Privileges
"Wahh edan euy si eta geus bisa kitu."
“Madep emang umur segitu udah sukses ini-itu."
dan lain-lain..
Kayaknya enggak kehitung berapa banyak kita adore the stars dari bocil sampai detik ini. Hampir tiap hari ada aja hal-hal atau pencapaian orang lain yang "wah", apalagi di zaman sekarang yang makin gampang disebar lewat media sosial kayak Instagram. Tapi makin kesini, makin umur kita nambah makin gak jarang hal-hal gitu justru bikin kita ngerasa kecil, minder, & insecure.
Malah bisa bikin kita mikir diri kita enggak berguna & hilang optimisme buat berkembang jadi lebih baik. Atau bisa juga bikin kita ngebentuk premis & justifikasi sendiri bahwa enggak ada peluang buat perbaiki masa depan karena enggak bisa perbaiki masa lalu, karena kita bukan Doraemon yang punya mesin waktu.
Padahal dikutip dari laman Scientific American, perasaan "kecil", minder atau insecure itu sebenernya hal yang wajar. Semua orang pasti bakal, pernah, & mungkin sedang mengalami. Seriusan, semuanya entah Pak Jokowi, Cristiano Ronaldo, sampai Pak Muchdori (tetangga saya) saya jamin pernah, atau mungkin lagi insecure juga kayak kita meskipun intensitasnya mungkin beda-beda. Karena kita sama-sama manusia. Perasaan khawatir ini dampaknya bisa jadi lecutan semangat yang positif atau bisa jadi sesuatu negatif yang bikin kita down, tergantung dari cara kita menyikapinya.
...
Bicara tentang cara menyikapi sesuatu. Merujuk ke Filosofi Teras yang ditulis Henry Manampiring, one of the important things we need to know is: bahwa memang ada banyak hal yang diluar kendali kita. Banyak banget. Postingan orang lain adalah salah satunya.
Kita enggak bisa baca pikiran orang yang unggah sesuatu di media sosial itu sebenernya niatnya kayak gimana. Kita mungkin enggak bisa “ngelurusin” orang-orang dibalik akun buzzer & berharap mereka berhenti bikin ribut sama sebar berita-berita hoax. Kita juga mungkin enggak bisa hapus akun-akun konspirasi yang sering bikin konten ngaco & berharap mereka berhenti cocokologi sama sebar informasi invalid yang bisa jadi harmful ke masyarakat.
Tapi kita bisa kontrol diri kita dengan cara enggak follow, like, atau comment di konten-konten yang dirasa negatif dan ganti dengan follow up akun-akun yang kasih energi positif. Dengan sendirinya, algoritma media sosial kita bakal tampilin banyak konten ngikutin preferensi yang kita buat. Selain itu, kita juga bisa ngabisin waktu buat ngelakuin hal-hal yang lebih berfaidah kayak belajar skill baru di online course, baca beberapa lembar ayat Al-Qur'an yang jelas ngademin, atau ngelakuin banyak hal lain yang lebih bermanfaat daripada nongkrongin akun buzzer, kang dagang konspirasi, atau akun-akun lain yang dirasa bawa pengaruh negatif. Kita bisa kontrol diri kita buat menghindari itu.
Kalau mau coba menghadapi, berarti kita harus mengubah mindset kita bahwa tiap liat orang yang post pencapaian di media sosial berarti harus jadi booster yang bikin kita lebih semangat & berjuang lebih giat. Biar bisa kasih positive vibes & impuls bermanfaat lebih banyak dari orang yang posting, misalnya. Entah mau menghindar atau menghadapi, kendali ada di diri kita sendiri. Dua-duanya juga solusi. Ya meskipun kadang-kadang susah sih sebenernya, enggak segampang ngomong doang kayak gitu. Hehe.
Yang jelas cara kita menyikapi sesuatu adalah koentji, dan itu termasuk hal yang bisa kita kontrol. Cara kita menghadapi masalah adalah ranah dimana kita pegang kendali, karena masalahnya sendiri sering ada diluar kendali. Selalu ada pilihan bagi kita buat menyikapi sesuatu, dan beruntung mereka yang selalu bisa menyikapi dengan cara paling baik. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
..
