperbaiki diriku sendiri.”
— (via mbeeer)
dan biarlah untuk saat ini memperbaiki diri masing masing. barulah nanti, and i will try to fix you.
★

titsay
No title available
ojovivo
h

PR's Tumblrdome
Xuebing Du
Misplaced Lens Cap
todays bird
🩵 avery cochrane 🩵

@theartofmadeline

No title available
The Stonewall Inn

Andulka
almost home
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Noah Kahan
official daine visual archive
Cosimo Galluzzi

Jar Jar Binks Fan Club

seen from Cameroon
seen from Türkiye

seen from Thailand
seen from Uzbekistan
seen from United Kingdom
seen from Iraq

seen from Malaysia
seen from Uzbekistan
seen from Colombia

seen from Albania
seen from Canada
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
@nosepoint88-blog
“Tugasmu bukan memperbaikiku. Tugasmu adalah menemaniku ketika aku sedang memperbaiki diriku sendiri.”
— (via mbeeer)
dan biarlah untuk saat ini memperbaiki diri masing masing. barulah nanti, and i will try to fix you.
Bisa jadi ketidakberuntunganmu adalah implikasi dari banyaknya dosa dan sedikitnya do'a. See?
— Taufik Aulia
ter-tampar.
Aku tidak mau.
Kepada siapapun yang rela menunggu seseorang membuka hati untuk yang kesekian kalinya, bersabarlah semampumu. Jangan berjuang terlalu keras, karena perjuanganmu belum tentu ternilai dimatanya, apalagi sampai mendobrak pintu hatinya. Nanti kamu terluka.
Tunggulah di depan pintu itu. Ketuklah perlahan. Percayalah, ia hanya butuh waktu untuk kembali membuka pintu yang dulu pernah kau rusak dan mempersilakan kamu untuk kembali masuk ke dalam hatinya. Entah untuk bersenang-senang ataupun berjuang.
Mungkin masih banyak kenangan masa lalunya yang berserakan. Atau sekarang ia sedang berusaha meyakinkan dirinya untuk dirimu yang baru, yang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, itu katamu.
Bersabarlah kamu. Bisa saja ia perlahan sedang membereskan kenangan itu. Agar nanti bila kamu dihatinya, tak akan ada kenangan dan dirimu yang dahulu.
Kepada kamu yang telah menunggu, terimakasih karena sudah menjadikan waktu dan sabar sebagai sahabatmu. Jika kamu tak mampu, maka kembalilah lain waktu. Siapa tau aku masih berada di pihakmu.
Februari, 2018
Menangislah Jika Itu Menenangkan
Perkara hati adalah perkara yang tak mudah diprediksi. Seorang lelaki gagah pun bisa saja tiba-tiba menangis karena kehilangan. Seorang lelaki parlente pun bisa saja berkali-kali menangis karena ditinggalkan. Rupanya hati tak pernah bergantung pada rupa, predikat, pekerjaan, kekayaan, dan kedudukan. Hati adalah alam sendiri yang bisa bahagia dan sedih semaunya.
Menangislah dan jangan berhenti jika itu menenangkanmu meski hanya untuk sesaat. Menangislah dan resapi jika itu mengurangi dukamu meski tak lama. Tangisan bukan tanda kelemahan. Menangis adalah tanda hatimu masih hidup meskipun redup, tanda masih bisa berharap dan membuat pilihan dalam hidup. Bersyukurlah karena rindu nan sendu itu berhasil membuatmu menangis, bahkan berkali-kali. Hatimu lembut. Jangan salah, yang menangis hari ini belum tentu akan terus hidup dalam sedu-sedan di masa depan.
Jika kamu adalah orang yang kehilangan, ditinggalkan, atau telah menyia-nyiakan kesempatan atas sebongkah hati manusia, sekalipun susah tapi bersyukurlah saja. Bersyukur karena kamu hanya kehilangan manusia, bukan kehilangan Allah. Bersyukur karena kamu hanya ditinggalkan manusia, bukan ditinggalkan Allah. Bersyukur karena Allah tak pernah berpaling dan selalu memberi kesempatan yang sangat luas sekalipun kamu terlalu sering menyia-nyiakan-Nya.
