Pilihlah Faskes yang Tepat (Sedikit cerita tentang TB Anak)
Disclaimer : itu tulisan paling berpikir menurut saya semenjak membesarkan Deana, saya sangat butuh menata hati bahkan saat menulis masih inhale dan exhale, tangan masih dingin, jantung berdebar. Semua karena menikmati jungkir balik pelayanan fasilitas kesehatan di negeri ini yang berkaitan dengan tumbuh kembang dan nyawa anak.
Kadangkala lebih baik tidak berobat, daripada pergi ke faskes yang salah dan pelayanannya kurang/buruk
Itu salah satu curhatan Dr. Windhi DSA Deana di Klinik Markas Sehat (Asli jatuh cinta banget sama Dokter dan Kliniknya, nanti kalau ada waktu saya review sendiri ya) saat kami berkunjung, kala itu saya sebagai ibuk baru galau karena si Deana yang belum genap setahun tapi ketika berkunjung ke DSA lain sudah diresepkan antibiotik untuk batpilnya tanpa diagnosis yang saya jelas pahami.
Inget saya diomelin Dr. Windhi pas ditanya, "Loh gak tanya kenapa dikasih antibiotik? diagnosisnya apa", terus ku jawab "Ispa dok katanya", lalu dengan panjang lebar dijelaskan Dr. Windhi "Buk, ISPA itu saya jelasin kayak kelompok besar, bukan diagnosis, ISPA itu bisa bronkopnenomia, bronkiolitis, asma, dll". Saya cuman bisa mangut-mangut dan mengikuti saran Dokter untuk memantau dan bersabar.
Alhasil dari kunjungan ke DSA Deana biasa di Markas Sehat (masya allah semua disana baik banget, Allah ya bales ya bu admin, dokter, suster, semuanya) semua obat di stop baik ambroxol juga cetirizine ya selalu jadi langganan anak-anak kalau batpil. Pesannya adalah sabar ya bu diemong anaknya, dipantau ada tanda kegawatdarutatan, susui dan makan yang bergizi. Saya pernah tulis mungkin tentang memahami sakit bagi anak-anak disini, kayaknya kiblat saya terkait penangan medis anak ya Dr. Apin ya juga dulu di Markas Sehat (Sekarang gak ke Dokter Apin itu Warnya masya allah walau kliniknya sekarang kece banget hehe).
Kali ini keluarga kecil kami diuji, jumat (7/2/2025) pesan singkat masuk ke Hpku dari bunda di daycare yang meminta agar Dea pulang lebih awal karena terlihat sesak nafas. Sebenarnya Dea kalau batuk pilek cukup sering sesak nafas (hampir tiap bulan langganan batpil) jadi aku tidak begitu khawatir. Tapi karena kondisiki yg kurang fit, banyak pikiran karena efisiensi 😂 atau ntahlah, dihari yang sama aku justru mengalami sakit asam lambunh yang parah hingga Dea diasuh oleh teman-teman kantorku (terimakasih mbak desy, mbak amel, mbak novi, mbak anif, mbak ika,, Allah yang balas ya, doa baikku untuk kalian)
Yang bikin panik adalah sabtu – minggu Dea mendadak deman hingga 38.9, tidur malamnya rewel, kalaupun dikasih paracetamol suhu Dea masih di 37.7. Akhirnya dengan memang belum ada tanda kegawatdarutan tp memenuhi kriteria keluarga 🤣 (asli ini agak ngarang sih) sakit itu serius perlu diobati kalau 3 hari masih gak sembuh. Maka Senin (10/2/2025) berangkatlah aku dan Dea ke Puskesmas Pancoran untuk berobat.
