#BaliOmah - Berhenti Sejenak dan Menikmati Waktu adalah Sebuah Keputusan
There's always a little something about going home or visiting hometown.
The same hours, the same usual days, however...different feelings. How come?
Saya menghabiskan masa kecil sampai remaja di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota yang letaknya di kaki Gunung Merbabu. Lahir di pulau Kalimantan dan kemudian menghabiskan masa kanak-kanak mengitari kota-kota di Pulau Borneo itu (mungkin) tidak seharusnya membenarkan diri saya untuk bilang kalau saya berasal dari kota kecil di Jawa Tengah ini.
Kalau boleh dibilang, mungkin lebih tepatnya saya cuma "numpang" menghabiskan masa-masa paling krusial dari pertumbuhan hidup sebuah makhluk yang disebut manusia ini. Masa-masa yang membuat seseorang berharap tidak perlu menghadapi tudingan “salah asuh” dari orang-orang sekitar.
Beruntungnya - atau mungkin lebih tepatnya, bersykurnya - menghabiskan masa krusial dalam hidup saya di kota ini memberi saya "bekal" yang cukup sebelum akhirnya tinggal di Ibu Kota seperti sekarang. Berada di Ibu Kota membuat saya bersyukur tumbuh besar di kota kecil yang penuh kesederhanaan ini. Lebih tepatnya, membuat saya lebih mengerti dan lebih memaknai lagi tentang arti menjalani hidup tanpa perlu terburu-buru. Menikmati "waktu sekarang" tanpa perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Memanfaatkan waktu libur lebaran untuk pulang kampung, cuma ada satu hal di kepala saya: istirahat. Tapi, apa daya. ART mudik, sanak saudara ramai berdatangan, istirahat penuh menikmati sepi dan udara dingin pun tinggal di angan. Cuma bisa curi-curi waktu untuk tidur-tidur ayam.
Sampai pada akhirnya tiba hari kepulangan ke Ibu Kota, saya berikrar ke diri sendiri, "Bagaimanapun, sebanyak apapun yang harus dikerjakan, cukup nikmati.". Kenapa? Karena saya cenderung memikirkan hal lain yang juga harus dikerjakan, saat sedang mengerjakan satu hal, dan berujung stres sendiri. Saya jadi melewatkan momen atau hal yang harusnya bisa saya rasakan. Saya tidak mau menyesal karena sama sekali tidak memiliki hari untuk dinikmati di kota kecil ini.
Kata-kata tadi bukan mantra. Tapi, ajaibnya, bisa membuat saya lebih bisa menikmati kopi hitam yang sedang saya seruput, dan beberapa potong tela rambat (ubi) rebus yang tersaji di piring. Membuat saya bisa - dan berani - menjauhkan diri sejenak dari telepon genggam, membiarkan diri saya "tertinggal" dari hingar-bingar dan "kesibukan" yang terjadi di social media. Lagipula, bukankah kita memang tinggal di dunia nyata?
Waktu 30 menit yang biasanya saya habiskan dengan tergesa-gesa dan merasa diburu-buru saat berada di Ibu Kota, kali ini saya rasakan berlalu dengan lambat dan sebagaimana seharusnya. Sebagaimana mestinya ketika kita menempatkan diri pada waktu itu. Waktu yang sedang ada di depan mata. Waktu yang ada di sekeliling kita.
Mungkin, hanya itu yang waktu perlukan dari kita agar ia bisa melakukan dan memberikan apa yang seharusnya: masa yang cukup untuk dinikmati. Waktu tidak meminta kita untuk berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Waktu hanya meminta kita untuk sepenuhnya menempatkan diri pada waktu yang sedang kita miliki dan melakukan apa yang seharusnya pada saat itu. Kemudian, membiarkan hal-hal yang berlalu lalang di kepala untuk tiba pada waktunya sendiri untuk kita pedulikan. Bukankah untuk segala sesuatu di bawah langit ada masanya?
Kampung halaman dan Ibu Kota, keduanya sama: sebuah tempat. Apa yang membuat keduanya jadi berbeda, mungkin hanya sekadar persoalan suasana yang kita bawa di dalam kepala. Saat berada di kampung halaman, kita memilih untuk sejenak melupakan tanggung jawab di Ibu Kota dan menikmati masa yang ada. Saat berada di Ibu Kota, kita sibuk memikirkan kapan bisa menikmati waktu "bebas" seperti ketika berada di kampung halaman. Tidak perlu menghadapi setumpuk tanggung jawab di depan mata, di saat kita sebenarnya bisa memilih untuk menerima apa yang ada di depan mata dan bersabar sampai semuanya selesai.
Ketimbang, terlalu sibuk memikirkan apa yang belum bisa kita dapatkan, apa yang di depan mata pun tidak terselesaikan dengan baik dan pada akhirnya...tidak mendapatkan apa-apa?
Tidakkah letih menempatkan diri pada perasaan dikejar-kejar dan diburu?
Waktu tidak pernah berhenti dan akan terus berjalan. Akankah kita terus menjalani hidup tanpa kesadaran penuh akan keberadaan benak?
Selamat berdamai dengan waktu.