Jangan kamu tolak rasa sedih dan sendu itu. Kamu bisa jadikan itu energi untuk melawan balik. Bukan balas dendam, tapi untuk melanjutkan hidup dengan versi terbaik dari dirimu. Pengalaman pahitnya kehilangan adalah pengalaman yang berharga, yang mengajarkan kamu untuk menjadi pribadi lebih baik yang menghargai sesuatu dan kesempatan yang kamu punya.
Well, kehilangan memang berat. Tapi kita adalah orang-orang yang percaya. Yang percaya bahwa takdir itu ada, yang percaya bahwa jodoh itu ada. Saat kehilangan terasa begitu berat, bayangkan saja bahwa kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang akan menyerahkan hati sepenuhnya untukmu. Jangan jadikan dia yang di masa depan itu menjadi sia-sia untuk yang kesekian kalinya, karena kamu berkewajiban memberikan hatimu padanya tanpa ada luka segores pun.
Barangkali kamu hanya butuh waktu untuk kembali pulih. Nikmati saja jika memang harus menangis. Al-Qur’an adalah obat dan penawar, cobalah sembuhkan hatimu dengan membacanya perlahan. Aku tak tahu kapan kamu akan pulih, tapi setidaknya percayalah bahwa Al-Qur’an adalah penawar hati yang luka. Tangismu itu akan lebih bernilai jika diiringi bacaan Al-Qur’an meskipun sambil terbata.
Jangan berhenti memikirkan masa depan. Masa lalu adalah bagian dari dirimu yang tak akan hilang, tapi kamu tak lagi hidup di situ. Dimensi tempatmu hidup adalah hari ini yang terus berjalan maju. Akan banyak sekali tempat yang kamu singgahi dan orang yang kamu temukan. Aku adalah orang yang sangat percaya, bahwa kelak kamu akan menemukan seseorang yang menjadi tempat pulangmu, yang akan membuatmu bersyukur memilikinya, dan yang akan menghapus penyesalanmu yang telah lalu.
Allah tak pernah meninggalkanmu, Sahabatku.
“Do not lose hope. Nor be sad.” (Surah Ali Imran: 139)
— Taufik Aulia
Kepada Tuan di Lain Kota
Sayang, ada yang mengusik pikiranku akhir-akhir ini.
Perihal ketiadaanku di setiap harimu.
Maaf, sosokku bukanlah yang selalu ada setiap kamu butuh. Maaf, aku tidak bisa ada untuk sekedar menemanimu makan siang. Maaf, aku juga tidak ada di jok belakang motormu untuk menemanimu berkeliling kota.
Hal-hal itu membuatku merasa berdosa.
Ingin, aku ingin sekali ada di setiap kamu merasa bosan dengan kegiatan sehari-harimu.
Aku ingin, bisa ada di hadapanmu saat kamu sibuk dengan laptopmu. Dengan segelas minuman, memainkan ponselku sambil sesekali mengambil gambarmu diam-diam seperti yang selalu aku lakukan.
Aku ingin, bisa membawakanmu sebungkus makanan setiap kamu mengeluh lapar, tapi tubuhmu terlalu malas untuk beranjak dari kamar.
Aku ingin, selalu ada menjadi temanmu nonton setiap ada film baru yang tayang di bioskop.
Sayang, maaf kalau saat ini aku harus mengalah pada jarak. Ia lebih menyayangimu rupanya.
Bukan aku tidak sayang, bukan aku tidak mau berjuang. Tapi ada beberapa hal yang membuatku harus tetap berada 130km darimu.
Dan terimakasih, kamu memilih untuk tetap bertahan. Walau aku tahu, di tempatmu sana pasti banyak sekali wanita yang tanpa kamu mintapun mereka dengan senang hati menemani, tapi kamu lebih memilih untuk sendiri.
Sabar ya, dalam setiap doa yang ku layangkan, aku meminta untuk selalu ada di dekatmu. Bisa menemani hari-harimu. Bisa selalu hadir saat kamu butuh.
Sayang, mau kah kamu membantuku? Dengan meminta hal yang sama dalam setiap doamu.
Sehingga kelak setiap saat aku menemuimu, aku bukan lagi datang, tetapi untuk pulang.
JEDA
Jeda (n) : (waktu berhenti (mengaso) sebentar; waktu beristirahat di antara dua kegiatan atau dua babak (seperti dalam olahraga dan sebagainya).