Aku cukup takjub dengan pelayanan Puskesmas Pancoran terlepas dari mereka lagi peralihan gedung saat itu. Untuk Poli Anaknya cukup memadai banget dimana ada Poli Tumbuh Kembang, Poli Imunisasi, Poli Gizi, Poli Manajemen Terpadu untuk Bayi dan Balita Sakit. Penjelasannya cukup detail, melihat grafik Dea yang ternyata 2 bulan stagnan Dea langsung dirujuk ke Poli Gizi, Test Lab/ Ambil Darah dan Test Mantoux. Kesemua layanan yang diterima Dwa hari itu sebesar Rp. 0,-. Hari itu aku menjadi orang yang bersyukur dengan adanya BPJS, meski dari jaman gadis hingga punya anak, pelayanan BPJS tidak bisa dibilang cepat, setidaknya untuk berobat harus meluangkan waktu seharian, antara memang banyak yang sakit atau sistem yang harus diperbaiki.
Hari Selasa (11/2/2025) kondisi Dea belum membaik dan aku cukup ragu meminumkan obat puyer dari Puskesmas yang ternyata bentuk puyer memang tidak direkomendasikan, selengkapnya baca di https://milissehatyop.org/batuk-pilek-perlu-puyer-racikan/. Aku berkunjung ke Markas Sehat dengan harapan mendapat pencerahan dan jika memungkinkan melakukan vaksin. Hari itu aku bertemu dengan Dr. Wati dan belua menjelaskan "ibu nanti kalau test mantoux yang dibaca bengkaknya ya bukan merahnya, semoga hasilnya negatif karena kan tidak ada kontak dengan pasien TB Aktif". Hari itu saya bisa bernafas lega dan memantau kondisi Deana.
Hari Rabu (12/2/2025) Saya dibuat terkesima dengan cara membaca hasil mantoux anak saya tanpa bulpen tanpa raba (munkin sudah expert kali yak 🤣) hanya berbekal pengaris bening lalu menulis angka 13mm dan merujuk ke RSUD untuk ditangani lebih lanjut oleh DSA. Berbeda sekali ketika saya ke DSA di Markas sehat benar-benar seperti di video, bahkan ditarik garis lurus untuk menentukan bengkak atau indurasinya, bahkan Dr. Apin juga melakukan hal sama hhe mungkin karena mereka sealiran. walau memang hasil yang diperoleh hampir-hampir mirip. Tapi sebagai ibuk kan yang udah dapat spoiler yang diukur bengkaknya kan terkesima dan bingung sama proses yang terlalu cepat tanpa penjelasan "bu ini bengkaknya segini ya" hmm ga usah deh panjang-panjang jelasin kenapa bisa bengkak 🤣
Rabu sore alhamdulillah banget Dr, Windhi mau menunggu keluarga kecil kami untuk membantu membaca ulang test mantoux yang saya masih ragu, bahkan Dr. Windhi membuat catatan yang sangat rapi untuk bisa membantu DSA di RSUD agar bijak dalam mendiagnosis.
Dengan informasi sejelas ini saya datang ke DSA di RSUD di hari Kamis (13/2/2025) yaitu dr. Dion Darius Sp.A dengan sangat berharap karena background pendidikan dan review yang baik di alodokter. Saya sudah terbiasa dengan pelayanan pemerintah yang tidak bisa dibilang cepat, ini memang pedang bermata dua dari sistem birokrasi antara tertib administrasi dan efisien terlepas mungkin memang ada kelalaian/ keterbatasan SDM karena saya lihat alur pendaftaran kurang jelas, penjelasan kurang, masih ngobrol, tapi ya sudahlah. Tapi setelah menunggu 2 Jam lebih, durasi konsultasi kami tidak sampai 10 menit, masih terngiang kata-kata dokter tersebut kurang lebih "Wah ini gizinya sudah buruk, lagsung pengobatan TB saja, mau ambil di puskesmas atau di RS, kalau di Puskesmas siap2 stigma masyarakat ya bu, tapi apapun itu Ibu akan berterimakasih sama saya, dan Indonesia itu nomor 2 penderita TB jadi ya memang begitu"