Hal lain yang diluar kendali kita diantaranya adalah privileges (hak istimewa). Buat bisa berdamai dengan diri sendiri dan berkembang jadi lebih baik, penting bagi kita buat menyadari bahwa memang ada banyak privileges yang kita miliki, tapi orang lain enggak punya. Pun sebaliknya, mungkin banyak privileges yang orang lain punya, tapi kita enggak punya. Iman Usman, Co-Founder Ruangguru pernah cerita bahwa beliau mungkin enggak akan bisa jadi seperti sekarang, kalau bukan karena banyak banget privilege yang dimiliki sejak lahir.
Meskipun bukan lahir di keluarga yang berada, beliau lahir di keluarga yang harmonis & mendukung penuh buat dapet pendidikan sebaik & setinggi mungkin. Tumbuh di tengah lingkungan yang suportif buat ngembangin diri seluas-luasnya, diizinin buat ikut organisasi ini-itu yang pulangnya kadang sampai malem, bahkan dibolehin buat pergi ke warnet sepulang sekolah karena orang tuanya percaya pergi ke sana buat cari hal positif & bermanfaat tanpa curiga macam-macam, dan sebagainya.
Akhirnya akumulasi dari privilege-privilege tersebut, ditambah banyak faktor lain kayak semangat belajar yang tinggi juga tekad yang kuat bikin beliau berhasil dapetin fasilitas pendidikan terbaik di dalam maupun luar negeri, ketemu banyak orang hebat, bicara di konferensi internasional, dan lain-lain. Termasuk bikin inovasi di bidang edtech dengan mendirikan Ruangguru bareng Belva Devara (yang kadang kalau lagi promosi agak malesin karena saluran TV isinya Ruangguru semua, hehe).
Pun saya pribadi, meskipun belum bisa jadi apa-apa tapi jelas banyak privileges yang didapet sampai bisa jadi diri saya saat ini, yang mungkin enggak didapet teman-teman yang lain. Rasanya enggak perlu kalau kita melebih-lebihkan atau sebaliknya mengurang-ngurangi privileges yang kita dapet supaya keliatan perlu dikasihani atau gimana gitu, apalagi di hadapan orang lain. Justru dengan jujur dan mengaku ke diri sendiri, jadi salah satu langkah penting buat bisa berdamai sama diri sendiri biar nantinya jadi bekal buat bisa bermanfaat ke orang lain yang mungkin gak seberuntung kita. Misalnya dengan menyadari bahwa kita beruntung bisa makan makanan enak tiap hari, bisa bikin kita banyak bersyukur dan tergerak buat bantu orang lain yang belum pasti besok masih bisa makan atau enggak.
Karena privileges bukan sebuah masalah, apalagi dosa yang harus ditaubati. Tapi nikmat yang harus kita refleksi dan syukuri.
..
Masa lalu mungkin enggak bisa diubah, termasuk privileges yang sedikit banyak ‘ngebentuk’ hidup kita. Ibaratnya kita sama-sama lagi marathon untuk bisa sampai ke garis finish, tapi titik start tiap orang beda-beda. Mungkin ada yang tinggal sepuluh langkah lagi, tapi ada juga yang mulai dari jarak sepuluh kilometer. Makanya barangkali kita selalu denger nasihat bahwa kita enggak bisa samain perjuangan setiap orang, karena masing-masing diuji dengan ujian yang jenis & tingkatnya beraneka ragam.
Tapi percaya deh, selama kita masih dikasih waktu buat hidup, kesempatan buat bikin masa depan jadi lebih baik itu pasti ada, meskipun sulitnya perjuangan yang harus dihadapi berbeda-beda. Makin banyak privileges yang kita beruntung bisa nikmati harusnya makin buat kita makin bisa bersyukur, makin peka berempati, makin giat support and empower others yang enggak seberuntung kita.
Ngerasa kampus kita enggak terlalu support buat ngembangin diri, lingkungannya masih kurang orang yang menginspirasi, atau keluhan-keluhan lain? Proaktif! Cari kesempatan dan lingkungan itu sendiri di luar kampus, buat kampus bangga punya mahasiswa kayak kita. Sampai nanti balik lagi ke kampus & edukasi sedikit-sedikit biar orang lain enggak merasakan kesulitan yang sama.
