Cahaya di atas cahaya
No title available

Kaledo Art

shark vs the universe
wallacepolsom

No title available
noise dept.

#extradirty

祝日 / Permanent Vacation
trying on a metaphor
AnasAbdin

No title available
One Nice Bug Per Day

titsay
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Stranger Things
taylor price
Game of Thrones Daily
Three Goblin Art
Claire Keane
seen from Italy

seen from India

seen from Nepal

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Brazil

seen from Canada

seen from Pakistan
seen from Colombia
@pingsut
Cahaya di atas cahaya
Semedi.
Besar pasak besar tiang
☔
✅Jalan kak jalan! ❎[Bukan] jangan lari kak!
Orang-orang bercerai berai karena mereka saling melupakan. Orang-orang tetap bersatu karena saling memaafkan
Gadis beruang
Pakailah sandal d i k a k i, bukan d i h a t i
Jangan takut, Kak―bangun
Ringroad Utara harum kalo hujan
pulang
T r u k
Maghribnya di Temanggung.
“Kita cari masjid dulu, An.”
“Siap Pak.”
Setelah selesai berdoa khusyuk Aan dan Pak Maman bergegas menuju truk. Lampu sein danger dinyalakan―atret. Truk kemudian melenggang mulus ke arah kota selanjutnya, Kabupaten Kendal. Kali ini radio dimatikan, port USB disambungkan ke hape Pak Maman dengan koleksi lagu dangdut era 90-an. Syahdu...
Pak Maman membuka pertanyaan, “An, sebenarnya nyopir dimalem hari itu lebih enak dibanding nyopir pas pagi, siang atau sore hari. Kamu tau?” Aan berfikir sejenak, “Karena pas malem hari lebih sepi jalannya Pak, nggak panas juga.”
“Kamu bener An,” Pak Maman melanjutkan, “Semakin malem jalanan emang semakin sepi, nggak banyak orang lewat, nggak macet dan nggak kecut [bau] kena panas matahari. Tapi nggak cuma itu aja An, kalo nyopir pas malem hari itu walaupun misalnya jalanan rame kita malah kebantu gelap. Maksudnya gini An, umpama kita lewat tikungan kita udah langsung tau dari arah berlawanan ada yang lewat apa enggak karena ada lampu depan yang nyala. Dan biasanya kalo masuk tikungan sopir udah sama-sama paham, pasti ngedim tanpa harus ngelakson. Atau pas ada yang di belakang kita mau nyalip kita pasti udah ngasih kode lampu dim.”
Aan mengangguk-angguk, “Bener-bener Pak bener. Paham.” Aan pahat dalam-dalam perkataan Pak Maman dalam ingatannya. Tentang belokan, tentang pertemuan, tentang tau sama tau dan tentang cahaya lampu.
Segenap pertemuan beratap semu
berembun gelap berhujan cahaya
Dimana dua hati jumpa jadi niscaya
Tinggalkan teladan memendam cinta
“Itu kunci berkendara kalo pas malem, An. Nggak motor nggak mobil semua sama. Harus punya trik dan insting,” Tukas Pak Maman bangga. Aan diam, tapi imajinasinya tidak.
Aan sehat?
Tersenyumlah Saja
Tersenyumlah saja,
Sebab ada saatnya kau harus pandai berpura-pura.
Berpura-pura saja bahagia, berpura-pura baik-baik saja, sebab ada beberapa mata yang tak boleh berair karena kau berduka.
Ada hati-hati yang berhak kau buat bangga. Ada jiwa-jiwa yang perlu kau jaga berdirinya.
Ada masa-masa yang harus kau lalui seorang diri, lari saja, terus berlari, tak boleh ada yang menyadari.
Sebab kau bisa menyimpan resahmu sendiri.
T r u k
Dari Magelang truk berjalan rata-rata 60 km/jam terus menuju utara yang entah lewat mana saja Aan tak tau arahnya. Pak Maman seperti Valentino Rossi-nya sopir truk yang sudah punya racing-line nya sendiri guna melahap jalanan Pulau Jawa. Mana jalan ramai yang harus dihindari, mana jalan tikus yang bisa dilalui dan segudang rute alternatif lain yang sudah beliau hafal luar kepala.
Pemandangan tampak sama, jadi Aan putuskan untuk mencoba mencairkan suasana. Sok wawancara.
“Pak nanti kira-kira sampai Batang jam berapa ya?”
“Lima sampai enam jam-an.”
“Jalannya nggeronjal-ngeronjal gini ya Pak sampe Batang?”
“Ya nggak to An,” Pak Maman menghela nafas, “nanti yang kayak jetkoster yo ada, yang aspal baru juga ada, naik-turun apalagi...”
