Teddy: kok pinter? Sancaka: Baca!
Jujur, gue tumbuh bukan sebagai penggemar komik Indonesia. Tumbuh di era 2000-an mungkin menjadi salah satu penyebabnya, dimana komik Jepang sedang berjaya bahkan tontonan anak-anak di masa gue tumbuh kebanyakan adalah kartun Jepang. Gue sendiri mengoleksi beberapa komik Jepang, seperti Doraemon, Naruto, Eyeshield 21, Hai Miiko!, Detective Conan dan beberapa majalah komik. Tapi, gue juga cukup mengenal komik-komik Eropa, seperti Tintin, Smurf, Asterix, Lucky Luke,Agen polisi 212, dan lain-lain. Pengenalan komik-komik Eropa dilakukan oleh orang tua gue yang memang mengoleksi komik-komik tersebut. Jadi, mendengar nama Gundala, Si Buta dari Gua Hantu, Godam sebenarnya tidak terlalu asing, tetapi memang tidak sepenuhnya mengetahui tokoh-tokoh itu, yang berasal dari komik Indonesia.
Lalu, saat gue si pencinta tokoh-tokoh Marvel, lebih tepatnya MCU, yang hanya baru membaca beberapa komik Marvel ini mengetahui bahwa akan ada film superhero yang nantinya juga akan berkembang membentuk universe layaknya MCU yang dinamakan Bumilangit Cinematic Universe, gue sangat antusias mendengarnya. Bahkan, setelah menonton Gundala, gue menjadi berkeinginan untuk dapat membaca komik-komik Indonesia untuk dapat mengenali karakter-karakter yang ada di dalam universe tersebut, yang jumlahnya gue rasa juga sebanyak yang dimiliki Marvel tapi ini rasa Indonesia.
Gue sebagai warga negara yang berusaha menjadi lebih baik setiap harinya melihat hal ini sebagai sesuatu yang layak untuk didukung dan dibanggakan pastinya. Menurut gue, fim Gundala karya Joko Anwar ini sudah cukup baik secara keseluruhan, dengan biaya yang memang jauh lebih kecil dibandingkan film Marvel atau DC, dan segala kekurangan yang masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan di film-film BCU mendatang. Gundala yang merupakan jagoan yang berasal dan tumbuh di Indonesia patut ditonton oleh kita sebagai bentuk dukungan dalam memajukan industri kreatif Indonesia, selain itu cerita Gundala yang disuguhkan memang cukup dekat dengan keadaan Indonesia sampai saat ini, seperti penguasa negara yang masih berkuasa dengan alibi membela rakyat, lalu tentang keadaan keluarga-keluarga di sebagian besar masyarakat Indonesia, bagaimana perjuangan masing-masing individu dan pengaruh keluarga yang dapat membentuk karakter seorang individu. Beberapa pelajaran yang diberikan di film ini juga dibalut komedi dengan dialog-dialog yang cukup kocak yang juga mengingatkan gue sama film-film MCU yang cukup banyak menyelipkan dialog komedi. Jadi, gue yakin bahwa BCU bisa menjadi sebesar MCU tapi dengan rasa Indonesia nantinya.
Ya masa menyisihkan uang dan waktu untuk menonton Captain America dan rekan-rekan saja bisa, sedangkan menyisihkannya untuk jagoan dari tanah air tidak bisa? malu sama kucing yha. Kedepannya, gue berharap BCU ini benar-benar bisa berjalan dan suatu saat pingin banget bilang “gile keren banget pas scene abimana vs nicsap, kayak ngeliat chris evans vs sebastian stan di winter soldier, ugh!” :p













