Apatisme Tepat sekali memang. Manusia modern memang kadung diselimuti apatisme. Ketika ilmu sudah bercerai dengan wahyu, jangankan alamnya, para dara yang diperkosa saja tidak akan ditolong kalau hanya sekedar teriak “tolong.” Kalau teriaknya “kebakaran” baru orang- orang pada turun menolong; karena kebakaran bisa merembet ke rumah- rumah mereka. Bisa jadi tragedi mereka juga. Sedang perkosaan, hanya kesialan pribadi. Jadi biarkan saja. . Akla geleng- geleng kepala. Pandangannya masih terpaku ke arah daisy mungilnya. Sesekali lengannya dibentangkannya ke atas untuk merenggangkan otot- ototnya yang kaku. Sambil menatap langit, di bawah bayang- bayang pohon Tabebuya yang sedikit rimbun, Akla berkelakar: “Kalau hubungan manusia antar manusia saja sudah sebegitunya berjarak, apakah masih ada tersisa‒ tali ikatan yang manusia bentangkan untung alamnya?.” . “Oh, sungguh malang nasib alam,” ucapnya spontan‒ keluar begitu saja. . Manusia modern memang kehilangan nalar membidas alamnya sebagai alamat. Alam adalah ‘alāmāt (tanda- tanda) yang seharusnya menghantarkan manusia mengimani yang maha Alīm. Masalahnya memang manusia zaman sekarang mengalami apa yang Syed Naquib al- Attās‒ filsuf dari Melayu‒ sebut sebagai kekeliruan ilmu. Si hijau mungil itu dicarap sebagai akar, batang, daun saja. Manusia lupa. Sebelum itu semua, si mungil adalah makhluk ciptaan-Nya. #syednaquibalattas#lingkungan#apatisme#alamindonesia (di Nast City, Cairo, Egypt) https://www.instagram.com/p/B4HxZ8EnSBs/?igshid=1xgzipknfgn1j
Pandangan bahwa ketertinggalan kultural sebagai kebelum-normalan sebagaimana anak-anak di mata orang dewasa, menurut Erikson, menyebabkan para antropolog yang tinggal bertahun-tahun bersama suku pribumi tidak melihat bahwa suku-suku tersebut melatih anaknya dengan sistem tertentu. Keterbelakangan diartikan sebagai tahap infantil dari proses evolutif umat manusia, sementara kelimpahruahan sebagai…
Ini adalah file yang pernah saya simpan beberapa bulan lalu, nggak sengaja kebuka waktu saya mau matiin hari Rabu ini :D
" Ketika elit-elit politik telah dijejali oleh pelacur-pelacur materialis-korup,,
yang libido kerakusan mereka telah terangsang oleh uang,,
yang telah menelanjangi kehormatan,
bercinta dengan kebodohan,
bercumbu dengan kemunafikan,
dan bersenggama dengan kedzoliman,
maka kita di sini, hari ini,
mengoarkan pekikan arek-arek jawa timur untuk mengaborsi kejalangan mereka,,
karena kita adalah trombosit keadilan,
karena kita adalah hormon kebenaran… !!! "
Kalimat lantang itu terkoar dari mulut seorang mahasiswa UNAIR yang berdiri di sebuah podium di antara gedung Grahadi dan 700-an massa dalam aksi Aliansi Arek Jawa Timur, 14 Januari 2010 lalu. Massa yang mengusung berbagai panji itu membaur menjadi satu dalam naungan pataka besar berwarna merah-putih. Aksi simpatik tuntut penuntasan skandal Century itu terdiri dari berbagai elemen intra dan ekstra kampus lintas universitas di Surabaya, Malang dan Jombang.
Tapi sekarang bukan saatnya lagi mengenang masa lalu, bukan masanya lagi mendongeng tentang idealitas. Kini saatnya kita bicara tentang realitas era ini. Dari perguliran waktu, musuh itu bukan hanya dari luar, melainkan telah tumbuh dan tersebar menjadi parasit-parasit yang berakar di tubuh sendiri. Lihat saja, banyak hal-hal paradoksal yang menggelayut di dunia mahasiswa. Ketika suatu saat mereka turun ke jalan-jalan bergelut dengan debu-debu jalan dan panasnya trotoar, di saat dan di tempat lain, fenomena-fenomena memprihatinkan yang sangat mencengangkan tidak bisa dinegasi. Fenomena-fenomena busuk itu seperti mahasiswa yang titip absen dalam perkuliahan, plagiat dalam membuat makalah, hingga epigon dalam pengerjaan skripsi. Ulah mereka tidak beda jauh dengan yang mereka olok saat demonstrasi. Keadaan juga diperparah dengan adanya berbagai kelompok ‘mahasiswa’ yang menjajakan idealismenya untuk kepentingan-kepentingan politik praktis maupun kepada kepentingan borjuis tertentu demi keuntungan pragmatis yang hal ini tentunya memandulkan independensi mahasiswa. Tidak hanya itu, bahkan pihak birokrat kampus telah menciptakan atmosfer korosif seperti adanya SKP (Satuan Kredit Prestasi) yang hanya cantik di tataran konsepsi, namun pada implementasinya justru tak lebih hanya menjadi alat kontra-produktif yang melahirkan disorientasi dan deteriorasi mahasiswa serta mengkebiri habis organisasi kemahasiswaan. Jika kita menilik ke persinggungan antara masa lalu dan masa kini, sesungguhnya formulasi seperti inilah yang mewarisi jiwa ke-koruptor-an dan menelurkan para pengawal kerusakan negeri. Dalam konteks ini, kampus tidak lebih hanya sebagai pengeram embrio generasi hipokritis.
