Ada Apa Dengan Konspirasi (Bag.2 - Selesai)
Artikel ini merupakan bagian kedua-terakhir, bagian pertama dapat diakses di sini
Memang, perihal mempercayai suatu hal itu ranah privat (orang cuman di pikiran sendiri). Tapi, ketika suatu wacana itu bisa dipercaya, disebarluaskan, dan imbasnya bisa ke banyak orang. Tentu lebih bijak untuk menimbang kemungkinan baik-buruk sebelum itu disampaikan. Karena meski bentuknya cuma dugaan, teori konspirasi sendiri tentu punya efek. Secara dikotomis, efeknya terbagi jadi yang non-harmful dan harmful. Yang non-harmful, contohnya kaya Adolf Hitler yang masuk Islam dan meninggal di Surabaya.
Yang harmful, contohnya kaya seruan dari orang ber-followers banyak, yang bilang bahwa Covid-19 sebenarnya gak seberbahaya itu dan angka yang digemborkan media cuma konspirasi semata buat menebar ketakutan di tengah masyarakat, terus melanggengkan wacana elit global tv. Sehingga menyeru masyarakat jangan denger himbauan dari barudak elit global kaya media mainstream, termasuk juga WHO (yang mana isinya physical distancing, pake masker & cuci tangan, dsb).
Entah disadari atau nggak oleh yang menyebarkan, teori konspirasi yang model gini harmful karena bisa menyebabkan butterfly effect (Pardiyanto, 2019) yang gak hanya merugikan satu kawasan atau sektor, tapi juga bisa menyebar ke berbagai kawasan dan sektor lain. Bukan gak mungkin, seruan tersebut berhasil jadi salah satu faktor pemicu yang buat orang-orang gak peduli, terus diikutin banyak orang karena faktor yang-lain-juga-gitu. Akhirnya menjelang lebaran, ribuan orang dengan santuy berduyun-duyun belanja baju lebaran dan sebagainya, dan boom!
Tercatat hampir seribu pasien positif baru dalam sehari, yang mana jadi rekor tertinggi nasional. Selanjutnya (amit-amit sih) bisa jadi karena seruan tadi terus didenger, pasien makin hari makin banyak sampai rumah sakit overload dan tenaga kesehatan yang dikuras tenaganya amat exhausted dan putus asa. Akhirnya, wabah ini makin menyebar, menyiksa, dan entah kapan selesainya.
Semua itu bisa jadi pangkalnya karena asumsi ngaco yang disebarin konspiratoris.
Tanpa penalaran dan ilmu yang memadai, sebuah opini yang dibentuk dan disebarkan ke publik bisa membahayakan dan jadi bumerang. Karena itu, demi dapetin pengetahuan yang valid dan kredibilitasnya bisa dipertanggungjawabkan, di dunia akademik sekarang kita kenal yang namanya ‘narasi saintifik’ kaya publikasi jurnal ilmiah yang diindeks dengan tingkat reputasi beragam. Hasil dari penelitian yang bisa jadi makan waktu lama banget, sejumlah trial and error, dan kajian berbagai aspek yang mendalam.
Bukan hanya buat ilmu umum, di ilmu keagamaan pun gitu juga. Contohnya kajian matan dan sanad hadits yang exactly njelimet, yang gak sembarang orang bisa paham betul. Adanya ‘kualifikasi ilmu’ emang rada nyusahin sih. Tapi ya gimana lagi, demi dapetin ilmu yang valid yang berjarak sejauh mungkin dari ketidaktepatan. Karena bagi dunia ilmiah, validitas, kredibilitas, & bisa dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar adalah koentji. Karena emang enggak bisa sembarangan, teu sagawayah lah bahasa Sundanya mah.
...
Terus, apa teori konspirasi emang salah?
Realitas emang bisa nyimpen banyak kompleksitas bahkan distorsi. Banyak hal yang mungkin kita tau hari ini, bisa aja ternyata kenyataannya beda. Di titik ini, saya sependapat bahwa kritis itu harus, curiosity itu wajib, dan terus belajar itu mesti. Sikap penasaran, mempertanyakan, dan menduga-duga yang mana jadi pijakan teori konspirasi itu perlu banget. Tapi, apa cuma mau berhenti disitu aja? Harusnya enggak dong! Apalagi buat pemuda yang mana “Idealisme adalah kemewahan terakhir”, kalau kata Tan Malaka.
