Dulu aku memuja kesepian seperti orang memeluk musim yang tak kunjung selesai.
Aku menganggap sunyi adalah rumah, dan sepi adalah satu-satunya tamu yang tidak pernah berkhianat. Aku berjalan sendiri, duduk sendiri, tertawa seperlunya, lalu pulang membawa percakapan yang hanya terjadi di dalam kepala.
Waktu itu aku pikir kesepian adalah tujuan.
Ternyata ia hanya jembatan.
Sedikit demi sedikit aku belajar bahwa yang kucintai bukanlah sepinya, melainkan ruang yang diberikannya. Ruang untuk berpikir tanpa gaduh, memilih tanpa tekanan, dan tumbuh tanpa harus menjelaskan diri kepada siapa pun.
Kesepian perlahan berubah wujud.
Ia bermetamorfosis menjadi kebebasan.
Kini aku tidak lagi lari dari keramaian, tetapi juga tidak memohon untuk diterima. Aku tidak menolak kehadiran orang lain, hanya tidak menggantungkan hidup pada keberadaan mereka.
Jika ada yang datang, aku persilakan duduk.
Jika ada yang pergi, aku persilakan melangkah.
Sebab aku telah belajar bahwa kebebasan bukan tentang tidak memiliki siapa-siapa, melainkan tentang tetap utuh meski tidak memiliki siapa-siapa.
Dan pada akhirnya, sang pemuja kesepian itu telah tiada.
Yang tersisa hanyalah seorang pengembara yang mencintai langit tanpa ingin memilikinya, mencintai laut tanpa ingin mengurungnya, dan mencintai manusia tanpa harus menggenggamnya.
Karena ada jenis cinta yang tidak meminta untuk tinggal.
Ia hanya ingin bebas, lalu tetap memilih untuk kembali.
@gramabiru | Sang Pemuja Kebebasan