“Masa’ Pak?” “Jelas too, nanti kamu tau sendiri. Truknya nanti goyang-goyang sendiri.”
“Muatannya aman?”
“Amaan. Muatannya nggak berat. Cuma ada harganya. Percaya nggak kalo muatan ini nilainya lebih dari 20 juta?” Aan menoleh, Pak Maman melanjutkan, “Dulu sebelum jadi supirnya pabrik saya jadi supir travel An, kamu juga tau kan dulu sering bawa pulang mobil elf biru yang tak parkir depan rumahmu. Kamu tau. Tapi sebelum itu saya malah udah sering bawa truk gede, gandengan aja pernah. Anter paket. Rutenya Semarang-Surabaya, Jakarta-Jogja, mana-mana pernah tak lewati An. La wong aku dapet sim itu masih enom, tahun 95.”
“Kamu lahiran tahun berapa An?” “Sembilan lima juga Pak, wah jaman segitu berarti udah jago bawa mobil yo Pak haha...” “Umur berapa yaa, lupa juga e saya. Pokoknya masih enom kok,” tukas Pak Maman mantap.
“Saya dulu hampir 24 jam habis di jalan, An. Jarang banget ketemu Angga sama Ibunya. Dulu kalo anter paket gitu soalnya nggak tau waktu. Misalnya kalo udah ngirim barang kita bisa ditelpon sama juragannya suruh nganter barang lagi. Pernah dulu itu udah hampir mau pulang, pas sampe Muntilan mampir beli Magelangan buat Angga sama orang rumah. Eh malah ditelpon lagi suruh setor barang ke Surabaya, jadi yo rasido bali. Mbalik lagi ke sana. Angga waktu itu masih TK, An. Nangis-nagis minta bapaknya pulang. Resiko pekerjaan kalo udah gitu, harus profesional. Kita kerja di tempat orang, apalagi sopir, An. Pas pindah ke travel-an juga hampir sama. Resikonya menurut saya malah lebih gede An, soalnya kita bawa anak orang, nyawa manusia. Itu nguras tenaga. Tidur paling cuma pas penumpangnya berhenti rehat makan apa cuma MCK. Nggak lebih dari setengah jam. Makanya pas diajak muat anter kayu deket rumah travel-nya langsung saya lepas. Kan jarang dapet kerja yang deket-deket rumah, sama-sama muat barang tapi nggak berat, kerjanya nggak ngoyo kayak dulu , waktu sama keluarga juga bisa lebih lagi, walaupun gaji dulu anter paket itu lebih besar karena nyopirnya tronton. Pesenku kamu sekarang sekolah yang bener, kuliah yang pinter, besok biar bisa kerja ringan gaji gede, syukur-syukur bisa mengayomi masyarakat di kampung, An,” Pak Maman mulai serius. Aan membetulkan posisi duduk—menyimak.
“Kamu boleh nyopir, An. Tapi jangan jadi sopir kayak saya gini. Kerjanya keras. Maksudnya kamu boleh banget belajar nyetir, cita-citamu kamu kejar terus, bisa nge-haji-in orang tua, bisa bangun rumah, bisa beli mobil plus bisa nyopir. Tapi jangan kerja jadi sopir, gitu lo. Kalo toh punya pilihan, nyopir itu jadi pilihan terakhir aja, eman-eman ilmu kamu.”
Pelajaran lain hari ini. Dari satu orang, Aan kini mengerti banyak hal sebelumnya belum ia pelajari. Mulai dari seorang laki-laki yang sudah sepantasnya mengerti jalan, peta, jalan tikus, biar nanti bisa jadi pedoman perempuan―gombal.
Dan betapa dalam sebuah perjalanan apapun bentuknya, tidak akan menjamin kemudahan hingga sampai ke tujuan. Ada kalanya penuh liku, nggeronjal, naik-turun, dipayungi mendung, angin kencang hingga hujan mendera yang memaksa kita kehilangan keberanian, pedoman bahkan tujuan itu sendiri. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa .Itulah gunanya bekal. Bekal yang akan menguatkan ketika nyali ciut, bekal yang bisa jadi kiblat dalam meraih tujuan.
Atau tentang sebuah cita-cita yang harus selalu diperjuangkan. Karena dalam perjuangan, seseorang bukan hanya memperjuangkan dirinya sendiri. Boleh jadi orang lain adalah alasan bagi perjuangannya, semangat dalam lentera hidupnya. Ayah, ibu, anak, istri, maupun marwah keluarga besarnya.
Pun tentang cerita Pak Maman lainnya dimana beliau lebih memilih rezeki yang dekat dengannya. Pak Maman tahu kalau rezeki bisa dicari. Percuma bergaji tinggi namun hampir tiap hari jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang tersayang. Pulang malam hari, berangkat kerja sebelum anak mencium tangannya ketika hendak pergi sekolah. Miris. Saat banyak orang di luar sana berlomba-lomba menimbun kekayaan, pontang-panting banting tulang hingga lupa jasa-jasa orang tua.
