Penggunaan akronim "kape" sepertinya lebih menimbulkan kesan terhadap "seseorang" daripada dengan menuliskan "Kelas Puisi" yang lebih berkesan sebuah ruangan yang berisikan puisi-puisi. Jadi, untuk our dearest kape, terima kasih atas pengertiannya :D Aku awali surat ini dengan ucapan selamat siang, menjelang berbuka puasa #eh. Menjelang sore maksudnya, Kape. Di siang ini aku ingin menyampaikan, cintaku padamu seperti bola salju (alamak, malah nyanyiin lagunya Sule). Atau cintaku padamu seluas samudera setinggi langit di angkasa (aduh, malah jadi nanyiin lagunya Dewa 19 lagi). Ah yasudah, tak perlu bergombal-gombal. Aku langsung ke intinya saja. Kape, kau memberikanku inspirasi dan wawasan luas, yang membenarkan sebuah pernyataan bahwa, "Di atas langit ada langit." Semenjak keikutsertaan di Kelas Puisi, April ini, banyak sekali hal yang aku dapatkan. Teman baru dan ilmu baru. Aku jadi paham bahwa menulis puisi itu membutuhkan teman untuk berbagi, tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri. Atau, bukan hanya itu, puisi kita membutuhkan respon timbal balik, yang membuat kita lebih tahu dan lebih mengerti tentang puisi yang kita tulis berangkat dari pendapat teman-teman penulis lainnya. Ilmu mengenai puisi, sebenarnya banyak beredar di laci-laci perpustakaan atau di tumpukan tulisan elektronik yang berhambur di dunia maya. Namun teman menulis, hanya bisa didapatkan di komunitas-komunitas saja. Ada sebuah penghargaan besar ketika aku diterima menjadi anggota Kelas Puisi, yang seharusnya aku manfaatkan sebaik mungkin. Kape, Kelas Puisi, atau apapun akronim lainnya, menjadi representasi bahwa pertemanan tidak perlu diawali dengan bertatap muka. Yang penting tujuannya sama, pertemanan dapat dihubungkan. Untuk Kape yang aku cintai, maafkan aku yang belum bisa banyak memberi. Sejauh ini hanya baru bisa banyak menerima. Yours. Bandung, 19 Juni 2016 Cc. @kelaspuisi @menatapmu @katakakiku