Kajian Kitab Arba'in An-Nawawi: Hadits ke-01 - Ustadz Badru Salam, Lc
Innama'l a'malu binniyat, wa innama likullim ri'in ma nawa
(Sesungguhnya perbuatan itu bergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkannya)
Assalamu’alaikum Tumblr, udah lama banget nih ga nulis disini. Insya Allah untuk kedepannya akan kugunakan sebagai platform penyalur hobi menulisku, sekaligus sebagai ladang pahala dengan sharing ilmu dari asatidz bermanhaj Salaf, insya Allah ^^. Semoga kita semua tetap diistiqomahkan untuk berjalan di atas jalan lurus dalam Islam, dan tetap fokus sebagai penuntut ilmu (bukan mentang-mentang share ilmu agama dikit langsung dipanggil ustadz/ustadzah, wah untuk menyandang gelar tersebut berat, coy).
Baiklah, menuju ke pembahasan Kitab Hadits Arbain yang ditulis oleh Imam An-Nawawi ini, insya Allah topik ini bikin aku istiqomah buat nulis tiap hari (mumpung masih liburan jadi biar ga bengong aja di rumah hahaha).
Imam An-Nawawi, yang bernama asli Yahya bin Syaraf bin Murry, dilahirkan di desa Nawa (maka dari itu dinisbatkan ‘Nawawi’ yang berarti ‘orang dari desa Nawa). Dikarenakan kegigihannya menuntut ilmu, pada usia 22 tahun beliau sudah diperbolehkan untuk berfatwa.
Rasulullah bersabda; “Setiap amal tergantung niat, dan tiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan”. Maka dari itu, barangsiapa yang berhijrah hanya karena harta, tahta, mapun wanita, maka ia hanya mendapatkan itu saja. Rugi kan, ga mendapatkan rahmat Allah?
Niat secara harafiah, berarti maksud dan keinginan kuat yang berasal dari keinginan seorang manusia untuk melakukan sesuatu. Misalnya nih, kita mau keluar rumah beli bakso, pasti secara otomatis di benak kita terlintas ‘oh gue laper, harus keluar beli bakso’.
Menurut istilah, niat berarti munculnya keinginan dari hati untuk melakukan hal yang bermanfaat, atau menolak mudharat/kerugian.
Niat haruslah dibarengi dengan ilmu untuk membedakan mana yang wajib dan mana yang sunnah, sehingga bisa dijadikan acuan untuk pembeda antara ibadah dan kebiasaan.
Mengenai pelafalan niat, jumhur/mayoritas ulama berpendapat bahwa niat tidak perlu dilafalkan; hanya dalam hati saja, karena Rasulullah pun tak pernah mengajarkan untuk melafalkan tiap niat berbeda (coba kalo misalnya tiap shalat wjib, sunnah, dll ada niatnya, kan banyak banget tuh, maka cukup dalam hati aja niatnya, tidak perlu yang seperti ‘ushalli’ dan semacamnya).
Pembagian niat ada dua:a. Niat untuk amal
Dalam hal ini, setiap amal ibadah seperti shalat, puasa, haji, dan lain-lain haruslah diawali dengan niat. Jika tidak ada niat, maka tidak dihitung sebagai amal ibadah, contohnya kita ingin melaksanakan puasa, namun karena tidak didawamkan/dibiasakan dan lupa berniat, maka puasa pun tidak sah karena tidak ada niat sedari awal (berkaitan dengan fiqih).
b. Niat lillahi ta’ala
Setiap niat kita haruslah dilandasi semata karena Allah Ta’ala, bukan karena mengharap hal duniawi, misalkan kita melaksanakan sholat dhuha hanya mengharap rezeki, bukan murni karena Allah (berkaitan dengan aqidah).
Syarat sah niat ada 7, yaitu:
a. Muslim
b. Mumayyiz (usia yang dapat membedakan baik dan buruk, jumhur ulama berpendapat > 7 tahun)
c. Berilmu (mengetahui tentang apa yang ia niatkan untuk perkara wajib/sunnah)
d. Tidak ada perkara yang meniadakan (murtad, haid padahal ingin melaksanakan sholat)
e. Diawal amal
f. Tidak terputus (misalnya berniat shalat subuh, namun lupa belum qabliyah subuh, maka niatnya diputus dan diganti jadi niat shalat qabliyah, kedua niatnya pun tidak sah)
g. Persekutuan niat untuk perkara yang sama (Tasyrik finniyah), misalnya dua rakaat dalam sekali salam diniatkan untuk sholat sunnah tahiyatul masjid dan qabliyah dzuhur.
Ada sebuah cerita tentang Abu Qatadah, yang menegur anaknya karena menggabungkan niat mandi wajib dan niat mandi sunnah sebelum sholat Jum’at. Kedua niat tersebut tak bisa digabungkan, karena beda perkara antara wajib & sunnah.
Dikecualikan untuk perkara puasa sunnah, karena pada suatu waktu Rasulullah bertanya pada istri-istrinya, ‘apakah ada makanan’, lalu dijawablah ‘tidak ada’, maka Rasulullah tetap meniatkan untuk berpuasa.
Niat ada dua keadaan:
a. Jika niatnya baik dan diamalkan, maka akan mendapat pahal dari 10-700 kali lipat (tergantung keikhlasan, kesesuaian dengan yang Rasulullah ajarkan, dan keimanan orang itu sendiri). Pahala yang sangat banyak bisa kita laukan dengan terus bersabar, sholat di 3 masjid (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsa), dan mendidik anak yang sholeh.
b. Jika niatnya baik, didawamkan secara rutin, namun tidak diamalkan; maka tetap mendapat pahala sempurna. Namun jika tidak rutin, pahalanya pun tidak sempurna.
Misalnya ada seseorang yang kurang mampu, lalu melihat orang yang rezekinya berlimpah. Ia pun berniat, jika suatu saat menjadi orang kaya, maka ia akan bersedekah tiap hati. Sesungguhnya di dunia ini ada 4 jenis manusia
a. Diberikan ilmu dan harta (rajin bersilaturahmi dan berinfak).
b. Diberikan ilmu, tidak dengan harta (ia memiliki niat untuk selalu berinfak ketika dilimpahi rezeki).
c. Diberikan harta, tidak dengan ilmu (meskipun ia kaya, namun enggan bersedekah).
d. Tidak diberikan harta dan ilmu (selalu menggunakan waktunya untuk bermaksiat).
---
Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk menjalankan segala ibadah kita sesuai dengan yang Rasulullah ajarkan, ya ^^ dengan niat yang baik, bismillah kita bisa!