Gizi Kurang dan Gizi Buruk
Sungguh menyedihkan bahwa di tahun 2015 ini masih ada saja kasus gizi buruk dan gizi kurang pada masyarakat Indonesia. Tulisan ini saya angkat karena saya menemukan kasus ini masih ada, dan tidak perlu jauh-jauh di desa terpencil tapi di kota besar dengan segala fasilitas dan sumber informasi yang mudah didapat, tetap tidak bisa menjangkau rakyat kecil. Itu menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua, baik instansi pemerintah, instansi kesehatan dan masyarakat semua untuk saling mengingatkan.
Kurang Energi Protein Pada Anak
Kurang Gizi dapat disebabkan oleh faktor primer, yaitu asupan gizi yang tidak adekuat atau tidak berkualitas dan dapat disebabkan oleh penyebab sekunder, yaitu penyakit yang mempengaruhi asupan makan, kebutuhan nutrient, metabolism dan absorbs. Kurang energi protein, secara umum dibedakan menjadi marasmus dan kwashiorkor.
Marasmus :Hilangnya massa lemak dan massa otot yang berat, akibat dari defisiensi kalori yang kronis
Pada umumnya disebabkan oleh keadaan akut dan stress berat.
Tujuan pengaturan pada bayi dan anak :
Memberikan zat gizi yang cukup bagi kebutuhan, yaitu untuk pemeliharaan, dan/atau pemulihan serta peningkatan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikomotor, serta melakukan aktivitas fisik.
Untuk mendidik kebiasaan makan yang baik
Memenuhi kecukupan energi dan semua zat gizi sesuai dengan umur.
Susunan hidangan disesuaikan dengan pola menu seimbang, bahan makanan yang tersedia setempat, kebiasaan makan dan selera terhadap makan.
Bentuk dan porsi makan disesuaikan dengan daya terima, toleransi dan keadaan faali bayi atau anak.
Memperhatikan kebersihan perorangan dan lingkungan
Riwayat Penyakit Sekarang
Mengetahui faktor yang menyebebabkan terjadinya gizi buruk :
Riwayat kehamilan dan kelahiran (premature, BBLR)
Riwayat pemberian makan (ASI, MPASI)
Riwayat imunisasi dan pemberian vitamin A dosis tinggi
Riwayat Penyakit penyerta atau penyulit (diare, cacing, TBC, malaria, ISPA, atau pneumonia,, HIV-AIDS).
Riwayat tumbuh kembang (motorik, apakah rutin menimbang di Posyandu, punya KMS)
Penyebab kematian pada saudara kandung.
Status sosial, ekonomi dan budaya keluarga
Riwayat Gizi : Penurunan Berat Badan, Besar dan lama penurunan berat badan, Berapa lama tidak atau kurang memperoleh asupan makanan, Anoreksi, nausea, muntah, disfagia, diare beserta lama dideritanya, Kapasitas fisik menurun, riwayat trauma (termasuk pembedahan), inflamasi, infeksi
Perbedaan Marasmus, Kwashiokor dan Marasmus-Kwashiokor
Penurunan drastis dari jaringan adipose
Kehilangan BB : Daerah tungkai atas dan bawah, Penurunan massa otot
Pembengkakan abdomen : Ascites (peningkatan permeabilitas kapiler)
Edema perifer : penurunan tekanan enkotik
Crazy Pavement Dermatosis
Defisiensi kalori dan protein
Pembesaran hati, perlemakan hati
Tanda-tanda gangguan sirkulasi (tensi,nadi, RR)
Tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, kehausan, kering pada bibir dan mulut, turgor menurun, kencing terakhir)
Tanda-tanda hipoglikemia dan hipotermi
Tanda-tanda infeksi (demam)
Tanda-tanda anemia (sangat pucat)
Organ tubuh lain (kepala, mata, telinga, hidung, tenggorokan, leher dada, perut, ekstremitas, kulit) dan seluruh tubuh.
