Bangsa Asyur adalah ras pemburu dan tentara.... Mereka tampaknya melakukan perang semata-mata untuk kesenangan membunuh, membinasakan, dan menjarah. Tidak ada bangsa yang pernah memamerkan keganasan yang lebih besar (Halaman 37).
Raja dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi, penguasa mutlak bagi seluruh rakyat, pemimpin dalam pertempuran, setelah kembali dari pertempuran dia mencatat di dinding istananya dalam prasasti yang panjang, menceritakan kemenangannya, rampasan yang telah diambil, kota-kota yang dibakar, para tawanan yang dipenggal, atau dikuliti hidup-hidup (Halaman 37).
Catatan tentang beberapa Raja Asyur.
1. Assurnazir-hapal pada tahun 882 mengatakan, aku membangun tembok di depan gerbang Besar Kota, aku menguliti kepala para pemberontak dan dengan kulitnya aku melapisi tembok ini. Beberapa dibiarkan hidup di bangunan pertukangan batu, yang lain disalib atau ditusuk di sepanjang dinding. Aku meminta beberapa dari mereka dikuliti di hadapanku dan kulit mereka digantung di dinding. Aku menyusun kepala mereka seperti mahkota, dan tubuh mereka dipaku membentuk karangan bunga. (Halaman 37-38).
2. Tiglat-Pilezer II pada tahun 745 menulis, aku mengurung raja di kota kerajaannya. Aku membuat tumpukan mayat di depan pintu gerbangnya. Semua desanya aku hancurkan, aku kucilkan, aku bakar. Aku jadikan negara itu sebagai padang pasir, aku mengubahnya menjadi bukit-bukit dan gundukan reruntuhan
(Halaman 38).
3. Sanherib pada abad ke 7 menulis aku lewat seperti badai penderitaan. Di bumi yang basah dengan darah, baju besi dan senjata berenang dalam darah musuh seperti di sungai. Aku menumpuk mayat tentara mereka seperti piala dan saya potong... Anggota badan mereka. Aku memutilasi mereka yang aku ambil hidup-hidup seperti pisau jerami, sebagai hukuman aku memotong tangan mereka.
4. Assurbanipal melakukan pada musuhnya seperti ini, beberapa dipotong telinganya, yang lain dicungkil matanya, di robek-robek jenggotnya, sementara beberapa yang lain dikuliti hidup-hidup. Nyata sekali raja-raja ini menikmati pembakaran, pembantaian dan penyiksaan (Halaman 38).
Sejarah Peradaban Dunia Kuno, karya Charles Seignobos, terbitan Indoliterasi, Yogyakarta