Cerita Bulan Mei
~
hai, friends! Hari ini, aku mau curhat aja, nih, tentang gimana kabarku akhir-akhir ini, what I’ve been expreriencing, how I’ve been feeling, and all that, ya. Sebenernya nulis ginian when it feels like no one ever asks or nobody cares, dan bahkan aku ngerasa ini ga ada benefitnya, gitu, buat yang baca, aku jadi ragu mau nulis apa engga. But then I think again, hey! Mungkin ada manfaatnya kalau ada pelajaran yang bisa diambil. Mungkin tulisan kamu bisa menjadi sangat comforting buat siapapun di luar sana yang menjalani situasi yang serupa, or even just going through hardships in general, as it’ll let them know that they’re not alone.
So let’s talk about life.
I once told my mom that my life timeline feels stuck in 2019. It feels like, only my body that make it to 2022, but not my mind, not my soul. Just my raga alone, not my jiwa.
Unconciously, I even believed that as I person, I haven't grown or changed at all since then. I feel like i stopped growing. I always blamed my environment for that, blamed my parent’s decision, blamed my destiny-even, until, yesterday, life proved me that I was wrong.
Because I did grow.
I did change.
Like, tremendously.
Yesterday, by accident, when I was contemplating whether or not to text my best friend, i just happened to scroll all of our messages all the way to 2019. The overwhelming amount of old messages obviously took me the longest time ever to read, which I kinda skip a lot of things too, but ya. I sit there for 45 minutes, scrolling.
Reading.
Understanding.
Contemplating.
Figuring out.
And then I think to myself, ‘God, I don’t even recognize this person anymore!’
The way I text, my perspective, my reaction to things, the way I express myself, the way I see the world, the movies and the youtube videos I consume, and even our friendship, has changed so much.
It would be a lie If I don’t find myself thinking, ‘Can’t believe that my 2019 self was soo dumb. Do I even miss this? Do I even miss being this dumb? How dare you even say that you haven’t moved past 2019?
Dengan sejuta pemahaman-pemahaman baru yang berdatangan, yang mana intinya adalah-wah aku memang sudah banyak berubah ya, ternyata as a person aku tidak stuck di situ-situ aja ya, di situlah aku merasa seperti ada wake-up call. Di mana aku kayak, dibisikkin sama angin, like, there you go, proofs that you, time wise, have moved past 2019. You already moved so far. 2019 udah ketinggalan jauh di belakang. Ga relevan. Peristiwanya, even the 2019 version of you. If you keep holding back onto that person, you could ruin your own life. Ngebatasin your own growth, melewatkan so many oppurtunities, bisa-bisa ga akan pernah bahagia dalam hidup. Nih aku kasih buktinya, ini semua nunjukkin kalau, indeed, it’s not 2019 anymore. It is so far gone that you even forgot already, how it feels to be living in that year. Ayo sadar akan hal itu.
2019-let it be just a sweet, sweet, memory. Your personal fave, the first half of 2019, treasure that moment in your heart, tapi bukan untuk disesali dan berangan-angan bisa kembali lagi. Sesimpel karena itu semua ga akan pernah terulang lagi.
Jadi, kita belajar berdamai, ya. Dengan masa lalu, dengan masa kini. Dengan diri sendiri, dan dengan orang lain.
Mulai sekarang, stop bilang, 'omg, 2019 was the last time I feel happy.' Nein.
Pemikiranku yang lain, yang masih ada kaitannya dengan penerimaan, adalah, berakar from this question : do you think yourself right now is the best version of you, in life, so far?
The short answer is yes.
Kenapa begitu?
Yang menjadi tolak ukurku dalam menentukan apakah aku sekarang adalah versi diriku yang terbaik sepanjang aku hidup-sampat saat ini, adalah, how I tackle things. Ya, sederhana memang. Tapi, banyak banget skenario kehidupan yang kalau terjadinya di masa lalu aku bakalan ‘sekarat’ sementara kalau terjadinya sekarang ya I’m gonna be just fine.
Terus mungkin aku paling punya banyak pengetahuan ya sekarang? Dibandingkan aku kemaren, satu hari yang lalu, 6 bulan yang lalu, atau 6 tahun yang lalu.
Terus pengalaman yang aku punya paling banyak, ya, juga sekarang.
Jadi kesimpulannya apa, dong, kalau gitu?
Berarti, ya, versi diri kamu sekarang ini kan dibentuk oleh berbagai macam hal, kan. Berbagai macam peristiwa. Jadi, diri kamu hari ini adalah akumulasi dari segala macam peristiwa yang kamu lalui, berbagai macam rintangan yang kamu berhasil atasi, serta malam-malam penuh tangis, hari-hari penuh kejutan, dan sederet hal lainnya. Jadi, menerima siapa kamu itu juga adalah menerima apa yang terjadi sama kamu.
Menerima semua kepedihan, semua bencana. Menerima rasa sakit. Menerima perlakuan-perlakuan buruk. Menerima bagaimana kamu pernah menyaksikan dan menderita dari hal-hal paling tidak jelas, aneh, pokoknya ya buruk lah ya-menurut versimu. Dan ternyata, kita ga bisa in-denial, gitu. Karena semua itulah yang udah nge-shape kita jadi diri kita sekarang. But let’s be honest, all that is easier said than done, jadiii, as a bonus, also I sincerely apologize that today's post is becoming so heavy out of nowhere, I present to you, some nice-and hopefully not that cliché quotes related to the topic :
---
Terbentur, terbentur, lalu terbentuk.
---
“You are gonna be happy,” said life.
“But first I will make you strong.”
---
(source-nya aku lupa, lmk if you guys know yaa ^_^)
terima kasih yaaa teman-teman semua sudah meluangkan waktunya buat bacaa, maaf kalau pembahasannya jadi ngalor-ngidul kemana-mana melenceng dari niat awal😅 tapi semoga tetep ada hal baik yang bisa diambil, ya! I hope you have a great day wherever you are in the world. 🤗
Love,
Nadia.