Dokter sama sekali tidak membuka buku KIA anak saya, angkat stetoskop sekilas juga setelah kakak saya tanya dampak/efek samping obat bagaimana karena inikan pengobatan jangka panjang. Terlepas dari apapun yang terjadi dalam diri Dokter dan sistem yang carut marut tolonglah lebih berjuang lagi demi pasien, ini masalah masa depannya, masalah nyawa, ada tanggung jawab yang bahkan di angkat dalam sumpah profesi kan (sekadar infomasi Dr. Windhi bahkan berulang kali mendengarkan paru Dea, meraba kelenjar dea di belakang telinga sampai menjadi badut dengan boneka, segitu effortnya looh) Dokter hanya menuliskan ala kadar demikian di rujukan, diagnosis tegak tanpa saya tau berapa scoring TB pasti anak saya (walau saya sudah tau dari Dr. Windhi) dan tanpa melihat hasil rontgen looh, bahkan dokter hanya meminta rontgen thorax hingga saya sendiri yang memastikan bolehkah saya tambah Ap Lateral. trus dokter juga bilang hasil rontgen bakal lama 2-3 hari kerja, ketika ke radiologi ternyata sore bisa jadi (yah mungkin disini bukan ranah dokter buat sampai tau administrasi ya),,,Saya usahakan kritik ini akan lebih detail dan tersampaikan ke pihak terkait seperti rumah sakit dan IDAI, berharap jadi pembelajaran untuk kita semua
Hari itu sebagai orang tua yang mengupayakan yang terbaik untuk anaknya mencoba mencari 3rd opinion untuk diagnosis Dea (wkwkw walau sejujurnya aku gak bisa menganggap Dr. Dion memberikan opini sih), kami sudah pasrah jika TB akan menjalankan diagnosis. Akhirnya atas arahan kakakku dan berberkal hasil rontgen pergilah aku dengan kakakku dan disusul suami kami masing-masing ke Dr. Apin . Catatan Dr. Apin memang tidak serapih Dr. Windhi tapi penjelasannya dan alternatifnya sama jelasnya, bahkan dari Beliau aku tahu ada alternatif test lain untuk menguji bakteri TB aktif atau tidak namanya IGRA walau range biayanya 1-2jt
Malam harinya aku menelpon Elsa adik sepupuku yang sebentar lagi akan menyelesaikan studi dan mencoba merangkum sekaligus sedikit membela teman sejawatnya 🤣 (hehe iya caaa, kakak paham kok Dr. Dion udah berusaha cuman caranya aja ga asik buat kakak). Elsa bilang jika dibaca catatan tiga dokter ini memiliki kemiripan arah diagnosis.
Elsa menjelaskan berdasarkan hasil test darah Deana terjadi infeksi ditandai dari meningkatnya limfosit tapi tidak cocok dengan diagnosis asma karena harusnya jika asma kadar eosonofilnya meningkat tapi ini malah 0 (inilah yang membuat alternatif Dr. Apin tidak menjadi pilihan walau beliau menjelaskan kondisi Dea bisa jadi Asma yang terpicu dari Common Cold atau Selesma, jadi intinya Dr. Apin mencoba meminimalisir pemberian antibiotik, karena antibiotik tidak diperlukan jika infeksi dikarenakan virus). Tapi, karena infeksi dan pertimbangan durasi dan efek samping dari TB yang cukup lumayan maka Elsa menyarankan tidak ada salahnya mencoba alternatif Dr. Windhi (dan Dr. Apin juga mengamini untuk masalah rhonki, wheezing, dan mengi biarkan Nakes yang memutuskan, dan jika diingat memang ketika ke Dr. Apin kondisi Dea sedang berusaha pulih makanya mungkin yang terdengar wheezing, karena hasil evaluasi antibiotik juga Dr. Windhi juga mendengar hal yang sama).
