Burn Out
“Bu Nur, saya beberapa hari ini ngerasa burn out, gak sadar ya saya sering izin pulang cepet, kalau ke kantor tuh rasanya mual gitu lemes dan sesak nafas”, demikian curhat salah seorang rekan saya di tempat kerja. istilah yang gak asing dan kayaknya saya juga hampir merasakan wkwkw maka tulisan kali ini punya maksud ngasih pencerahan apa itu burnout dan tahap healing buat saya.
Burn Out secara sederhana adalah stress berlebihan, buat saya kenapa bilang hampir merasakan ini karena meski saya amat teramat senang dengan kerjaan sekarang akhirnya terlontar juga dimulut saya “iya nih bu, batas kewarasan saya diuji, salut sama orang-orang yang bisa kerja tanpa keluhan”.Organisasi kesehatan dunia (WHO) baru-baru ini menetapkan burnout untuk menggambarkan kondisi stres kronis yang berhubungan dengan pekerjaan. Pekerja yang mengalami sindrom ini menunjukkan gejala berupa kelelahan secara fisik dan emosional. Umumnya, kondisi tersebut muncul akibat ekspektasi dan kenyataan karyawan tidak sama dengan apa yang diharapkan. Selain itu, rasa lelah dan stres berkepanjangan juga bisa terjadi karena seseorang kewalahan dengan perintah atasan yang terus-menerus datang.
Gejalanya bisa dibaca disini, terus ada juga artikel yang ngebahas bedanya burn out dan stress disini yang intinya kalau stress itu bisa jadi motivasi bergerak kalau burnout justru gak mau bergerak sama sekali, cerita stress itu bikin bergerak mungkin kayak kisah ikan hiu di tangki yang pernah saya tulis disini
Buat saya sepertinya alasan pertama terkait bedanya ekspetasi dan realita jadi pemicu burn out, jadi di Kantor itu kita sebelum bekerja harus melaporkan rencana kerja dan setelah pulang kita juga melaporkan dalam realisasi rencana kerja. Mungkin buat beberapa orang ini hanya angin lalu, tapi buat saya apalagi setelah tahu ternyata atasan saya amat rajin dan membaca hal tersebut jadi buat kepikiran sendiri, sudahlah sepertinya punya bakat lack of confidence (its really worse i think, ditempat kerja lama malah kalau habis ditegur bisa blank seharian).Saya ngerasa kesel sendiri kenapa rencana dan realisasi saya gak pernah match, kenapa rasanya kerjaan saya gak selesai sesuai rencana wkwkkw
Kesel karena gak sesuai tapi bukan karena bermalas-malasan, diri ini ngerasa udah ngeluarin effort yang cukup, kalender sudah terpenuhi dengan beraneka ragam hingga kemudian pattern yang terjadi dihidup saya adalah senin-jumat bekerja dengan segala interaksi sosial, sabtu-minggu hibernasi dalam pengasingan, orang tua saya sampai ngomel (lebih tepatnya mama) dengan nyindir bilang saya kayak anak kost. deep inside my heart i know what i am doing is wrong, i know if i want something to be perfect there must be a sacrifice but i dont want it that way. (sampai sekarang tulisan yang direncanakan tentang wanita dengan segala aktifitasnya gak jadi-jadi wkwkw padahal pengen kayak ngasih apresiasi gitu untuk segala hal yang bisa kita lalukan as a women tanpa mengeluh mulu). Dan ketika saya ngerasa gak puas dengan kerjaan saya, orang lain justru put so much expectation to me (dari kuliah amat teramat sangat takut dengan harapan orang lain)
Diotak berulang kali terbayang kalau mati gimana yak tapi pas ngingat jumlah ibadah langung buyar haha terus ngebayangin cara bunuh diri langsung ogah. dan akhirnya pikiran saya melunak dengan membayangkan kalau berhenti kerja gimana, enak kali kalau dapat suami sultan gak perlu kerja wkwkw. Meski saya lahir di tahun 90an, saya merasa bukan kebanyakan seperti generasi milenial yang mudah untuk resign dan menemukan pekerjaan baru. secara sederhana otak saya berpikir udah syukur dikasih kerjaan, siapa yang masih uang segitu kalau gak kerja, dst.
Pekerjaan sekarang gak ada salah apa-apa karena semua orang bekerja dan mereka bisa berpuluh-puluh tahun bekerja dan saya sudah sangat berterimakasih dapat diterima bekerja sekarang ini, I know if there’s something wrong, its me :’). Mungkin kalau dulu kuliah saya enek sama kampus atau organisasi saya akan bolos dan menghilang (atau bahkan kabur keluar kota wkwkw), tapi sekarang otak saya sudah bekerja dalam nominal angka, berapa banyak unpaid yang akan diberikan atas kepergian saya, ongkos kalau mau jalan-jalan, beberapa banyak orang yang akan kewalahan atau mencari atau kesal, berapa banyak perkejaan yang akan tertumpuk karena saya memutuskan untuk lari.