Tinggi atau panjang badan
BB ideal prioritas table BB/TB, grafik (lihat lampiran standar antropometri penilaian status gizi anak Depkes 2011
A. Pemeriksaan Laboratorium
Kuantitas asupan makanan (food recall)
Kualitas asupan makanan (food frequency)
C. Pemeriksaan Radiologi : Foto rontgen thorax, USG, dll
Status gizi antropometrik : Marasmus/kwashiorkor/marasmus-kwashiokor
Status metabolik : Sesuai hasil laboratorium
Status Gastrointestinal : Fungsional dan non fungsional
Sesuai 10 langkah tatalaksana gizi buruk :
1. Mencegah dan mengatasi hipoglikemia
Berikan larutan glukosa 10% atau larutan gula pasir 10% secara oral atau NGT (bolus) sebanyak 50 ml.
· Tidak sadar (lethargis)
Berikan larutan glukosa 10% intravena (bolus) 5 ml/kgBB, selanjutnya berikan larutan glukosa 10% atau larutan glukosa 10% secara oral atau NGT (bolus) sebanyak 50ml.
Berikan cairan intravena berupa RL atau glukosa 10% dengan perbandingan 1:1 sebanyak 15 ml/kgBB selama 1 jam pertama atau 5 tetes/menit/kgBB, selanjutnya berikan larutan glukosa 10% iv (bolus) sebanyak 5 ml/kgBB
2. Mencegah dan mengatasi hipotermi
Mudah terjadi hipotermia sehingga pertahankan suhu tubuh
Tutuplah tubuh anak termasuk kepala
Pertahankan suhu ruangan 23-300 C
Tetap selimuti pada malam hari
Jangan biarkan tanpa baju terlalu lama saat pemeriksaan dan penimbangan
Tangan yang merawat harus hangat
Segera ganti baju atau peralatan tidur yang basah
Segera keringkan badan setelah mandi
Jangan gunakan botol air panas untuk menghangati anak karena dapat menyebabkan kulit terbakar.
Metode untuk menghangatkan tubuh :
Cara “kanguru” kontak langsung kulit ibu dan kulit anak
Lampu diletakkan 50 cm dari tubuh anak
Monitor suhu setiap 30 menit
Hentikan pemanasan bila suhu tubuh sudah mencapai 370C.
3. Mencegah dan mengatasi dehidrasi : disesuaikan kebutuhan cairan anak dengan usia dan berat badan anak
4. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
Perlu diberikan mineral mix atau larutan dalam bentuk ReSoMal (Rehidration Solution for Malnutrition) bila diare dan Formula WHO sesuai dengan fasenya.
Oralit : Diencerkan 2 kali untuk menurunkan kadar natrium agar tidak terjadi hipovolemia, edema paru, gagal jantung.
o Menambah energy dan mencegah hipoglikemia
· Mineral mix atau larutan elektrolit
o Menambah kekurangan elektrolit (K,Mg,Cu,Zinc)
Tidak ada komplikasi atau infeksi yang jelas, berikan kotrimoksazol oral per 12 jam selama 5 hari.
Ada komplikasi, berikan gentamisin intra vena atau intra muscular selama 7 hari, ditambah ampisilin intra vena atau intra muscular per 6 jam selama 2 hari, diikuti amoksisilin per 8 jam selama 5 hari.
Dalam 48 jam tidak membaik, berikan kloramfenikol intra vena atau intra muscular per 8 jam selama 5 hari
Bila ada infeksi khusus, berikan antibiotika khusus sesuai dengan penyakitnya.
6. Memperbaiki kekurangan mikronutrien
Dosis tablet besi dan sirup besi untuk anak umur 6 bulan sampai 5 tahun.
