Banda Neira : Jejak Belanda, Pala, dan Tanah yang Mempesona
“Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari”
(Hujan di Mimpi-Banda Neira)
Banda Neira, dua kata yang mengingatkan pada pelantun lagu ‘Hujan di Mimpi’ atau ‘Senja di Jakarta’. Banda Neira kali ini bukan tentang mereka, tapi tentang suatu tempat yang katanya mutiara dari timur Indonesia. Tanah yang katanya menyimpan destinasi romantis semanis lirik lagu Banda Neira.
Banda Neira atau Banda Naira berlokasi di Maluku Tengah. Daerah yang belum terjamah padahal menyimpan banyak destinasi wisata. Dari banyak sumber yang ada, tanah ini menjadi saksi penting perdagangan rempah semasa kolonial. Pala menjadi aset berharga dari Banda Neira. Rempah-rempah ini yang membuat para penjajah menguasai Maluku saat itu.
Kekuasaan kolonial semasa itu juga menjadikan banyak tempat-tempat bersejarah di sini. Benteng Belgica, Benteng Nassau, Istana Mini, rumah pengasingan Bung Hatta, atau peninggalan sejarah yang lain.
Suatu saat jika aku berkesempatan ke tempat Banda Neira, orang yang akan ku ajak adalah Mbak Suci. Dia adalah pecinta sejarah dan museum yang tentu tak akan melewatkan cita-cita mengunjunginya. Juga kelak nanti jika aku telah menemukan orang terkasihku, semoga kita bisa ke Banda Neira ya, meski entah dia menyukai museum atau pantai indahnya, kuharap kita memiliki impian yang sama untuk singgah ke Banda Neira. Kuberitahu, bahwa aku tidak terlalu suka museum dengan suasana yang sunyi dan mencekam, tapi aku tetap ingin melihat benteng peninggalan di Banda Neira yang berhadapan dengan Gunung Banda dan hamparan air laut yang membiru. Semoga ya!
Berbicara tentang laut, katanya laut di Banda Neira menyimpan terumbu karang yang mempesona. Tempat terbaik untuk snorkeling karena menyajikan pemandangan bawah laut yang menakjubkan. Untuk kali ini aku tertarik, bukan untuk snorkeling *renang saja aku nggak bisa*. Pasir pantai dan lautan yang biru cukup menyenangkan untuk berlari-lari sekadar bermain air.
Dari banyak sumber yang ku baca (maklumlah ini jenis wisata termurah, tinggal browsing dan bisa keliling dunia, hehe), Banda Neira menyimpan banyak misteri. Kekuasaan Belanda zaman itu menyisakan pengalaman pahit. Seperti Monumen Pergi Rante, yang menjadi tempat pembantaian massal 40 saudagar kaya oleh Belanda. Atau jangan bicara aneh-aneh saat di Benteng Belgica jika tidak ingin sesuatu terjadi. Ah tapi semua ini kembali ke diri masing-masing, terserah percaya atau tidak.
Banda Neira memang tanah di timur Indonesia yang belum terjamah. Mungkin suatu saat tempat ini akan masuk list ‘place to go’ ku. Mengingat biaya yang cukup membuat mata saya melongo, sepertinya akan dipikirkan kembali. Atau solusi lain adalah menjadikan Banda Neira sebagai tempat KKN besok. Sekali mendayung, kapal nggak bakal sampe kali cuma sekali, eh -_- maksutnya sekali mendayung, dua pulau terlampaui.
Info Banda Neira ini pun hanya sedikit, cuma hasil baca ulasan wisatawan atau agen promosi wisata -_-
Foto dan gambar bisa browsing sendiri, atau lihat salah satu ini https://www.instagram.com/p/BSH1SbqFE56/ atau yang sangat sabar silakan menunggu foto dan cerita lebih lengkap dari saya, itu pun kalau ikut tour gratisan ke sana suatu saat nanti. Wkwk.