Rangkaian kata tak akan ada maknanya jika tak ada spasi. Pelari marathonpun akan kelelahan jika tak ada jeda. Pelajar akan bosan jika tak ada jeda diantara waktu belajarnya. Begitupun kita. Jeda ada untuk memperbaiki semuanya. Kita yang sudah sedekat ini, sekian lama sedang berusaha membahagiakan dan selalu saling berkorban. Mengesampingkan ego masing-masing yang sebenarnya sangat ingin dikeluarkan.
Jeda ada untuk memperbaiki semuanya. Jeda dan waktu akan berkolaborasi. Tunggu sejenak, jeda sedang akan bekerja.
Aku tak pernah takut, jikakalau kita terlampau nyaman karena jeda. Aku percaya, tali yang kendur tak akan pernah lepas jika tidak digunakan untuk berlari. Karenanya, kamu tak perlu berlari, cukuplah berjalan dengan perlahan.
Tak usah banyak bertanya. Tak perlu banyak menjelaskan. Karena sekarang semuanya sudah tak berguna. Aku sudah lupa dan aku sudah bisa menerima.
surakarta, 15 November 2017
Rabu sore disela-sela suara rintik hujan.
Transisi Majemuk
23 years old.
Beberapa temanmu menikah.
Beberapa temanmu sudah disebut “mommy!”.
Beberapa temanmu bekerja di tengah hiruk pikuk kepadatan kota besar.
Waktu yang kita habiskan sekian lama, mengantarkan kita, akhirnya, pada garis tangan kita masing-masing.
No more chit-chats about what will you do someday, what you will be. Tampaknya semua bermuara pada hari ini. Percakapan kita beberapa tahun lalu yang aku lihat hari ini.
Sampai kita memang sendiri menentukan langkah kaki kita sekarang. Go, back, atau looking for a new thing. Atau… fight for our dreams?
Sambil tiap-tiap berharap. Berdoa. Dalam diam.
Melihat teman-teman kita sudah menemukan.
Kali ada yang memang benar-benar menemani dalam langkah-langkah kaki yang berbeda, yang ingin melebur misi-misi kita dalam misinya.
I always pray all the best for you.
Hope we will find a right piece. For our entire life.
Aamiin
waktu Surakarta bagian para maba yang sibuk merampungkan asistensi dan persiapan responsi. namun UTS menghantui, padahal sisa sisa perasaan 'masa bimbingan' belum sepenuhnya pudar.
YOGYAKARTA
selamat berjuang!
jangan mengeluh.
katamu ini caramu membahagiakan orangtuamu,
katamu juga,
kamu ingin mereka bangga memiliki anak sepertimu.
katamu pula,
ini adalah langkah awalmu untuk memulai segalanya dari awal.
jangan khawatir,
aku disini.
menunggumu dengan sabar,
dan aku juga sedang berjuang untuk diriku sendiri.
jangan takut,
jika kamu lelah,
maka bersandarlah.
jangan bersandar di pundakku,
karena aku terlalu kurus.
maklum anak kos, he he.
jika tak segera kau temukan pundak untuk bersandar,
maka segera gelar sajadahmu,
lalu bersujudlah. dan berceritalah.
Surakarta
pertengahan september, dengan tidur yang mulai tak nyenyak.
Revolusi
Delapan belas tahun. Bukan anak kecil, juga belum tepat jika dikategorikan menjadi seseorang yang dewasa. Peralihan, dari keseharian mengenakan seragam. Atasan putih bawahan merah, biru, dan abu-abu ternyata sudah terlalui. Sepatu hitam polos dan berbagai aturan lain juga sudah tidak ada artinya lagi. Kini tinggalah dirimu sendiri, jauh dari kedua orangtua, keluarga, dan saudara-saudaramu yang siap membantumu kapanpun dan bagaimanapun kau mau. Kini tinggalah dirimu seorang diri, mungkin bersama teman kosmu ataupun teman prodimu. Bukan keinginanmu untuk terus bergantung kepada temanmu yang mungkin baru kau kenal sebulan belakang ini, tetapi keadaanlah yang menuntutmu untuk berbuat baik dan bersikap sebaik mungkin kepada semua orang yang baru saja kau ajak kenalan atau mengajakmu untuk berteman denganya. Syukurilah.
