Sepulang selesai menerima setoran mahasantri angkatan 4, saya jalan sendiri menuju ke asrama. Tidak ditemani siapa pun, hanya bayangan diri sendiri yang hadir karena terpaan sinar matahari. Selama jalan kaki, saya mikir, kalo nanti saya bener-bener pulang, gak ada lagi yang mau nemenin di alam kubur yang begitu sepi & mencekam, bahkan bayangan saya sendiri pun gak ada. Jangankan nunggu sampe mati, bayangan kita tuh pas gelap aja gak ada, gak keliatan. Maka sebaik-baik teman yg nanti bisa membuat kita tenang, gak kesepian di alam kubur, gak sengsara di akhirat cuma amal-amal baik kita, dan Al-Qur'an yang kita baca, tadaburi, pelajari, sampai berusaha untuk diamalkan. Maka di perjalanan itu saya berdoa ke Allah. "Ya Allah, semoga segala amal kebaikan yang saya lakukan meski jauh dari kata banyak dan sempurna semoga Engkau berkenan untuk menerimanya dan meridhoinya. Hingga nanti di alam kubur saya tidak merasa sempit, tidak merasa sepi. Karena nanti di sana, orang-orang yang dikenal selama hidup tak ada yg bisa menemani, karena setiap diri bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. Ya Allah, mampukan hamba untuk ikhlas dalam beramal, mampukan hamba untuk selalu ingat untuk meniatkan ibadah atas segala aktifitas yang hamba lakukan. Aamiin."
Setiap langkah yang terayun dalam hidup ini akan berakhir pada pemberhentian yang sama. Tapi setiap jiwa berbeda-beda akhir cerita hidupnya. Maka semoga perjalanan kita mengantarkan kita pada kematian yang menyenangkan. Kematian yang menjadi pintu gerbang indahnya pertemuan, sampai bisa memandang wajah Tuhan semesta alam.