Gak sepatutnya idealisme cuma dihargai sebatas dugaan konspiratif semata. Ruang skeptis dan hasrat untuk mampu menebar manfaat juga harus dibuka buat perluas persepsi dan munculin solusi. Keren deh pasti kalau paradigma gamechanger ini bisa dipraktekkin dengan baik. Fokus orang-orang yang tadinya sibuk ngagugulung konspirasi, saling tuduh dan tuding, saling curiga satu sama lain jadi berlomba-lomba buat cari solusi, bangun iklim positif, dan memahami realita dengan bijak dan komprehensif.
Dalam nyikapin Covid-19 misal, dari sikap yang tadinya sibuk berkonspirasi tuding WHO, Amerika, Cina, Madara dan sebagainya yang jelas kontraproduktif bahkan bisa jadi harmful. Berubah jadi sikap antusias dan berlomba-lomba buat belajar biolologi molekuler, virologi, maupun kimia organik biar bisa nyiptain obat yang jadi solusi. Atau kalau nggak ya galang donasi untuk warga yang terdampak, buat konten inspiratif, dan posting hal-hal positif yang menguatkan satu sama lain di tengah pandemi.
Saya rasa, konspirasi yang paling konspiratif itu bukan yang katanya dibuat elit global, kezaliman alien, atau organisasi rahasia kaya Akatsuki dan sebagainya. Tapi di egoisme-narsistik manusia yang gak mau kalah dan gak mau ngerasa salah, rasa males buat belajar dengan bener, kebutuhan akan ‘keunikan’ yang keliru, ketidakmampuan buat beradaptasi, sampai kesalahan logika dalam menyikapi sesuatu dan tarik kesimpulan.
...
Last but not least, saya mohon maaf kalau ada pembaca yang merasa tersinggung karena tulisan ini. Ya silakan aja kalau berbeda pandangan, namanya juga beda kepala. Asalkan berdasar dan bisa dipertanggungjawabkan dengan baik, mangga. Cuman ya itu sih yang bikin saya sedikit greget, terutama akhir-akhir ini. Ketika dugaan berupa opini konspirasi yang validitasnya enggak teruji main-main terhadap ilmu yang valid dan mapan, yang parahnya bisa main-mainin juga banyak nyawa manusia.
Padahal kalaau aja ketidakpuasan, skeptisisme, atau ketidaksetujuan yang dirasa itu output yang dihasilkannya itu upaya buat cari solusi, menebar energi positif, dan yang paling penting buat diabadiin untuk kemaslahatan dunia kaya yang tadi dijelasin. Bukan malah propaganda, ajakan untuk menjauhi, ataupun perasaan terzalimi dan sebagainya. Pasti bakal jauh-jauh-jauh lebih baik.
Semoga kita, selalu jadi manusia yang enggak pernah bosen dan enggak pernah berhenti buat terus belajar. Karena berilmu, adalah prasyarat untuk memerdekakan diri dari berbagai belenggu. Kayak yang Soe Hok Gie bilang, “Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi, aku memilih untuk jadi sobat elit global manusia merdeka.”
Bandung, 020620
...
Referensi (biar gak jadi konspirasi):
Douglas, K. M., Sutton, R. M., & Cichocka, A. (2017). The Psychology of Conspiracy Theories. Association For Psychological Science, 538-542.
Grohol, J. M. (2020, April 27). A psychologist explains why people cling to conspiracy theories during uncertainty and after traumatic events. Retrieved from Business Insider: https://www.businessinsider.com/psychologist-explains-why-people-believe-conspiracy-theories-during-uncertain-times-2020-4?IR=T
Nathaniel, F. (2020, Mei 1). Sesat Pikir Teori Konspirasi Deddy, Young Lex, dan Jerinx. Retrieved from Tirto.id: https://tirto.id/sesat-pikir-teori-konspirasi-deddy-young-lex-dan-jerinx-ffR4
Nichols, T. (2017). The Death of Expertise. New York: Oxford University Press.
Pardiyanto, E. (2019, Februari 12). Butterfly Effect (Efek Kupu-kupu): Ketergantungan yang Peka Terhadap Kondisi Awal. Retrieved from Warstek.com: https://warstek.com/2019/02/12/butterflyeffect/
Prasetya, R. (2020, April 28). Teori Konspirasi: Apa Itu Sebenarnya dan Bagaimana Orang Bisa Percaya? Retrieved from Mojok: https://mojok.co/rzp/ulasan/pojokan/teori-konspirasi-apa-itu-sebenarnya-dan-bagaimana-orang-bisa-percaya/
Qardlawi, Y. (1991). Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Thesaurus, C. A. (2020). Conspiracy. Retrieved from Cambridge Dictionary: https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/
Wikipedia, K. (2020, Mei 28). Teori Konspirasi. Retrieved from Wikipedia: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teori_konspirasi&oldid=17011898
















