Are you happy? [Cerpen]
"Ra, apakah setelah menikah kamu semakin bahagia?" tanya Dewi tiba-tiba kepada rekan kerja yang duduk di sampingnya siang itu. Jemari Ara yang sedari tadi menari di keyboard pun berhenti sejenak. Wanita yang sudah menikah tiga tahun lalu itu lantas meraih segelas air putih yang ada di sampingnya. "Mengapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu, Dew?" yang ditanya justru balik bertanya. "Uhmm.. Cuma penasaran aja sih," jawab Dewi sambil tersenyum menunjukkan giginya. Ia tak ingin menyinggung perasaan Ara yang sedang dilanda ujian rumah tangga setahun belakangan ini. "Kebahagiaanku setelah menikah sama dengan sebelum aku menikah, Dew. Tidak lebih, apalagi berkurang," kata Ara sambil tersenyum. "Kok bisa?" jawaban Ara membuat Dewi terheran. Ia tahu betul bahwa Ara saat ini tengah berjuang merawat suaminya yang patah tulang akibat kecelakaan parah setahun lalu. "Dew, pasangan yang mencintaimu pasti akan berusaha membuatmu bahagia. Namun, bukan berarti kebahagiaanmu adalah tanggung jawab pasanganmu," jawab Ara dengan lugas. "Saat ini keluargaku memang sedang diuji. Meski sempat bersedih, tapi setelah kurenungi hikmahnya, aku bahagia. Kenapa? Karena itu berarti Tuhan percaya bahwa aku kuat," kali ini mata Ara mulai berkaca-kaca. Dewi tertegun mendengar kalimat yang Ara lontarkan itu. "Benar juga. Menikah ataupun belum menikah, kebahagiaan itu kita yang ciptakan sendiri, yakni melalui rasa syukur," gumamnya. - 1 Januari 2023-