Kenapa akhirnya ngait2in stress kerjaan ini dengan burn out walaupun belum tentu pas adalah karena untuk pertama kalinya dipekerjaan baru saya bisa lupa sama suatu hal yang ditugaskan jadi sorenya diminta mengantikan rapat untuk jam 7 malam dan saya beneran blas lupa malah main hp, dikalender juga gak ada ditandai.
Saya tau keadaan begini gak boleh dibiarkan berlarut-larut, apapun itu stress atau burn out. Maka, Ilmu klasik pertama yang pertama diterapkan adalah melist semua pekerjaan dan mana yang jadi skala prioritas. Berhujung buat saya ngempas ni buku terus narik napas dalam-dalam dan teriak dibalik bantal wkwkwk
llmu klasik yang kedua adalah mencari teman curhat, dari beberapa dihubungi alhamdulillah ada dua orang yang ngebalas dan dua orang teman saya ini punya karakter yang amat sangat berbeda. Jadi malam itu yang ngebalas ada Fadli (realistis) dan Indri (religius). saran keduanya sebenarnya adalah saran yang sebenarnya saya sendiri paham dan tau (sok bener wkwkw), tapi esensi dari bercerita keorang lain adalah kita butuh kata-kata tersebut dikatakan oleh orang lain, kita perlu orang yang mengamini penderitaan kita, orang yang bilang “iya kamu udah berusaha kok, kamu terbaik dst”. Jadi saya simpulkan saran dari kedua teman saya ini ya :
Fadli : coba dicek mana yang perlu dikurangin mana yang diproritasin, cerita keteman kerja ko, ko bagus bikin 2 nomor jadi kalau udah lewat jam kerja nomor yang memang untuk kerjaan dimatiin. emang udah capek ko itu butuh istirahat full (dalam hatiku gak tau dia aku kalau udah hibernasi kayak apa mungkin itu yang bikin belum nikah), kalau ada yang gak enak masuk telinga kanan keluar telinga kiri, kerja itu pasti ada celahnya, kuatir cuti unpaid.. duit bisa dicari tinggal lembur aja kalau mau, tapi kondisi sendiri kesehatan, happiness sulit maintainnya. (dan dipenghujung chat dia suruh aku cutii...cutii sama tidur yang bener jangan kebanyakan main hp)
Indri: biasanya mulai dari nata waktu shalat, itu ngebantu banget nata jadwal harian walaupun kita gak boleh sih nata ibadah buat dunia (ini kali yak ndri yang dinamain one way to jannah, dunia akhirat balance), jangan kebanyakan tidur karena kadang ngerasa waktu tidur kurang trus balas dendam tidur dijam yang bukan waktu tidur jadinya mood ga bagus (btw masalah bangun tidur dan mood ini, ini ada artikel masalah alarm dan bangun tidur disini
ada beberapa hal yang saya tau : 1) mau dikeluh atau dihindar gimanapun masalah itu tetap mesti dihadapi, dia bakal tetap nongol diwaktu dan tempat yang semesti; 2) mau nangis berdarah-darah gimanapun kalau dikerjakan pasti dia bakal selesai dan akan ada masa yang bikin bilang “wah ternyata”; 3) mau cerita atau minta tolong kesiapapun tetap semuanya balik ke kita.
Dan kemudian saya menyerah, malam itu saya memilih untuk tidur dan menjauhkan semua yang berbau kerjaan serta handphone lalu bangun siang hari wkwkw, sebelum saya menulis tumblr ini yang saya lakukan beberapa hal untuk memperbaiki mood saya adalah : dengerin musik sambil nyanyi, telponan, mesen makanan enak (good food is good mood, kalau quote jaman sekolah suka saya plesetin dari didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, untuk bisa sehat harus makan yang lezat).
Mood saya sedikit banyak membaik dan nulis ini kayak tertakjub bisa juga (sok) bijak hahaha (swing mood saya emang cepet sepertinya btw).dan akhirya saya coba kelompokkan sekala prioritas dalam kotak-kotak sticky note sebelah kasur dengan keyakinan mereka satu persatu akan saya lepas huahahahahaha :D
Akhir kata dari tulisan ini adalah SEMANGAT PARA PEKERJA

















