Tubuh saling bersandar,
ke arah mata angin berbeda. Kau menunggu datangnya malam, saat ku menanti fajar.
Kali itu, aku melihat kamu dengan es jeruk gula sedikit yang kamu tenggak langsung walau ada sedotannya. Ya, aku sudah sehafal itu dengan kebiasaanmu. Tapi entah, apa kamu juga menghafal kebiasaanku sama seperti aku menghafal milkmu. Tapi kayanya emang enggak deh, buktinya, kamu lagi natap Air, teman dekatku, yang emang sedang mengobrol banyak tapi hanya kutimpali dengan tawa kecil. Aku tidak peduli dengan apa yang diobrolkan Air, selagi aku bisa menatap mata beriris hitam pekat milikmu yang sangat kufavoritkan.
Sudah coba berbagai cara,
agar kita tetap bersama.
Kali itu, entah untuk keberapa kalinya, aku bercerita padamu mengenai baaaanyak hal. Tentang guru fisika titisan nenek sihir yang selalu mengomeliku, tentang Air yang aku kerjai hingga menangis, dan bahkan tentang anak baru yang bernama Angin yang notabene adalah seseorang yang mampu memikatku dalam jangka waktu kurang dari sehari. Aku sangat menikmati mengobrol denganmu, Dra. Andai saja aku bisa menemukan cara lain selain bercerita mengenai keseharianku hanya agar kau tetap disampingku.
Yang tersisa dari kisah ini,
hanya kau takut kuhilang.
Kali itu, entah bagaimana, aku mengungkapkan semuanya pada Angin. Akhirnya, aku bisa tau bahwa porosku adalah Angin. Memang pada dasarnya, Awan selalu terbawa Angin. Memang pada opininya, Awan selalu bersama Angin. Tapi tidak dengan kenyataan. Nyatanya, Angin tidak selalu membawa Awan. Angin tidak selalu bersama Awan. Kali itu dia berucap yang membuatku kehilangan pusat duniaku. Aku, yang tidak pandai menahan genangan air mataku, segera berlari ke arah dimana Samudra berada.
Aku butuh Samudra. Aku menubruknya dengan rentangan tanganku, seakan seorang anak yang sedang mengadu pada Ayahnya.
“Dia suka cewek lain, Dra.”
Sialan. Benar-benar sialan. Bukan kata itu yang harusnya keluar. Dan bahkan karena aku, Samudra yang berpawakan tenang itupun segera menghampiri Angin dan membuatnya berakhir di rumah sakit. Seandainya, aku tidak mengucapkan kalimat itu. Seandainya, aku jujur dengan diriku sendiri. Seandainya, aku mengikuti kata hatiku. Seandainya, aku tidak pernah menyukai Angin dikala aku menyayangi Samudra.
Izinkan aku pergi dulu, yang berubah hanya,
tak lagi kumilikmu.
Aku membenci driiku yang membuatmu menjadi seperti sosok jahat disini, Dra. Cuman aku yang jahat. Bahkan aku yang tidak bisa memilih antara kamu atau Angin, mulai mengubahmu menjadi sosok yang tak kukenal. Sosok Samudra yang lebih gelap. Aku takut. Aku takut jika aku mengubahmu sepenuhnya menjadi sosok yang benar-benar tidak kukenal. Aku tidak mau menghacurkanmu, sosok yang memenuhi seluruh pojok hati ini.
Kau masih bisa melihatku, kau harus percaya,
kutetap teman baikmu.
Kali ini, Angin datang tepat di kelasku dan menyatakan bahwa ia memiliki sesuatu yang sama denganku. Aku tersenyum miris. Kenapa rasanya jadi begini? Bukannya aku mengakui bahwa aku menyukai Angin? Tapi kenapa, kenapa aku bahkan tidak bisa tersenyum begitu tulus saat menatapnya? Masih dengan senyum sisa pembicaraanku dengan Angin, seseorang menyolek pundakku dan membuatku menoleh.
“Oh, halo. Dra, ini Angin, kita udah pacaran loh!”
“Tapi, aku suka sama kamu, Wan.” ucapnya dengan tatapan hancur. Iris hitam itu benar-benar kelemahanku. Seandainya, aku tidak segera memalingkan wajahku saat ini, luber sudah air mata.
Aku juga suka sama kamu, Dra.
“Ah mana mungkin! Kita ‘kan temenan.”
Dan seketika itu duniaku seluruhnya mati.