Hidup Matinya
Aku takkan pernah bisa sepertimu Bun, baginya kau adalah hidup matinya. Tapi aku tak pernah lupa pada ikrarku padamu Bun, kala itu. Hanya kita dan Tuhan yang tahu, meskipun kini iapun telah tahu.
Hari ini dan lagi Tuhan menunjukkan kuasa-Nya Bun, aku tahu ini adalah salah satu doamu yang diijabah. Ia begitu gigih Bun, aku tak pernah bisa membandingkannya dengan sosok manapun. Tentu kau amat paham Bun, bagaimana aku padanya. Aku jauh dari sempurna untuknya jangankan sempurna Bun, aku jauh dari kata baik. Aku hanya perempuan biasa yang mengusahakan yang terbaik untuknya meski aku sendiri jauh dari baik.
Menyumbat kuping ? Hal yang paling sering aku lakukan Bun, agar aku tak menaruh di hati pada tiap kata orang tentang kami. Kami betul - betul harus memulainya dari nol, hatiku teriris Bun saat mendengarnya mengatakan "Baru kali ini aku kerja dengan gaji segitu", aku hanya bilang "Iya, karena dulu tempat kerjamu lebih layak. Sabar!." Hanya kata itu yang mampu kulontarkan untuknya Bun.
Kuatkan ia dengan doamu Bun, saat seperti ini aku ingin memelukmu Bun. Aku saja yang tak pernah bersua denganmu ingin memelukmu, apalagi dia Bun yang 9 bulan dalam kandunganmu yang belasan tahun bersamamu. Darahmu mengalir dalam darahnya, kerinduanku pada Nira takkan mampu menyamai kerinduannya padamu.
Bunda, ini aku sangat suka mengeluhkan apapun padanya dan sepertinya mulai juga seperti itu padamu. Entah mengapa Bun, aku hanya bisa menceritakan segala rasaku hanya padanya selain dari Sang Maha Cinta. Itulah mengapa ia selalu menganggapku suka mengeluh, padahal aku tak pernah mengeluhkan apapun pada orang lain selain dia. Datanglah di mimpinya Bun, agar ia terlihat lebih hidup lagi untuk hari esok. Ia menunggumu Bunda.
Makassar, 01 April 2018