“Pimpiim,” suara klakson Pak Maman menyapa teman seprofesinya di ruas jalan yang lain. Temannya membalas lewat kilatan lampu utama truknya―ngedim.
“Aku dulu pernah punya cita-cita jadi sopir bis malah, Pak,” Aan ganti tertawa.
“Ceritanya dulu pas SD kan suka berangkat-pulang sekolah naik bis dari Muntilan sampe Blabak. Dua kali ganti bis malah. Tak pikir-pikir jadi supir kok keren yo Pak haha...”
“Yo kalo bisa kamu jadi juragannya, punya banyak bis kan enak. Tinggal minta setoran anak buah,” gantian Pak Maman menggoda.
Tiba-tiba Aan teringat trayek bis yang dulu biasa ia naiki waktu SD kini sudah tidak beroperasi lagi akibat salah satu jembatan di selatan desanya putus pascabanjir lahar dingin erupsi Merapi. Memang jembatannya sudah dibangun kembali, namun hanya boleh dilewati kendaraan roda dua dan sebagian mobil pribadi karena ada batasan tonase dan ada portal pembatas di atas bibir jembatan. Maka sekarang tidak kaget dengan menjamurnya ojek-ojek dihampir setiap sudut kampung yang dulu dilewati trayek bis itu. Aan berceloteh panjang kepada Pak Maman sepanjang perjalanan tentang kehidupan di jalan. Soal bis dan paguyuban ojek, kerasnya pekerjaan, hidup dan kehidupan yang sebenarnya. Pak Maman juga banyak tau tentang sopir-sopir bis yang dulu biasa lewat di daerah kami. Pak Maman bilang bahwa mereka sebagian ada yang alih profesi, ada juga yang alih trayek, juga ada yang pergi ke Jakarta menjadi supir Trans Jakarta. Mereka nggak pernah berhenti hdup, meskipun mereka semua harus beradaptasi dengan zaman yang terus berubah.
Ah, Pak Maman memang keren. Bukan deng, jadi sopir memang keren kok.
T r u k
Siang ini Aan senang bukan kepalang. Adalah ajakan Pak Maman minggu lalu yang menawarkan padanya untuk ikut jalan-jalan mengirim barang menggunakan truk putih berplat AA milik salah satu pabrik tempat beliau bekerja ke salah satu pabrik kayu terbesar di pantura.
Pak Maman adalah seorang sopir truk di salah satu perusahaan percetakan kayu lapis yang sudah malang melintang di dunia persopiran selama lebih dari 20 tahun. Dari kecil, konon katanya beliau sudah akrab dengan hal-hal yang berbau mobil—dan tentu saja mobil-mobilan. Kebiasaannya terus tertular hingga menginjak dewasa hingga memutuskan menjadi sopir pro.
“Siap jalan-jalan jauh?” Pak Maman menutup pintu truk pelan-pelan. “ready Pak, hahaha...” tukas Aan semangat.
Mesin dinyalakan, radio diset volume 26, kaca-kaca dibuka setengah-setengah—pas ketiak. Kurang dari lima menit pak Maman mulai beraksi. Memutar truk lalu keluar garasi pelan-pelan menyusuri rumah-rumah warga. Sesekali ada tetangga yang menyapa kami berdua.
“Arep ‘ngirim’ nandi meneh Kang?” mau ‘ngirim barang’ ke mana lagi Pak?
Salah satu warga berteriak ke arah kepala truk. Pak Maman melongo ke arah spion, “Ngirim nang Batang meneh ki, melu po piye?” Ngirim ke Kab. Batang lagi ini, mau ikut po? Si tetangga mencerna sedengarnya, “Yowis ati-ati Kang, nggowo anak buah enom ki ra banter-banter” Pak sodiq senyum-senyum penuh arti. Kata tetangga tadi kurang lebih berarti—kalau bawa mobil hati-hati, apalagi bawa anak buah muda jangan ngebut-ngebut. Aku ikut tersenyum. Truk melenggang ke luar kampung.
Truk tiba di pabrik kayu lapis. Diarahkannya ke gudang pengiriman barang yang sudah siap dengan kayu-kayu lapis kualitas eksport dengan balutan plastik pembungkus rapi berjejer di kanan-kiri gudang. Truk diparkir menghadap keluar. Keluarlah Pak Maman dari kemudi truk lalu dengan cekatan menyiapkan bak truknya agar siap muat. Kali ini Aan melebarkan pandangannya ke segala sudut pabrik yang sangat luas dengan satu ruang di belakang gudang nampak mesin-mesin pemotong dan pengepresan kayu berjajar megah.
