Kisah Haru di Tengah Hujan Siang Tadi
Siang hari di kota yogyakarta, saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun untuk membeli tiket dan menjalani pemeriksaan genose. Langit siang itu memang sudah memperlihatkan bahwa hujan akan segera terjun dari langit. Benar saja 5 menit sebelum aku sampai di tujuanku, hujan turun sangat deras.
Akhirnya aku menepi di pelataran sebuah warung pecel di jalan Bhayangkara. setelah kurang lebih hujan menghujam daratan, cahaya matahari masih belum tampak dapat menembus kelabu awan yang menggumpal.
Akupun memutuskan untuk makan di warung pecel tempatku meneduh.
"Bu nasi pecel lauknya telur balado dan teh hangat, makan di sini ya bu".
Oh nggih mba, balas si ibu penjual pecel.
Ketika aku hendak duduk ku lihat seorang ibu baruh baya yang sedang merapikan tumpukan koran di kursi tepat di sampungku, sepertinya itu dagangannya pikirku. Di depannya ada air putih di bungkus plastik dan isinya setengah kosong. Setelah hujan sedikit reda ibu penjual koran tersebut berpamitan dengan ibu penjual pecel,
"Masih hujan loh bu,," cegah penjual pecel tersebut
"Gak apa-apa tinggal gerimis", sautnya
"Saya carikan payung dulu ngeh bu"
Setelah itu yang ibu penjual koran membereskan korannya dan berpamitan.
Ibu penjual pecel menghampiriku dan berkata,
"Padahal anaknya ibu itu punya kontrakan loh mba"
"Oiya bu?" Jawabku sekenanya
"Iya, dia ga mau ikut anaknya soalnya ga mau ngerepoting katanya."
Deg, rasanya aku sedikit tersedak mendengar perkataan ibu penjual pecel.
Aku terdiam sesaat sebelum suapan terakhir di piringku. Rasanya sering sekali mendengar kalimat tersebut khususnya dilontarlan oleh para orang tua.
Aku memang belum tau alasan pastinya mengapa si ibu tidak ingin ikut dengan anaknya, mungkin sang anak sudah memaksa tapi sang ibu masih sanggup untuk berjuang sendiri, atau bagaimana aku tidak terlalu paham. Tapi, entah mengapa rasa iba seakan meremas hatiku ketika membayangkan tubuhnya yang mulai melayu terpapar teriknya matahari atau terguyur hujan yang tiba-tiba datang.
Doa ku seketika melangit untuk semua orang tua hebat yang sudah ikhlas dan kuat mendidik, mengasuh bahkan melindungi buah hati mereka. Yang sekarang sedang bertarung di temani peluh dan air mata. Dan bahkan lupa akan bagaimana rasa sakit karena terlalu sering merasakannya hingga terbiasa dalam luka. Semua lelah mu akan membantumu memasuki pintu syurga manapun, aamiin.
Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayani shoghira..
-Peluk cium dari jauh untuk kedua orang tuaku.