Disitu Elsa menjelaskan ada yang namanya diagnosis diferensial/dd yang banyak digunakan dokter spesialis untuk membantu membuat diagnosis akhir saat mengalami gejala yang tidak memiliki satu penyebab yang jelas. ini bukan merupakan hal wajib jadi mungkin Dr. Dion dengan pengalaman dan pemahamannya langsung menegakan Diagnosis TB dan juga melakukan scoring mandiri tapi tidak dijelaskan ke pasien 🤣. Jadi kalau melihat tullisan DD jangan stress mengira mengidap banyak penyakit, melainkan potensi yang kemudian akan diobservasi dan dieliminasi seperti hasil rontgen Dea berikut :
Saat ini kondisi Dea alhamdulilah membaik dengan antibiotik, tapi deana membutuhkan inhaler ventolin karena terkadang masih batuk hingga sesak nafas (saat ini saya masih butuh banyak belajar terkait asma pada anak seumuran dea yang mulainya dari baca tentang asma disini dan juga menunggu assesment apakah Dea termasuk asma yang membutuhkan controller atau bagaimana, insightnya baca disini terkait perbedaan inhaler), bahkan Dr. Wndhi menjelaskan dampak obat asma bagi anak, riset penelitian terkait hingga ada metode inhalasi, dimana kurang lebih penjelasan dampak obat asma itu target yang dicari itu otak dan jantung jadi bisa membuat pusing dan jantung berdebar, pemberian dalam bentuk puyer atau meminum langsung tidak direkomendasikan, lalu ada riset yang menunjukkan kelainan prilaku mengarah agresif pada anak yang sering terpapar obat asma khususnya yang bukan melalui metode inhalasi yang lebih aman, dan untuk anak dapat dibantu dengan spacer/corong tambahan. Selain itu juga menggunakan obat asma disarankan berkumur setelahnya
Sedangkan berkenaan dengan TB ada beberapa PDF yang dapat dibaca sebagai berikut :
Pedoman tata laksana TB pada Anak dari Kemenkes disini atau baca online https://www.tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2024/02/Final-Petunjuk-Teknis-Tata-Laksana-TBC-Anak-dan-Remaja-2023.pdf
Materi terkait TB oleh Dr. Apin disini
Sebenarnya saya sama kakak sedikit pensaran, kenapa kalau TB pada anak itu ketika menunjukkan gejala dieliminasi dulu terkait komponen kontak dengan TB aktif yang punya penilaian tinggi sebelum anak dilakukan test mantoux (kasihan Dea sudah lebih dari 2 minggu masih ada bekasnya dan suka digaruk sama tunjuk2). Soalnya ada pengalaman teman kak dhana.
Saya dan suami test dahak atas inisiatif kami pribadi dan bertanya ke petugas puskesmas karena dari Dr. Dion sama sekali tidak ada arahan untuk itu. Bahkan Dokter di Puskesmas lebih membantu dalam menjelaskan TB Aktif sama TB laten dan pengobatan yang ditempuh juga beda, trus juga bedanya test mantoux dan Igra. Sama petugas puskesmas saya bahkan ditunjukkan infografis untuk mempermudah penjelasan
Saya tutup tulisan ini dengan upaya mencoba memahami nakes dan administrator di Rumah Sakit sudah berjuang untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik ditengah rumitnya sistem BPJS atau lainnya. Namun tolong berusaha lebih giat lagi karena ini masalah keberlangsungan hidup, masa depan, dan nyawa. Tidak semua orang seberuntung saya bisa mencari 2nd dan 3rd Opinion DSA lain, tidak semua orang bisa membiayai rangkaian test selain yang disediakan pemerintah, bayangkan mereka (khususnya orang tua dengan anak bergejala) sudah datang langung menjalankan pengobatan TB padahal mungkin bisa dengan cara lain, kalau kata Dr. Apin untuk TB pada anak itu rawan overdiagnosis atau sebaliknya , bisa jadi kemudian dirasa selesai pengobatan selama berbulan-bulan tapi masih mengalami masalah yang sama apa gak kebingungan, kita juga gak bisa memastikan bagaimana obat tersebut bereaksi pada tubuh anak dan kedepannya seperti apa kan?
Akhirnya tulisan ini selesai dan dipost setelah selesai memberikan ulasan di Google dan juga mengirimkan kronologi lengkap melalui email ke pihak terkait. Saya aslinya orang yang adem ayem banget kok, tapi ntah kenapa untuk masalah ini saya rasa perlu speak up, apalagi dikatakan Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia dalam hal jumlah kasus TB, dengan kontribusi mencapai 10 persen dari total kasus global.
Semoga kita semua sehat selalu dan dijaga oleh tuhan YME, semangat mengabdi pada nakes, terimakasih untuk pelayanan yang diberikan💪🏻