Aan masih terpesona dengan apa yang baru ia lihat, padahal lokasi pabrik tak jauh dari rumahnya. Hanya saja karena kesibukan di kampusnya dia jadi jarang pulang ke rumah.
“Kok bengong An,” Aan kaget mendengar suara Pak Maman yang sambil menepuk punggungnya.
“Gede banget ternyata kalo udah masuk ke dalam Pak.”
“Itu belum apa-apa An. Nanti pas kita ke induk perusahaan yang kita kirim barangnya lebih gede lagi. Soalnya di daerah Batang apalagi di sepanjang pantura banyak pabrik-pabrik gede dan nggak cuma kayu. Kelasnya udah eksport semua kebanyakan.”
“Ooh gitu to...” Aan ber-oh tak percaya.
Muatan penuh. Aan bergegas membantu Pak Maman merapikan terpal yang dipasang di truk cekatan. Tali-tali diikat dengan simpul-simpul yang belum ia mengerti sebelumnya, dan hanya para sopirlah yang menurutnya mengerti simpul-simpul itu. Aan mengingat-ingat pelajaran tali-temali yang pernah ia dapatkan waktu di [entah] SD, SMP atau SMA—ia lupa. Satu pelajaran hari ini.
Truk siap, dokumen surat jalan lengkap, siap berangkat. Bismillah.
Iri dengan mereka
Kosong-Kosong
Suatu sore di kamar kostku. Aku menonton tv ditemani mie kuah yang kuseduh sendiri dengan menggunakan dispenser. Angin bertiup kencang tak menentu dari selepas aku pulang—ujian akhir semester gasal—yang seakan ingin memberi tanda bahwa hujan akan segera turun. Gemuruh mulai terdengar mencoba berduet dengan sapuan angin. Segeralah kusantap habis mie tak bersisa.
Kumatikan tv yang sudah sejak tadi menyala dengan tayangan sebuah rerun ftv. Hawa dingin menyelinap di sela-sela pintu juga sela ventilasi. Gerimis. Ada yang memanggilku. Kulihat sebuah buku berikut pulpen salju-salju samping mangkuk mie di atas meja lipat.
“Ooh...nulis Fa,” Gumamku. Kuambil pulpen dan buku sembari menerawang mencari sejumput inspirasi. Mulai meraba, berfikir keras. Malah bersendawa Faafa...kebiasaan.
Aku tiba-tiba teringat seseorang—yang sering membuat mie untuk Bapak. Ibuk.
Bapak kini sudah menginjak kepala lima, bahkan hampir enam. Aku kenal betul kebiasaan Bapak sepulang mengajar dari madrasah tempatnya mengabdi. Walau pun tak selalu, Bapak sering sekali minta dibuatkan mie instan oleh Ibuk.
Sekarang aku mengerti.
Aku dan tiga orang adikku selalu makan nasi yang cukup, hidangan lauk pauk setiap hari tercukupi, bahkan bisa beberapa kali nambah. Aku juga baru tahu tentang setiap snack acara apapun selalu ibu bawa ke rumah untuk dibagi ke adik-adikku, bahkan tentang bapak atau ibuk yang lebih dulu selalu bilang kenyang ketika kami lahap menyantap sajian dan berebut tempe. Mereka bohong, mengalah tapi dalam hati mereka menang—memenangkan kami berempat.
Aku jadi berfikir bahwa setiap siang menjelang sore ketika bapak pulang mengajar, di rumah memang benar-benar tak ada makanan yang bisa dimakan, atau mungkin ada tetapi sengaja abay karena—
Ah kamu pasti tahu Faa...Kamu bodoh...
Hujan tambah lebat.
“Ya Allah jadikan hijan ini hujan yang bermanfaat. Menghidupkan jiwa-jiwa yang kering akan rasa rindu kepada kedua orang tua. Yang terlupa hanya karena bentangan jarak semu tak semu. Lindungilah mereka berdua dari fitnah dunia dan jadikanlah mereka sebaik-baik guru dunia. Semoga Kita bisa berbakti pada keluhuran tutur lakunya. Menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah, Aaamin.”
Kertasku masih kosong.
Ora penting matine kapan, wong kapan-kapan yo mati. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita menghadapi kematian itu sendiri.
Anwar Zahid
kalau tak usaha, bagaimana kau akan tahu sekuat apa dan sejauh mana kau bisa melangkah. Jangan hanya pasrah. Berserah itu di akhir, setelah kau rasakan luka dan darah yang getir. Sekalipun kau kecewa, setidaknya kau telah mencoba. Sekalipun kau kalah, setidaknya kau tidak mudah menyerah.
Aku kepada cermin (via rantingkecil)