· Tablet besi atau folat (sulfas ferosus 200 mg atau 60 mg besi elemental + 0,25 mg sebagai folat)
o Bayi usia 6 - < 12 bulan : 1 x sehari ¼ tab
o Anak usia 1 – 5 tahun : 1 x sehari ½ tab
· Sirup besi (sulfas ferosus 150 mL), setiap 5 mL mengandung 30 mg besi elemental, 10 mg ferosulfat setara dengan 3 mg besi elemental.
o Bayi 6 - < 12 bulan : 1 x sehari 2.5 mL (1/2 sendok teh)
o Anak usia 1 – 5 tahun : 1 x sehari 5 mL (1 sendok teh)
· Dosis kapsul vitamin A dosis tinggi untuk anak umur 6 bulan sampai 5 tahun.
o < 6 bulan : 50000 SI (1/2 kapsul biru)
o 6 – 11 bulan :100000 SI ( 1 kapsul biru)
o 1 – 5 tahun : 200000 SI ( 1 kapsul merah)
· Dosis vitamin dan mineral untuk anak umur 6 bulan – 5 tahun :
§ BB < 5 kg : 50 mg/hari (1 tablet)
§ BB ³ 5 kg : 100 mg/hari (2 tablet)
o Asam folat : hari pertama 5 mg/hari selanjutnya 1 mg/hari
o Vitamin B kompleks : 1 tablet / hari
o Mineral mix : Zn, K, Mg, Cu dalam mineral mix/larutan elektrolit
7. Memberikan makanan untuk stabilitas dan transisi
Energi : 80 – 100 kkal/kgBB/hari
Protein : 1 – 1,5 gram/ kg BB/hari
Cairan : 150 ml/kg BB atau 100 mL/kg BB/hari (bila edema berat +++)
Formula : 75/modifikasi/modisco ½ (modified dietetic skim)
Energi : 100-150 kkal/kg BB/hari
Protein : 2-3 gram/kg BB/hari
Cairan : 150 mL/kg BB/hari
Formula : 100/modifikasi/modisco I/II
8. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar
Energi : 200-220 kkal/kg BB/hari
Protein : 3-4 gram/kg BB/hari
Cairan : 150-200 mL/kg BB/hari
Formula : 100/135/modifikasi/modisco III
BB < 7 kg : makanan bayi/lembek
BB > 7 kg : makanan anak/lunak
Kebutuhan energi dan protein sesuai dengna BB dan umur anak
PMT – Pemulihan Energi 350 kkal/hr dan protein 15 gr/hr
Ditambah makanan keluarga
9. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang
Pada anak gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku maka berikan :
Terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit perhari
Keterlibatan ibu memberi makan, memandikan, bermain dan sebagainya.
Hal-hal yang harus diperhatikan :
Jangan berikan Fe sebelum minggu ke 2 (Fe diberikan pada fase rehabilitasi)
Jangan berikan cairan intra vena, kecuali syok atau dehidrasi berat
Jangan berikan protein terlalu tinggi
Jangan berikan diuretic pada penderita kwashiorkor
10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut dirumah
Bila gejala klinis sudah tidak ada dan BB/TB-PB ³ - 2 SD à “anak sembuh”
Pada pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah.
Makanan dengan porsi kecil dan sering sesuai dengan umur anak.
o Bulan II : 1x per 2 minggu
o Bulan III : 1 x perbulan
Suntikan imunisasi dasar : BCG, Polio, DPT, Campak, Hepatitis B dan ulangan/booster (anak gizi buruk tidak dianjurkan imunisasi campak, tetapi pada semua anak gizi buruk harus diberikan imunisasi campak sebelum anak pulang, setelah fase rehabilitasi)
Vitamin A dosis tinggi : setiap 6 bulan (dosis sesuai umur)
Briend A, Golden MH. Treatment of severe child malnutrition in refugee camps. Eur J Clin Nutr. 1993 Oct;47(10):750-4.
Depkes 2005-2009. Kebijakan Tatalaksana Gizi Buruk. Direktorat Bina Gizi Masyarakat . Ditjen Binkesmas
Hamburger D.C. Weinser R.L 1997. Handbook of Clinical Nutrition. Edisi 3.
WHO 1999. Management of serve malnutrition : a manual for fhysicians and other senior health worker. Geneva WHO
WHO 2000. Management of child with serious infection or malnutrition. Guideline for care at the referral level in developing countries. Geneva WHO
Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia. Pedoman nasional pelayanan kedokteran gizi klinik. Edisi pertama. November 2013. Jakarta