Apakah kita benar-benar harus meninggalkan Instagram?
Sebagai seorang introvert, bagiku, sosial media yang mainstream di masyarakat seperti Instagram itu terlalu riuh. Terlebih lagi Instagram yang secara tidak sadar membuatku kecanduan. Ini membuatku tidak nyaman tentunya.
Sempat aku berpikir negatif terhadap media sosial tersebut. Aku pikir, lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Itu karena foto-foto yang dulu kulihat di Instagram hanyalah foto orang-orang yang menurutku…. mereka sengaja mengekspos dirinya agar orang lain tahu tentangnya.
Yap. Instagram sudah sukses membuat orang biasa seperti kita merasa bak artis. Karena merasa akan ada yang memperhatikannya, beberapa orang terkadang mengunggah postingan dan IGS yang kurasa tidak penting.
Aku pun turut melakukannya beberapa kali. Gemesh pengin buat IGS (Instagram Story), memposting foto, dan jempol ini tidak bisa berhenti untuk scroll down layar Instagram demi melihat rumput teman-temanku yang nampak hijau royo-royo itu~
Tapi, memang dasar aku yang terlalu sensitif mungkin ya? Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman dengan tingkahku yang demikian. Akhirnya, beberapa kali aku memutuskan untuk meng-uninstal Instagram. Meskipun pada akhirnya kutahu, aku akan menginstalnya lagi di lain waktu. Huhuu
Aku juga memutuskan untuk membatasi diri memposting sesuatu di Instagram. Aku tidak mau selalu tergoda untuk membuka Instagram hanya karena untuk menjawab rasa penasaranku seperti: sudah berapa yang me-love postinganku? Apakah ada yang komen? Eh, si dia liat IGS ku ga yaa? Hmm…
Dan akhirnya, pernah beberapa bulan Instagramku seperti termakan rayap. Aku tidak membukanya, apalagi memposting foto/video maupun IGS.
Tapi, segala pikiran negatif itu perlahan berubah semenjak aku sadar bahwa Instagram juga merupakan media silaturahmi. Hal ini karena ada beberapa temanku yang hanya dapat kuketahuii kabar mereka melalui Instagram. Teman di Pare dulu, teman SMA, hingga teman SD. Itu karena Facebook sudah jarang digunakan teman-teman dalam lingkaranku.
WhatsApp? Hmmm. Aku tidak begitu suka chatting sesuatu yang tidak begitu penting. Masak aku harus menanyakan kabar teman-temanku setiap hari? Selain itu, aku seringkali berganti nomor sehingga kasus ini, aku tidak bisa mengandalkannya.
Kalau di Instagram kan, kita tidak perlu menanyakan tiap hari kabar dari teman kita. Percakapan antarteman terkadang bisa muncul dengan adanya postingan kita yang menunjukkan kita sedang di mana dan dalam proses apa.
Melalui Instagram, aku bisa mengetahui bahwa teman-temanku sudah ada yang diwisuda, bekerja di kota tertentu, ada yang sudah menikah, punya anak, pun nambah anak. Menurutku, kita tahu secuil keadaan teman juga merupakan hal yang penting. Â
Dari sini, aku kembali bertanya pada diriku sendiri, “apakah kita harus benar-benar meninggalkan Instagram?”
Aku rasa tidak. Sebagai makhluk sosial, kita perlu saling berkomunikasi dengan teman – teman kita. Terkadang, komunikasi itu ada dimulai dari postingan kita. Ya.. Meskipun hanya sekedar percakapan, “Kamu lagi di situ? Eh aku pernah di sana juga looh” dan sebagainya, aku rasa itu bisa menjaga silaturahmi kita sebagai teman. Istilah Inggrisnya, “keep in touch”, mungkin yaa. Hehee
Jadi, aku memutuskan untuk tidak benar-benar meninggalkannya. Ada suatu ketika dimana aku kira perlu memposting sesuatu di Instagram hanya untuk sekedar mengabarkan sesuatu yang mungkin akan berhubungan dengan teman-temanku, sehingga aku bisa “keep in touch” dengan mereka.
Bukan kah memperbanyak silaturahmi adalah anjuran Rasulullah? Dari sini, aku berpikir bahwa aku tidak perlu benar-benar menginggalkan Instagram.