Anak Indonesia Emas? Pilihan
Kita ketahui bersama beberapa instansi pemerintah seringkali dalam acara penting, menyampaikan kabar gembira bahwa,” Indonesia Emas 2045 nanti, kita akan mendapatkan bonus demografi dimana saat itu lebih banyak diisi oleh usia produktif daripada mereka yang berusia lanjut”. Tidak hanya itu, kita (red. Indonesia) memasuki usia ke-100 tahun kemerdekaan yang menurut banyak spekulator bahwa angka 100 adalah angka yang cukup untuk mewakili kematangan sebuah bangsa dalam menapaki masa yang berjaya. Ada kepercayaan khusus soal angka 100 ini. Banyak yang mengatakan akan ada tokoh pemimpin yang hebat muncul disetiap pengulangan satu abad ini, dan diyakini akan membawa kemaslahatan bagi penduduk suatu negeri. Mari kita aminkan kabar gembira ini.
Kabar gembira yang ditiupkan haruslah tetap berpijak pada realitas kekinian, artinya tantangan menuju tahun itu bagaimana? Apakah masalah yang hadir telah mampu dicarikan solusi tepatnya? Atau justru kebanyakan orang hari ini lebih mementingkan hidupnya sendiri. Padahal jika ditelisik dengan hari ini dengan hari dimana bangsa ini sedang diperjuangkan kemerdekaannya kita dapat menyimpulkan sementara bahwa kita sedang mengulang sejarah ,hanya penyajiannya saja yang kekinian. Contoh, entrepreneuer saat ini sedang di gencarkan yang diharapkan mampu menjadi solusi terhadap jumlah pengangguran dan ikut mendongkrak perekonomian negara. Sehingga saat ini muncul beragam komunitas entrepreneuer. Di masa lalu istilah ini (red. Entrepreneuer) lebih familiar dengan sebutan berdagang/berniaga dan muncul. Tidak ketinggalan muncul komunitas dagang, sarekat dagang islam sebagai contohnya. Tapi, kali ini saya tidak membahas tentang entrepreneuer melainkan fakta pada sisi kesehatan masyarakat sebagai bidang keilmuan saya.
Realitas kekinian begitu saya menyebutnya. Ada fakta yang memprihatinkan dan ini memiliki dampak tidak langsung atas ketersediaan kualitas sumber daya manusia masa depan, tahun 2045 mungkin saja. Ini soal gizi masyarakat. Hasil Riskesdas tahun 2007-2013 mengatakan bahwa angka underweight meningkat dari 18,4% menjadi 19,6%, kemudian stunting meningkat dari 36,8% menjadi 37,2%. Faktor yang melatarbelakangi munculnya data ini dikarenakan kekurangan gizi dan juga kelebihan gizi, artinya adanya gizi yang tidak seimbang. Contoh stunting, terjadi karena kekurangan gizi kronis yang disebabkan kemiskinan dan pola asuh yang belum tepat. Keduanya mengakibatkan kemampuan kognitif seorang anak tidak berkembang maksimal. Kondisi ini juga mengakibatkan seorang anak menjadi mudah sakit dan berdaya saing rendah yang kemudian akan berakhir pada terjebaknya dalam kubangan kemiskinan. Jika keadaan ini diteruskan dan tidak dilihat sebagai persoalan yang serius maka tunggu saja Indonesia Emas 2045 hanya sekedar mitos.
Kebanyakan orang terjebak dalam dogma agama yang membabibuta, artinya persoalan agama dileburkan dengan persoalan nyata di kehidupan dengan seenaknya. Contoh orang akan bilang,” ah buktinya anak saya sampai sekarang sehat-sehat saja padahal waktu kecil hanya saya kasih makan tempe dan tahu tidak lebih”. Ada lagi yang bilang,” percaya saja sama gusti Allah semua itu ada yang mengatur toh burung aja dijamin hidupnya”. Luar biasa pemahaman ini telah mengakar bertahun-tahun dan sulit sekali merubahnya. Padahal Allah itu juga mengatakan bahwa DIA tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu sendiri merubahnya. Ya usaha itu adalah bukti bahwa kita sedang menjemput takdir yang lebih baik, itu seharusnya yang dipahami.
Kembali lagi soal kesehatan masyarakat. Indonesia mengalami masalah yang serius soal gizi. Maka kita perlu tahu satu hal ini agar kita mampu memberikan sumbangsih nyata mulai dari diri sendiri dan keluarga serta sanak saudara, yaitu berupa fakta bahwa 1000 hari pertama kehidupan seorang anak adalah masa kritis yang menentukan masa depannya dan periode ini anak Indonesia menghadapi gangguan pertumbuhan yang serius. Masalahnya adalah sering orangtua (kebanyakan) tidak memerhatikan soal kandungan gizi pada makanan yang diberikan pada anak pada 1000 hari pertama kehidupan anak. Padahal lewat dari 1000 hari, dampak buruk kekurangan gizi sangat sulit untuk diobati. Mengatasi ini (red. stunting), masyarakat perlu dididik untuk dipahamkan pentingnya gizi ibu hamil dan anak balita. Semoga pemerintah dan masyarakat mampu bersinergi untuk bersama-sama mengatasi persoalan gizi ini yang telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Sudah saatnya Top-down featuring bottom-up karena persoalan di zaman kemajuan teknologi pesat ini dinamikanya sangat seru, menuntut berpikir keras dan bekerja ikhlas.
Dengan yang telah disebutkan tadi apakah kita masih bercita-cita hanya hidup dan sekedar hidup? Apakah kita masih ingin hidup untuk kebahagiaan pribadi yang 100%? Padahal banyak hak orang lain sejujurnya yang perlu kita bagi. Orang hebat dan kaya (tertentu) diluar sana sering mengatakan bahwa hidup yang panjang adalah kehidupan yang hidup bersama tanpa ketunggalan. Hidup yang berbagi kehidupan dan berbagi kebahagiaan. Kata mereka hari ini hidup egois membabibuta sudah tidak relevan. Mereka (red. orang hebat dan kaya) menyebut diri mereka sebagai socialpreneuer. Bahwa setiap yang dilakukan adalah orientasi hasil akhir berupa dampak sosial, artinya adanya pengaruh atau perubahan. Bukan hidup menumpuk kekayaan dan sibuk untuk pertunjukan aset dengan gaya parlente yang membusung.
Terlepas dari itu semua, apapun dari kesemuanya merupakan pilihan. Mendiamkan negeri ini untuk terus berada dalam kubangan masalah pun itu pilihan. Mengambil peran untuk melakukan perubahan sederhana untuk negeri ini pun juga pilihan. Tidak ada paksaan, tetapi bagi mereka yang sadar bahwa hidup ini tidak sendiri dan bukan hanya tentang dirinya sendiri pasti dia tahu keduanya bukan pilihan yang sempurna, tetapi mereka paham mana pilihan yang terbaik.
. . . dan juga untuk pilihan menjadikan Indonesia Emas dalam mitos atau dalam realitas yang nyata.
Yuk ambil peran!
- Pena Arial