Sementara itu, ada juga jenis ‘mahasiswa’ lain yang paradigmanya terinvasi oleh borok hedonisme dan materialisme, yang kesibukan hariannya hanya kuliah–belajar–pulang dengan sedikit kegiatan ekstra seperti shopping, nge-band, dugem, dan lain-lain. Sebenarnya sebagian kegiatan mereka memang bermanfaat, tapi kemanfaatan itu mereka ciderai sendiri dengan parokialisme yang mengesampingkan dimensi-dimensi sosial kemasyarakatan. Sepertinya, ‘mahasiswa’ model ini tersebar rata dan mendominasi hampir di setiap kampus di pelosok negeri. ‘Mahasiswa’ yang terkena virus anomi ini jika ditanya tentang cita-citanya akan menjawab tegas, ingin mensukseskan dirinya, bukan menyuburkan negerinya.
Poros cakrawala bangsa bernama mahasiswa itu kini kian rapuh. Namun sungguh tidak layak menggunakan logika generalisasi dalam memandang mereka. Masih ada segelintir mahasiswa yang masih teguh dalam mencengkeram idealismenya. Mereka sadar bahwa integritas adalah absurd tanpa integrasi, sehingga berusaha untuk memenuhi kewajiban dan kebutuhan di segala aspek lini kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara secara seimbang dan terpadu. Mereka sadar akan eksistensi dirinya bukan untuk mendapat kedudukan, materi, popularitas dan egomania atas kesuksesan pribadi, sehingga berusaha mencapai segala cita-cita pribadinya namun tetap kontributif bagi kebangkitan negerinya. Mereka giat mengikuti pembelajaran akademis, namun juga getol mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi; menghidupkan organisasi kemahasiswaan dengan kegiatan-kegiatan didaktis-progresif, sehingga organisasi mereka bukan sekedar sebagai event organizer; sadar bahwa lingkungan mereka bukan hanya dunia kampus, namun bumi Indonesia, sehingga peduli dengan wacana nasional yang berhubungan dengan kerakyatan namun tetap independen; tahu persis kapan harus mengkaji wacana, kapan harus melakukan branstorming dan kapan harus turun ke jalan; tidak terkekang oleh arus deras yang cenderung dimanipulasi oleh anasir kepentingan pragmatis dan dipenuhi kendali konspirasi, namun justru menentukan arah arus dan merekayasanya demi perubahan ke arah kebaikan. Sayangnya, mahasiswa model ini sudah sangat langka di hamparan Indonesia.
Mahasiswa adalah pion yang terimplikasi dalam percaturan peradaban Indonesia yang mengawal setiap perubahan dan akan terus menjadi determinan masa depan bangsa. Di pundak mereka terpancang harapan besar. Tapi saat ini, sepertinya taring ‘sang singa’ itu tak lagi mampu mengkoyak prahara instabilitas negeri ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada mahasiswa Indonesia? Di saat berbagai krisis menyeruak, di mana mereka bersembunyi? Bagaimana rakyat bisa bangun jika ‘energi yang membangunkan’ itu sendiri tertidur? Kini sudah saatnya merevitalisasi peran mahasiswa sebagai barisan yang concern terhadap stagnasi dan degradasi, sehingga bergairah penuh dalam berkontribusi demi transformasi bangsa.
Source : Saif Khaliq - Universitas Airlangga ( Beswan Djarum Regional Surabaya 2009) - http://kampus.okezone.com/read/2012/08/02/95/672169/mahasiswa-baru-di-tengah-kepungan-apatisme
Sudah habis saya baca berkali-kali, tapi tak pernah bosan. Mengingat yang ditulis adalah kenyataan pahit yang kita alami. Mahasiswa atau bukan, harusnya kita sadar. Kita hidup hanya sekedar 'menumpang' tinggal bagaimana kita memilih untuk bertindak lebih. Apakah untuk kesuksesan yang kita raih untuk diri kita sendiri? Apakah untuk rumah kita selama ini?