Percaya deh, orang-orang yang jadi parameter madep & sukses diluar sana adalah mereka yang berani buat take extra miles. Bukan orang-orang yang mengemis-ngemis perhatian, mengiba, atau ngejual kemalangan karena kampusnya enggak bikin mereka mulai di posisi yang berjarak jauh dari garis start ketika lagi marathon sama anak dari kampus lain yang dinilai lebih keren.
Resah & enggak nyaman karena ngeliat negara kita punya buanyak masalah yang enggak beres-beres? Bergerak! Dunia butuh banyak pemuda pencetus solusi, bukan cuma komentator atau pemaki-maki. Sekolah yang tinggi, cari ilmu yang banyak, observasi masalah, rancang solusi, sampai akhirnya balik lagi buat terjun ke masyarakat. Kayak Kang Emil yang gerah liat kesemrawutan Kota Bandung, terus bergerak sampai jadi wali kota & berhasil buat Bandung jadi kota yang cantik lagi. Pasti ada banyak jalan & kemudahan yang Allah kasih buat mereka yang bener-bener berusaha.
Karena dunia butuh orang-orang yang kuat & berani. Karena dunia butuh orang-orang yang bisa jadi gamechanger, orang-orang yang bisa jadi payung & neduhin orang lain dengan kebermanfataan yang dibagikan supaya bisa bikin dunia ini jadi lebih baik. Too much sadness in this world, and we gonna change it, don't you?
...
Enggak. Kita enggak perlu jadi wali kota atau gubernur perlu kayak Kang Emil, jadi qori yang punya suara merdu kayak Muzammil Hasballah, atau jadi pemain bola yang gacor kayak Cristiano Ronaldo. Kita cuma perlu jadi yang terbaik, dalam versi kita sendiri. Masing-masing dari kita punya perannya sendiri buat menghadirkan banyak kebaikan untuk semesta.
Kalau lagi berjuang untuk jadi insinyur, belajar yang keras biar nanti bisa invent sesuatu yang bermanfaat buat orang lain. Kalau punya mimpi kuliah ke luar negeri, berjuang lebih giat & perbaiki niatnya, supaya kalau diterima & pulang nanti bisa buat negeri ini jadi tempat yang lebih baik lagi. Bahkan ketika yang diperjuangin itu sesuatu yang mungkin dianggap sebelah mata sama dunia, kayak jualan makanan ringan atau ngojek supaya bisa kasih nafkah yang halal ke keluarga. Ada ganjaran kebaikan yang berlipat ganda & kejutan yang luar biasa. Entah sekarang di dunia atau nanti di akhirat, atau mungkin sekaligus dua-duanya.
Karena menurut saya, indikator kesuksesan dalam melakukan sesuatu itu cukup ketika niat baik dari hati berhasil selaras sama amal yang diperbuat. Cukup jadi orang baik, sama jadi orang bermanfaat. Enggak wajib harus dapetin ini-itu apalagi indikatornya sebatas hal-hal duniawi aja. Toh nanti meninggal mah semua ditinggal, yang jadi bekel cuma amal.
...
Saya sadar buat beneran survive, strive, & thrive di kehidupan itu enggak segampang ngomong atau nulis doang kayak gini, apalagi mungkin buat sebagian orang yang punya luka & butuh bantuan orang lain buat bisa bangkit. Enggak apa-apa kok kalau kita ngejalanin hidup dengan pelan-pelan, toh hidup juga sebenernya bukan buat balap-balapan.
Semoga corat-coret ini bisa jadi sedikit reminder biar kita selalu aware terhadap keadaan orang-orang di sekitar, biar selalu bisa maksimalin potensi sama privileges yang dimiliki untuk bisa neduhin dan kasih manfaat ke orang lain, sama yang terpenting enggak lupa buat banyak-banyak bersyukur untuk semua nikmat yang Allah kasih sampai hari ini. Semoga.
Bandung, 240720
















