Melihat tayangan video cuplikan rolling door dan folding gate hasil produk arimata di Tumblr

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Colombia
seen from United States

seen from United States
seen from Yemen

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
Melihat tayangan video cuplikan rolling door dan folding gate hasil produk arimata di Tumblr
Tersentak
Kau menangis, menjerit pelan seperti ada yang sengaja kau tahan. Kau menunduk, lalu menyembunyikan wajahmu di kedua tangan dan kaki yang sebelumnya kau lipat. Menangis lagi, lebih keras dari sebelumnya namun dengan suara yang teredam peluk tubuhmu sendiri. Lalu kau bangkit, berteriak, memarahiku, menatapku dengan penuh rasa benci.
Jelas, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku terdiam, membisu, melihatmu murka tanpa aksi dengan air mata yang masih mengalir. Kau bertanya dengan angkuh, aku menjawab dengan pelan. Kau membantahnya, memarahiku lagi, parau, terengah-engah, masih dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir hingga wajahmu tenggelam olehnya. Aku menunduk, mencerna kalimat-kalimat yang kau ucapkan, membenarkan beberapa diantaranya, kembali terdiam, mengangkat kepala, dan menatapmu lagi.
Lalu kau kembali menunduk, memeluk erat lagi tubuhmu sendiri, menangis. Beberapa kali menghembuskan napas juga suara yang terdengar seperti menahan rasa sakit. Merintih.
Aku yang sedari tadi membiarkanmu, tak mampu lagi menahan diri. Ku dekatkan tubuhku, ku raih tubuhmu, ku benamkan kepalamu dipelukku. Lalu ku bisikan, “Aku menyayangimu.” Selanjutnya aku bersuara dengan mulut terkunci,
“Yang kita lakukan selama ini adalah membodohi diri kita sendiri. Apa yang sebenarnya kau inginkan dan apa yang sebenarnya aku inginkan, bertentangan dengan apa yang nyata kita dapatkan. Bukan, ini bukan tentang kekurangan yang kau miliki karena aku tak begitu memikirkan atau mempedulikannya. Semua ini tentang aku dan kekuranganku. Bukan kau yang menjadi penyebabnya, aku menyerah dengan diriku sendiri.”
“Sekarang, yang harus kau lakukan adalah merelakannya. Sekeras apapun kita berusaha, kebahagiaan itu bukan milik kita.”
“Aku tak menyangkal, aku merasakannya. Dan aku berani bertaruh, kau pun begitu. Ya, ini tentang kebahagiaan yang selama ini kita bagi. Hanya saja bukan kebahagiaan semacam itu yang benar-benar kita inginkan. Sesuatu yang lain, yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. Kelak, suatu hari kau akan mengerti. Jangan khawatir, sudah ku katakan aku menyayangimu. Aku siap hancur asal kau baik-baik saja, selama ini pun ku kira begitu. Aku akan tetap berada di sisimu, menjagamu, semampuku membantumu, memenuhi kebutuhanmu. Hanya saja tak ‘kan sama seperti dulu. Maafkan aku yang memilih jalan ini, jalan yang menurutku terbaik bukan hanya untuk diriku sendiri. Maafkan aku yang mengingkari janji, melukai hati, membuatmu berantakan lalu pergi.”
“Kau berhak atas apa yang mereka sebut kebahagiaan. Raihlah kebahagiaan itu dengan caramu sendiri, bukan dengan mengikuti caraku.”
Aku memelukmu lebih erat dari sebelumnya. Sangat lama, hingga aku tersentak, duduk dengan keadaan setengah sadar, jantungku berdegup cepat. Kepalaku pusing, “Sial, mimpi tadi rasanya seperti benar-benar terjadi”. Aku kembali berbaring, menatap langit-langit, terdiam. Menerawang, lalu menyadari bahwa mimpi tadi bukan hanya sekedar mimpi. Mimpi tadi pernah aku alami, kita alami. Hanya saja, alam bawah sadarku sedikit melebih-lebihkannya. Aku yang kini mengatur napas, memutar kembali ingatan di hari itu.
Tuan, tolong beritahu aku cara agar aku bisa mendapatkan hatimu dengan lebih mudah dan tanpa air mata.