Merepotkan dan terepotkan. Memang biasa terjadi bukan? Rasa kecewa dan sebal memang terkadang perlahan-lahan menggerogoti hatimu. Tetapi, tahan dulu. Bukankah kamu juga merupakan makhluk sosial yang setiap saat membutuhkan bantuan orang lain? Jangan biarkan juga hatimu menghitam karena sering kau racuni dengan berbagai penyakit hati itu. Mandiri. Bukan waktunya untuk bermanja-manja lagi. Oya, satu hal. Jangan mudah dengan gampangnya bercerita kepada mereka yang selalu mendoakanmu disetiap akhir sujudnya dengan khusyu’. “bu, aku sakit perut” jangan. Kumohon jangan, tetapi tahanlah. Dan di tahap inilah kemampuan problem solving sedang diuji. Lagipula hanya dengan dua kalimat itu, ketahuilah bahwa sebenarnya orang diseberang sedang kacau hatinya. Teraduk-aduk perasaanya. Mereka lalu sesegera mungkin menghubungimu dan berkata bahwa segera ingin kesana memastikan perutmu dalam keadaan yang masih sangat baik-baik saja. Apakah kamu bahagia dengan hal seperti itu?
Rindu. Pepatah mengatakan Merantaulah jika kamu ingin tahu siapa orang yang paling kau rindukan. Bagaimana? Sudah menemukan jawabnya kah? Jika kau bertanya padaku maka akan kujawab. Rumahku. Ya, rumah adalah orang yang paling kurindukan. Rumah adalah keadaan dimana kamu merasa kembali. Keadaan dimana kamu merasa nyaman, dan keadaan dimana saat itulah kamu sedang benar-benar menjadi dirimu sendiri. Jika ketiga hal itu dapat kau temukan dalam sekali waktu, maka itulah rumahmu. Literally rumah.
Kembali. Tentunya kamu akan kembali setelah sekian lama berjuang dan sekian lama menantikan saat untuk kembali. Kembali bertemu dengan rumah-rumahmu, dan menghabiskan banyak sekali waktu bersama mereka. Tetapi, aku ingin bercerita. Sekarang aku sedang kembali. Untuk bertemu dengan rumahku. Tetapi salah satu rumahku ternyata sedang berjuang sendirian sepertiku di kota seberang. Dan dalam waktu dua bulan lagi mungkin kita akan bertemu dan dalam dua bulan ini kita tidak saling bertemu sama sekali. Komunikasi dua arahpun terhambat karena kesibukan masing-masing dari kita. Satu hal yang kusesali saat aku berangkat, dan meninggalkan rumahku adalah berperang dan tidak kembali sebelum batas waktu yang sudah ditentukan. Jika ia bercerita seperti itu, maka aku akan dengan suka rela menghabiskan dua-puluh-empat jam waktuku bersamanya.
Dan untuk rumahku yang juga sedang berjuang, ingatlah selalu bahwa kamu tidak sedang berjuang sendirian. Dan ketika kamu pulang, ingatlah aku sebagai salah satu rumahmu. Serta jangan khawatir jika pelurumu habis, karena aku akan selalu mengisi ulang untukmu.
Surakarta, September 2017
This is my take on Modest Fashion, while wearing a hijab (veil). Modest Fashion isn’t boring or dull, to me it’s a form of self expression through different styles. The fashion industry doesn’t really do much to represent us, so here I am repping my style!
I can’t wait for the day that a veiled woman is on the front page of a magazine like Vogue (I get excited just thinking about it!).
Also, you can find more of me on my instagram page @feeeeya and I hope you enjoy this post, took a bit of effort.
Modest Fashion 2016 This is my take on modest fashion. It is my form of self expression and creativity. I hope you enjoy it just as much as I do!
IG: @FEEEEYA
Si Putih dan Biru
Penanda tiga tahun yang indah, Tiga tahun pertama setelah enam tahun bersama, harus berpisah dan mengganti si merah dengan si biru, biru lebih berarti, biru yang penuh arti, mungkin hanya untukku, tak berlaku bagimu.
Kita tak saling mengenal cukup lama, mungkin kamu saat itu belum menjadi kamuku, bahkan sampai saat ini, saat kamu telah memiliki akhiran ‘ku’, aku belum menjadi aku-nya kamu.
Tak apa bagiku, bagiku apalah guna sebuah akhiran, akhiran kata belum tentu menjadi akhiran makna, makna bisa saja berubah, berubah mengikuti waktu, dan waktu bisa membawamu kemana yang dia mau, apa yang dia mau bukan yang kumau.
Sayang... tak usah menjawab ‘"Yaa” karena itu bukan panggilan untukmu, aku tak menyayangimu, sedari dulu, hingga saat ini.
Entah apakah rasa hingga ku tiba disini, dulu terlalu dini, tapi terlambat untuk saat ini, terus bersarang dan enggan menepi, bila diutarakann kini tak berarti.
Usang, putih telah berubah menjadi kusam,
Berdebu, biru mulai mengelabu, dan haru tinggalah sesak yang menderu, “untuk apa terus menunggu?” tapi tak kutemukan jawabmu,
apa kabar hati yang jarang disapu, kuatkah kamu tinggal disitu.
LANGIT
Bukankah harusnya bintang akan selalu tergulung dengan langit? Siapa yang membantunya? Tentunya angin bukan? Angin ada dua jenis. Yang pertama merupakan angin yang baik—angin inilah yang memberikan banyak keuntungan kepada si bintang dan si langit. Dunia memang selalu berpasangan—begitupun angin. Sebaliknya, ada angin yang jahat. Tunggu, mungkin ia tidak jahat dan aku percaya tak seorangpun diciptakan dalam keadaan yang jahat. Bukankah Tuhanmu telah menciptakanmu dalam bentuk yang sebaik-baiknya? Begitupun angin ‘jahat’ mungkin ada berbagai alasan mengapa ia memilih menjadi sosok antagonis di dalam cerita ini. Dan aku enggan mengusiknya.
Sebenarnya aku juga enggan kembali menuliskan hal naif yang kurasakan tiga tahun silam, tepat tiga tahun yang lalu dan disaat-saat seperti ini tentunya. Saat sekolah tingkat akhir sedangkan masih ada dua tujuan yang harus kutuntaskan. Semesta kali itu mengizinkan aku dan dirimu akrab, tetapi kita tidak saling, bahkan menyatu tentunya, begitupun angin, ia masih dominan sosok angin protagonis.
Entahlah berkali ku katakan dunia selalu memiliki siklus. Kini malam berganti siang, teduhnya bintang tergantikan dengan teriknya matahari, begitu menyengat namun menghangatkan. Kabut berganti dengan fatamorgana. Semua nampak berkilau hingga teduhnya angin subuh hari telah terlupakan.
Siklus terus berjalan seperti itu hingga suatu hari, saat si bintang harusnya datang tetapi kabut hitam menggantikan posisinya—tunggu, bukan itu, kabut hitam telah berhasil menyingkirkan bintang dari sisi langit. Dan kini, langit sendiri serta menantikan jenis hiasan yang seperti apa yang akan menggantikan hawa bintang dan matahari.
Dan kini jelas akan dirindukan aroma kabut di subuh hari bekas aroma tubuh si bintang yang masih melekat hingga akhirnya terik matahari mendesak dan melenyapkan aroma yang paling kusukai, aku tak membenci matahari karena ia yang menawarkan diri sebagai pengganti tetapi pada akhirnya ia-lah yang meminta untuk diganti. Bukan meminta—namun memaksa. Bukan juga memaksa—tetapi hanya memberikan kode untuk diganti.
Untuk bintang; tetaplah terang walau tak selalu bisa dipandang, dan ketika mendung sudah menghilang, karena saat senja datang, hanya ada kita yang diundang, lalu dipandang, serta ditimang.
Untuk matahari; tetaplah bersinar seperti sediakala, jika mendung datang, jangan hiraukan dan tunggulah sampai ia kembali berpulang. Karena sinarmulah yang menjadikan terang dan selalu dirindukan.
Dan untuk keduanya, maafkan jika memang harus bergantian, karena sakitnya digantikan-pun aku juga sudah merasakan, dan itu tak seberapa dibandingkan dia—yang hanya bisa memandang—dari kejauhan dengan luka yang terpampang, dan hanya dibiarkan terkapar dan menunggu penantianya usang.
Salam, dari langitmu yang senantiasa tinggal
tanpa mengharapkan balasan.